Menguak Cerita Rakyat Sipatn Lotup . Lolongan Anjing ‘Penemu’ Sipatn Lotup

Menguak Cerita Rakyat Sipatn Lotup . Lolongan Anjing ‘Penemu’ Sipatn Lotup

  Selasa, 23 February 2016 09:21
HUTAN: Tepat disebelah kiri kolam air panas ini masih terdapat pohon-pohon tua, sisa hutan belantara. Masyarakat setempat percaya dilokasi itu si anjing melolong dan menemukan sumber air panas yang ada tepat dibawahnya. SUGENG/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Dusun Peruntan, dulunya merupakan kawasan hutan belantara yang ditumbuhi pohon-pohon besar. Penemuan Ai Sipatn Lotup sendiri terbilang unik. Dipercaya karena lolongan anjing dari dalam hutan belantara itulah sebagai awal ditemukannya sumber air panas yang sekarang menjadi aset wisata di daerah tersebut.  SUGENG GONDRONG, Jangkang

PERUNTAN, adalah nama sejenis pohon buah. Kebanyakan orang menyebutnya buah peluntan. Pohon inilah yang menjadi cikal bakal penamaan daerah ini. Dulu, warga yang dipercaya pertama kali datang ke daerah itu berasal dari salah satu daerah di Mukok. Pada masa itu, warga tersebut menemukan sebuah sungai. Tidak jauh dari sungai itu terdapat sebuah pohon berukuran besar, batangnya lurus dan tinggi menjulang ke atas.

Buah pohon itu, berbentuk bulat. Dibagian luarnya terdapat rimbai-rimbai agak sedikit panjang. Karenanya, menurut cerita warga setempat penamaan daerah mereka berasal dari nama pohon dan buah itu. “Cerita dari beberapa orang tua kami begitu. Peruntan ini nama pohon yang juga menghasilkan buah. Kalau sekarang orang bilang Buah Peluntan,” cerita pria beranak tiga, Lukas Singku yang juga warga setempat.

Dari cerita para tetua dulu, kata dia, kawasan ini mulai ditempati sekitar tahun 1953. Semakin lama, semakin bertambah banyak sampailah dengan sekarang. Nama daerah ini masih tetap sama seperti dulu. Penemuan sungai air panas ini memang belum diketahui secara pasti berkaitan atau tidak dengan penamaan daerah ini. Namun, menurut cerita, Ai Sipatn Lotup ini ditemukan kira-kira setahun setelah adanya warga yang bermukim dikawasan tersebut.

Zaman dulu, warga memang kerap berburu binatang didalam hutan. Sampai pada satu waktu, ada dua warga bernama Kek Ria (bapak) dan Banteng (anak) pergi memasang bubu dibagian hulu Sungai Uru. Saat itu mereka membawa seekor anjing peliharaan. Tengah asik memasang bubu, si anjing ini kemudian pergi disekitar hutan belantara.

Si bapak dan si anak ini tetap berada ditempat semula. Hanya anjingnya saja yang pergi. Saat tengah asik memasang bubu dihulu sungai, anjing mereka melolong seperti menemukan sesuatu. Awalnya mereka tidak terlalu menggubris. Namun, karena lolongan anjing itu tidak berhenti. “Pikir mereka ngapa anjing tu melolong terus.” Akhirnya dua beranak ini mencari asal lolongan anjing itu dan menyusulnya.

Akhirnya sampailah dua beranak ini disuatu tempat, mereka melihat anjingnya itu berada dipinggir sebuah aliran sungai yang membentuk kolam. Anjingnya itu masih saja melolong. Setelah diamati seksama, mereka melihat seekor kijang yang mati didalam air itu. Si bapak kemudian hendak mengambil kijang itu. Tetapi, saat menyentuh airnya ternyata panas.

Dengan mencari akal, kijang yang mati itu berhasil dinaikkan. Anehnya, daging kijang itu sudah masak karena terendam air kolam tersebut. Warga ini pun kemudian pulang ke rumah dengan membawa serta anjingnya. Sampai dikampung kediamannya, si bapak ini menceritakan kepada warga setempat yang akhirnya beramai-ramai pergi ke sumber air panas itu. “Jadi Sipatn Lotup inilah yang pertama kali ditemukan oleh tetua kami disini. Ya sekitar tahun 1954 gitulah kalau menurut ceritanya,” kata pria 51 tahun ini yang saat ditemui harian ini bersama dengan empat warga lainnya Sabtu lalu.

Setelah warga setempat tahu dan percaya, mereka kemudian membersihkan area sekitar lokasi sumber air panas itu. Dalam waktu yang lama, informasi penemuan sumber air panas ini menyebar kedaerah lain termasuk ke kota.

Dia menceritakan, setelah informasi ini sampai ke kota, pernah ada warga disana yang datang kesini untuk berobat selama tujuh hari tujuh malam. “Jadi dia datang dengan beberapa orang untuk Begadong yang artinya berobat menurut bahasa masyarakat dayak setempat. Kena sakit kulit waktu itu mereka ni. Setelah kesini penyakitnya sembuh,” ungkap Singku.

Sampai sekarang banyak warga dari berbagai daerah datang ke Sipatn Lotup bukan hanya untuk kepentingan wisata saja. Banyak juga yang datang untuk berobat dan penyembuhan penyakit. Makanya, lanjut dia, kawasan ini dijaga betul keasliannya. Dan ada sejumlah larangan yang tidak boleh dilakukan oleh pengunjung termasuk mengotori air panas tersebut.

Sebelumnya, diceritakan bahwa lokasi sumber air panas ini ada dua tempat. Dibagian hulu, jika pengunjung ingin tahu lebih jauh, ada sumber air panas lainnya yang sudah tidak terawatt. Airnya juga sudah mengering. Rumput-rumput liar juga sudah menutupi kolam tersebut. Itulah yang dinamakan Ai Sipatn Buruk. Dari dalam kolam menimbulkan bau menyengat yang tidak mengenakkan.

Menurut cerita Singku, kolam itu kini tidak lagi dikunjungi. Sebabnya, sudah tidak ada lagi airnya. Jika pun ada sudah tidak panas seperti Ai Sipatn Lotup yang sampai sekarang tetap panas. Anehnya, sumber air panas itu berpindah tempat ke tengah sungai. Sayangnya, tidak ada yang mengetahui cerita jelasnya tentang perpindahan sumber air panas itu. Tidak banyak yang bisa digali tentang Ai Sipatn Buruk ini. Warga setempat saat ditanya juga tidak mengetahui secara jelas. Mereka hanya tahu bahwa sumber air panas didaerah itu ada dua yakni Ai Sipatn lotup dan Ai Sipatn Buruk.

 

Tradisi Buang Koin

Ada kebiasaan unik bagi para pengunjung di Ai Sipatn Lotup, ya tradisi melempar koin di kolam air panas. Tidak diceritakan secara gambling mengenai kebiasaan ini. Tetapi menurut kepercayaan masyarakat setempat, lempar koin ini dilakukan sebagai pengeras bagi mereka yang ingin berobat dan minta penyembuhan dari air tersebut. “Kata orang sini itu pengeras. Tapi itu bagi mereka yang mau berobat atau minta penyembuhan. Saya kurang begitu tau pasti kenapa tradisi ini dilakukan,” jelasnya.

Bagi mereka yang mau penyembuhan, setelah melempar koin barulah mereka turun ke kolam. Ditengah kolam terdapat tiga batu yang memang sudah ada. Disitulah mereka berdiri dan mengambil air atau mengoleskan air ke bagian kulit yang terkena penyakit. Ada juga yang membawa pulang airnya untuk diminum. “Ada juga yang mengambil airnya untuk dibawa pulang. Pernah juga ada yang minum airnya disini,” ceritanya.

Tradisi buang koin ini sampai sekarang masih dilakukan. Jika dilihat lebih kedasar air, maka akan banyak terlihat koin atau uang logam yang ada didalam air. Namun, lempar koin ini hanya untuk bagi pengunjung yang punya hajat tertentu saja. Bagi pengunjung yang hanya berekreasi tidak harus melakukan lempar koin di kolam tersebut. (bersambung)

 

Berita Terkait