Mengubah Satu Anak, Mengubah Generasi

Mengubah Satu Anak, Mengubah Generasi

  Kamis, 30 June 2016 10:06
SENTUHAN HATI: Veronica Colondam di kantornya yang nyaman, di kawasan Kedoya, Jakarta Barat, Jumat (24/6). IMAM HUSEIN/JAWA POS

Berita Terkait

Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) Foundation mendapatkan peringkat ke-49 dari Top 500 NGOs World oleh NGO Advisor. Raihan tersebut merupakan buah ketulusan dan kegigihan selama 17 tahun sejak awal berdiri pada 1999. Founder YCAB Veronica Colondam mengisahkan perjalanan penuh kesan yang bermula dari satu titik: panggilan hati. 

Nora Sampurna, Jakarta

Awal 2013 di kawasan Pondok Bambu, Jakarta Timur. Seorang lelaki muda dengan bahu tersampir karung untuk memulung. Laki-laki bernama Muntaka itu berangkat ke Jakarta dari tempat asalnya di Indramayu, Jawa Barat, untuk membantu ayah dan ibunya yang juga bekerja menggamit barang di onggokan sampah. Namun, dia menyimpan tekad untuk mencari informasi pendidikan dengan angan mendapat pekerjaan yang lebih baik. 

Suatu hari, di sela-sela aktivitasnya memulung, Muntaka melihat Rumah Mekanik YCAB yang membuka pendaftaran murid baru. Karung dia gantungkan di pagar. Dengan semangat memuncak, Muntaka mendaftar. Pagi dia memulung, siang belajar di Rumah Mekanik. Siapa sangka, empat bulan kemudian dia menjadi lulusan terbaik. Lalu diterima bekerja di perusahaan otomotif besar. Mimpi Muntaka pun bertambah. Dia bertekad menabung hasilnya bekerja untuk kuliah. 

Veronica Colondam, founder YCAB, dibuat terharu melihat kegigihan Muntaka. Ketika menjadi pembicara di sebuah pelatihan kewirausahaan yang dihadiri 2.000 anak muda, Vera –sapaan akrab Veronica– menceritakan kisah perjuangan Muntaka. Tak disangka, di tengah ribuan peserta di ruangan itu, ada satu orang yang mengangkat tangan sambil meloncat-loncat agar terlihat Vera dari panggung. Ternyata itu adalah Muntaka! ”Saya ajak ngobrol dari panggung. Dia menjawab dengan percaya diri di antara ribuan orang. Saya sampai merinding terharu luar biasa,” ungkap Vera mengingat hari istimewa tersebut. 

Betapa pendidikan mampu mengubah seseorang. Dari seorang anak yang merasa minder dan enggan menatap mata lawan bicara karena perasaan rendah diri sebagai pemulung, dalam empat bulan bisa berubah. Kemampuan menjadi mekanik yang didulang dari ketekunan belajar telah mengubah menjadi pribadi yang penuh percaya diri. Muntaka kini berkuliah dan menyimpan harapan suatu saat menjadi pengusaha yang memiliki bengkel sendiri.

Potret kegigihan Muntaka menjadi bagian dari 17 kisah dalam buku yang akan terbit dalam perayaan usia ke-17 YCAB Foundation Agustus mendatang. Lewat buku, Vera ingin berbagi inspirasi bahwa kita bisa menjadi extension of goodness. Masih banyak kisah inspiratif lainnya. 

Misalnya Kristanti yang tadinya babysitter, enam bulan belajar di Rumah Belajar YCAB-Samsung, kini berkarir di perusahaan elektronik terkemuka di divisi technical engine. Atau Bayu yang drop out saat SMP, setelah lulus dari Rumah Belajar YCAB, sudah lima tahun bekerja di hospitality industry. Juga seorang anak petani yang setelah belajar di Rumah Batik YCAB mampu menghasilkan karya batik dan laku sampai Rp 23 juta.

Deretan keberhasilan dari para anak didiknya itu belum membuat perempuan kelahiran Medan, 12 Februari 1972, tersebut menyatakan bahwa YCAB sudah sukses. ”Kami masih terus berjuang mencapai itu,” ucap perempuan yang terlihat lebih muda daripada usianya tersebut saat berbincang di kantornya yang nyaman, di kawasan Kedoya, Jakarta Barat, Jumat (24/6). Di YCAB, beneficiary diarahkan untuk menjadi mandiri. Dalam kalimat Vera, mengubah yang mau berubah, yang mau berjuang. 

”Sebab, kita tidak bisa paksa orang untuk berubah. Tapi, kita fasilitasi. Ini ada kelas mekanik, ada kelas jahit, yang mau belajar, ayo,” tuturnya. Pendidikan dibuat terjangkau dengan biaya hanya Rp 10 ribu per bulan. Para pengajar merupakan guru-guru dengan skill spesifik sesuai kelas yang diberikan.

Menjelang ulang tahun ke-17, YCAB mendapat ”kado” lebih awal. Yaitu meraih ranking ke-49 dari Top 500 NGOs World yang dikeluarkan NGO Advisor, Jenewa, Swiss. Dalam dua tahun sebelumnya, YCAB berada di peringkat ke-74, kemudian 63. Peningkatan peringkat YCAB dalam peta NGO (non-governmental organization) global tersebut mengandung makna penting. Bukan hanya bagi YCAB, tapi juga Indonesia. 

Dalam daftar tersebut, terlebih di Top 100, sangat sedikit yang berasal dari Asia Tenggara. Dan YCAB adalah satu-satunya dari Indonesia. ”Peringkat ini membawa Indonesia ke peta dunia. Bukan hanya tentang YCAB,” ujar Vera. YCAB merupakan organisasi nonprofit pertama di Indonesia yang mendapatkan ISO 9001 pada 2008. Apa kuncinya sebuah yayasan bisa sustain hingga 17 tahun? ”Kuncinya ya itu, karena mindset sejak awal, kita mau sustain, itu yang jadi penggeraknya,” ucap istri pengusaha Pieter Tanuri tersebut, lantas tersenyum. 

Saat ini YCAB berfokus pada tiga pilar: pendidikan, kesehatan, dan kewirausahaan sosial. Ketika mendirikan YCAB pada 13 Agustus 1999, Vera memulainya dengan pilar kesehatan. Satu tahun kemudian, unit bisnis pertama berdiri. Pada 2003 menambah pilar pendidikan dan pemberdayaan ekonomi pada 2005, tahun-tahun berikutnya berturut-turut unit bisnis baru bermunculan. ”Unit bisnis itu yang bisa membantu dari profitnya serta share service antara yayasan dan PT,” bebernya.

Bagaimana Vera merancang YCAB merupakan langkah visioner. ”Tapi, 17 tahun lalu saya tidak merasa itu visioner. Saya melakukannya untuk survive dan sustain,” ucap ibunda tiga anak (Phil, 21, Adellene, 19, dan Joey, 15) tersebut. Periode organisasi mulai survive, sustain, kemudian legacy. YCAB telah membuktikan mampu bertahan dan terus berkelanjutan. Tahap ketiga legacy, salah satunya, dicapai melalui buku yang nanti menjadi ”jejak” YCAB hingga kelak.

Melalui ketiga pilarnya, hingga 2015 YCAB telah menjangkau lebih dari 3 juta anak muda di 77 kota 26 provisi Indonesia. Namun, tugas belum selesai. Vera menargetkan pada 2020 atau empat tahun dari sekarang sudah menjangkau 5 juta orang. Salah satu langkah untuk mencapainya, dalam waktu dekat YCAB masuk lewat digital sehingga daya jangkau lebih besar dan cost-nya lebih kecil. 

”Tapi, digital hanya menyentuh kalangan tertentu dan kota-kota besar. Bagaimana yang tidak punya device-nya? Maka, pembelajaran face-to-face di Rumah Belajar terus dilakukan,” papar alumnus communications Imperial College London serta London School of Hygiene and Tropical Medicines itu.

Pilar kewirausahaan sosial merupakan ”pengembangan” dari pilar pendidikan. Pemikiran tersebut muncul ketika Vera melihat bahwa mendirikan Rumah Belajar, memancing anak-anak yang putus sekolah untuk mau kembali bersekolah, saja belum cukup. ”Kalau orang tuanya nggak support, anak-anak itu nggak balik ke sekolah. Ada yang alasannya bantu ortu kerja, jualan, dan lain-lain,” beber Vera. 

Dari fenomena tersebut, terbentuklah pilar ketiga YCAB. Orang tua diberi ”replacement fund” supaya ”rela” anaknya bersekolah. Berupa pinjaman modal usaha dengan syarat. ”Syaratnya itu tadi, anaknya boleh sekolah,” ucap Vera. Program pembiayaan mikro tersebut rupanya terinspirasi dari sang putri Adellene. Pada 2009, saat baru berusia 12 tahun, Adellene mendapat tugas community project dari sekolah dan membuat microfinance untuk ibu-ibu di Desa Leles, Tangerang. Vera kemudian merancang koperasi yang memberikan program pinjaman kecil dengan cicilan mudah itu. Pinjaman berkisar Rp 500 ribu sampai Rp 5 juta dikembalikan secara mingguan dalam jangka waktu 22 minggu. 

Salah satu kisah sukses ibu yang mendapatkan microfinance dari YCAB adalah Nani, ibu penjual sayur yang memiliki 12 anak. Kini dia menjadi pemasok untuk penjual-penjual lainnya. Dari mengangkut sayur dengan motor, sekarang punya truk. Putrinya, Ita, bisa berkuliah dan saat ini juga memiliki bisnis penyewaan kostum tari dengan pinjaman modal dari koperasi YCAB. Ita pun mampu mengambil asuransi pendidikan untuk kedua anaknya. ”Ini bukti betapa pendidikan bisa mengubah pola pikir. Mengubah satu anak, mengubah generasi,” papar peraih Fellow of Asia Society’s 21 Young Leaders (2007) dan Globe Asia’s Most Powerful Woman in Indonesia itu. 

Bagi Vera, bukan sekadar program yang menjadi hal penting. Tetapi juga dampak setelah itu apa. ”Suatu yayasan menyediakan pendidikan untuk anak sekolah, itu bagus. Tapi, kalau tidak ditrek setelahnya bagaimana? Bisa-bisa hanya menciptakan pengangguran. Harus dikawal terus,” tutur dia. 

Next, Vera ingin membuat penelitian: sepuluh tahun ke depan, bagaimana kesejahteraan mereka? Setelah mendapatkan akses pendidikan dan ekonomi inklusi. ”Kami ingin mencari academic partner yang punya misi sama dengan kami, memajukan anak bangsa, sebagai third party untuk membuat riset mengenai dampak tersebut,” ucapnya. Serta mengembangkan job portal yang khusus menyasar lulusan SMA/SMK sehingga memberikan akses yang lebih luas untuk seluruh anak Indonesia, termasuk lulusan pendidikan keterampilan untuk mendapatkan kemandirian. 

Selain di Indonesia, YCAB memiliki international program, di antaranya di Myanmar, Afghanistan, Pakistan, Uganda, Mongolia, dan Laos. Jenis program yang dikembangkan antara lain kelas menjahit, kelas komputer, hingga pengembangan atlet basket perempuan (di Afghanistan). Yang sampai saat ini masih berjalan adalah program di Laos dan Myanmar. Berikutnya, YCAB membidik Vietnam dan Kamboja. Fokus di region Asia Tenggara dulu selain Indonesia. (*/c9/sof)

Berita Terkait