Mengintip Potensi Budidaya Madu Kelulut di Siantan Hilir

Mengintip Potensi Budidaya Madu Kelulut di Siantan Hilir

  Senin, 12 March 2018 11:00
BUDIDAYA KELULUT : Pemilik usaha saat melakukan pengecekan lokasi budidaya kelulut di Kelurahan Siantan Hilir, Kecamatan Pontianak Utara. SITI SULBIYAH/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Ingin Hadirkan Madu dalam Kemasan Ekonomis

Belum banyak yang membudidayakan madu kelulut. Padahal peluangnya sangat besar, lantaran banyaknya khasiat yang ditawarkan oleh madu jenis ini. Harga jualnya juga cukup tinggi, berkisar Rp350 ribu satu liter.

SITI SULBIYAH, Pontianak

SIANG itu, Sabtu (11/3) adalah jadwal bagi Warsidah, seorang dosen Universitas Tanjungpura, berkunjung ke lokasi budidaya madu kelulut miliknya. Lokasinya tidak jauh, masih di dalam kota juga. Dari jalan Budi Utomo, masuk ke Jalan Dharma Putra Dalam.  Letaknya tak jauh dari simpang jalan, hanya puluhan meter saja. Belok kanan sedikit tidak jauh dari SD Negeri 38 Kelurahan Siantan Hilir, Kkcamatan Pontianak Utara, lokasi budidaya sudah ditemukan. Letaknya tepat berada di pemukiman warga.

Tepat di bawah pohon rindang, ada 67 sarang lebah kelulut jenis Trigona Laeviceps, yang dibudidayakan di tanah sekira 8x8 mater itu. Di seberang pohon dibangun pagar yang terbuat dari atap daun kelapa. Di sisi kanan pohon itu dipagari jala, sedangkan di sisi kirinya, terdapat kandang ayam, sekaligus berfungsi sebagai pagar. “Tempat budidaya kelulut ini harus teduh, jangan sampai terlalu panas karena cahaya matahari,” ungkap Warsidah.

Usaha budidaya kelulut itu sudah berjalan sekira tiga bulan yang lalu. Meski terbilang singkat, namun dia sudah bisa menikmati hasilnya. Panen pertama menghasilkan kira-kira 700 ml. Sekarang setiap dua minggu sekali, kelulut sudah bisa dipanen. “Rentangnya sekitar dua minggu dari satu kali penen ke panen berikutnya,” katanya.

Saat ini dia berencana untuk menanam berbagai jenis bunga di lokasi budidaya. Hal ini sangat penting agar kelulut tidak perlu jauh-jauh mencari makanan. Apalagi saat musim hujan, yang membuat kelulut enggan bepergian jauh. Asupan makanan kelulut juga menjadi salah satu faktor untuk menghasilkan kualitas madu yang bagus.

Madu kelulut memiliki rasa yang unik. Idealnya, madu memiliki rasa yang manis. Namun berbeda dengan madu kelulut, selain manis, rasa asam seperti asam jawa juga mewarnai citarasa madu ini. Selain itu, madu ini kekentalannya seperti air pada umumnya. Berbeda dengan jenis madu lain yang lebih kental.

Di balik rasanya yang asam, madu kelulut memiliki sejumlah khasiat. Menurut Warsida, madu kelulut sangat cocok bagi mereka yang ingin mengurangi berat badan alias diet. Madu ini pun dapat di konsumsi oleh siapa saja.

Potensi usaha budidaya medu kelulut ini cukup besar. Sudah ada memang di Kalimantan Barat yang membudidayakanya. Hanya saja, dari segi pengepakan, dinilai masih kurang. Rerata, penjual madu kellulut, menjualnya dalam satuan liter yang harganya bisa mencapai Rp350 ribu per liter. “Madu kelulut terkesan mahal karena dijual per liter,” ucapnya.

Karena itu, dia melihat ada potensi untuk mengemas madu kelulut dalam ukuran yang lebih kecil. Harganya juga jauh lebih ekonomis sehingga dapat dijangkau oleh konsumen. Mulai dari ukuran 50 ml hingga 100 ml. Dari segi harga pun menurutnya konsumen tidak akan keberatan. Bahkan dia berencana mengemasnya dalam satuan sachet, sehingga mudah dibawa kemana saja. “Kan mudah kalau ada kemasan sachet, mudah dibawa. Bisa jadi pelengkap minuman. Kami dari pengusaha juga sebenarnya lebih untung,” ucapnya.

Saat ini, meski masih berfokus pada kualitas madu kelulut yang diharapkan, namun Warsida juga mencoba menawarkan sejumlah kerjasama dengan berbagai pihak guna pengembangan usahanya itu. Selain itu, testimoni-testimoni juga dia perlukan dari berbagai pihak agar mendapatkan saran dan masukan guna memperbaiki usaha.(*)

Berita Terkait