Mengintip Kesehatian Para Pawang dan Gajah di Taman Nasional Way Kambas

Mengintip Kesehatian Para Pawang dan Gajah di Taman Nasional Way Kambas

  Sabtu, 30 January 2016 08:47
Foto TRi / Jawa Pos

Butuh waktu tiga bulan buat pawang baru agar bisa memahami benar gajah. Pada hari-hari pertama, pasti mengalami ditendang atau diseruduk dulu. Begitu sudah dekat, saat si pawang sedih pun, si gajah akan berusaha menghibur. LUSIA ARUMINGTYAS, Lampung

PADA detik-detik genting itu, yang ada di benak Ali Hendra hanya bayangan kematian. Sebab, di atas badannya yang tengah telentang tak berdaya berdiri Salmon, gajah berbobot 2,7 ton. Sekali injak, tubuhnya pasti tak akan mampu menanggung lagi.Tapi, Salmon, yang sebelumnya begitu agresif dengan menendang Ali sampai jatuh, tiba-tiba terdiam. Perlahan ia menarik badannya dari atas tubuh sang pawang. Ali pun bangun. Salmon yang telah patuh lagi itu segera bisa dia kendalikan lagi.

”Sejak saat itu, kalau Salmon lagi berahi, saya gembalakan bareng-bareng yang lain,” kenang Ali tentang pengalaman beberapa tahun silam tersebut sembari menunjukkan bekas luka di tangan dan pelipis.

Trauma memang masih tersisa, tapi sama sekali tak ada dendam. Bagi pria yang akrab disapa Abah itu, gajah tipe petarung tersebut tetaplah belahan jiwanya. Dua dekade sudah dia merawat Salmon, mulai bangun tidur sampai ketika gajah berumur 21 tahun itu harus tidur lagi.  

”Kisah cinta” serupa Abah-Salmon itu dengan gampang bisa dijumpai di tiap sudut Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung. Ada 63 gajah yang hidup bersama para pawang dalam jumlah sama. Hidup bersama dalam 10–24 jam.

”Kalau pagi, jam tujuh kami sudah datang. Kalau kami piket, ya 24 jam bersama (gajah, Red),” jelas Koordinator Pawang TNWK Mahfud Handoko.

TNWK merupakan gerbang konservasi gajah di Indonesia. Luas area khusus kandang gajah mencapai 4 hektare. Terbagi dua, kandang anakan dan gajah dewasa yang dipisahkan oleh aliran sungai.

Tak ada jeruji besi. Hanya ada tanah lapang dengan patok besi untuk menyangkutkan rantai.

”Setiap gajah satu patok. Tidak ada ukuran tertentu,” kata Mahfud.

Setiap pagi seluruh gajah membersihkan tubuh layaknya manusia bersama pawang masing-masing. Satu per satu pawang bergilir mendatangi kandang, melepaskan rantai, dan membawa asuhan masing-masing ke bak minum yang berukuran sekitar 4x5 meter.

Berkeliling sebentar, kemudian gajah diajak mandi di kolam yang mirip danau mini. Kamis pagi tiga pekan lalu (7/1), bersama dengan para pawang lain, dengan penuh kasih sayang Mahfud membawa mereka menyelam ke kolam hingga hanya terlihat setengah kepalanya.

Dengan tepukan tangan di atas kepala dan bahasa gumaman, para gajah itu manut. Sesekali air pun disemburkan oleh belalainya. Saat gajah menunduk, Mahfud menggosok punggung, dari satu gajah ke gajah lain secara bergilir. Tak lebih dari sepuluh menit, kaki-kaki raksasa tersebut melangkah keluar dari sungai. Segar. Mereka pun siap digembalakan. ”Bagi kami, menjadi pawang adalah panggilan hidup. Siapa lagi kalau bukan kita yang menjaga mereka?” ungkapnya.

Sebagaimana relasi sesama manusia, kesehatian para pawang dengan gajah tentu saja tidak datang dengan tiba-tiba. Bahkan, datangnya juga tidak mudah. Awalnya, mereka mesti jadi helper (semacam asisten pawang) dulu.

Lamanya tidak tentu, bisa tiga bulan sampai satu tahun. Bahkan, ketika sudah naik pangkat menjadi pawang pun, tantangan masih menghadang. Pada hari-hari pertama, hampir semua pawang baru pasti mendapat ”kenang-kenangan” dari gajah yang akan dirawat. Entah itu ditendang atau diseruduk.

Butuh waktu setidaknya tiga bulan untuk masa penjajakan. ”Seperti pacaran, harus pedekate, saling mengerti dan memahami,” papar Mahfud.

Nah, ketika chemistry sudah terbangun, baru kesepahaman kedua pihak terbangun. Bukan hanya si pawang yang memahami benar karakter si gajah, si gajah pun memahami suasana hati si pawang. Misalnya, ketika si pawang sedih, ia akan berusaha menghibur. ”Contohnya, belalai sesekali disapukan ke kaki pawang saat berada di atas punggungnya,” kata Mahfud.

Kedekatan seperti itulah yang membuat Khamdani belum sepenuhnya bisa melupakan Rini. Kamis itu matanya kembali berkaca-kaca ketika mengenang gajah yang dirawatnya 21 tahun yang meninggal tahun lalu tersebut.

Rini menutup mata selamanya gara-gara tumor. ”Berat tumor di pangkal ekor sampai 3 kg,” kenang pria berusia 41 tahun yang kini merawat gajah lain bernama Sugeng tersebut.

Berat badan Rini pun turun seiring dengan penyakit tumor yang ternyata menjalar di tubuhnya. Beberapa kali operasi tak mampu menyelamatkan nyawa Rini. Menjelang Lebaran tahun lalu, Rini pergi.

Yang merobek hati Khamdani, karena penyakit itu, Rini tak bisa dikubur. Sebab, dikhawatirkan masih bisa menularkan penyakit. Jadilah jenazah gajah berbobot 3 ton tersebut harus dibakar.

”Sedih, Mbak, nggak bisa lupa sama kemanjaannya,” tuturnya sembari mengusap mata.

Di luar yang telah dirawat, TNWK yang seluas 1.250 hektare itu juga menampung gajah-gajah tersesat ataupun yang terkena konflik dengan masyarakat. Di sana, para gajah itu tak hanya dijinakkan, tapi juga diajari keterampilan yang pada dasarnya mereka miliki.

Nah, yang bertugas menemukan dan menjinakkan gajah-gajah liar yang tersesat itu adalah ERU (Elephant Response Unit).

ERU merupakan tim gajah yang memang diperuntukkan kegiatan patroli di sekitar taman nasional. Itu semacam pasukan elite. Jumlahnya hanya 16 ekor. Salmon salah satunya. ”Banyak gajah liar yang sering kali mengganggu permukiman dan merekalah yang menghadang,” jelasnya.

Kombinasinya adalah seekor gajah betina dan sisanya jantan. Ini demi keselarasan. Betina menjadi penjaga di antara para jantan. ”Kalau semua jantan, terkadang terjadi petarungan. Sebagai pemanis gitu lah,” ungkap Abah.

Karena pasukan elite, anggota ERU otomatis para gajah pilihan. Yang jantan, misalnya, memiliki kemampuan bertarung. Salmon yang terhebat di antara kawanan itu. Meski secara postur bukan yang terbesar, Abah mengisahkan, asuhannya itu pernah dalam sekali duel menghadapi 72 gajah liar.

Tentu saja duelnya diikuti sang pawang juga, yang biasanya hanya bersenjata ganco. ”Sudah pasti tegang. Tapi, kita harus yakin agar gajah juga yakin,” ucap dia.

Hari beranjak sore, satu per satu gajah bersama pawang masing-masing pun beranjak pulang. Sebelum kembali ke kandang, mereka mampir untuk mandi terlebih dahulu. Badan bersih, peraduan pun menanti.

Ketika belahan jiwa mereka sudah tidur di kandang, barulah para pawang bisa pulang dengan tenang. Satu hari telah terlewati. ”Lakukan semua dengan hati, pasti hidup juga jadi tenang,” kata Mahfud. (*/c11/ttg)