Menginspirasi Wanita Tionghoa Lewat Sastra

Menginspirasi Wanita Tionghoa Lewat Sastra

  Selasa, 8 December 2015 08:10
Hanna Fransisca, Sastrawan

Berita Terkait

Menciptakan banyak puisi, merangkai banyak cerpen, menulis esai dan mengajak orang untuk menulis sudah lama dilakukan oleh Hanna Fransisca. Wanita kelahiran Singkawang, 36 tahun lalu ini dikenal sebagai sastrawan nasional. Tulisannya juga banyak di muat di berbagai media besar di Indonesia.Oleh : Marsita Riandini

Mengenakan kebaya berwarna ungu yang dikombinasikan dengan rok bewarna hitam, Hanna tampil untuk memberikan motivasi kepada puluhan sastrawan Kalimantan Barat. Kesederhanaan wanita keturunan Tionghoa ini membuat banyak orang mengaguminya. “Saya memang sering mengenakan batik dan kebaya dalam berbagai kesempatan. Tujuannya untuk memotivasi wanita Tionghoa lainnya bahwa kita tidak kalah cantik loh mengenakan kebaya dan batik. Bahkan sekarang saya juga sering mengenakan pakaian panjang, yang biasa digunakan ibu-ibu muslimah. Hanya saja saya tidak memakai kerudung,” ucap dia yang ditemui secara eksklusif oleh For Her disela acara Dialog Sastra Kalbar, yang berlangsung 27 November 2015 di Hotel Merpati Pontianak.

Hanna kecil terlahir dalam keluarga yang tidak punya. Saat menuntut ilmu di sekolah dasar, tak ada uang jajan yang bisa ia harapkan dari orang tuanya. Ketika jam istirahat tiba, ia pun berlari ke perpustakaan sementara teman-temannya jajan ke kantin. “Saya kecil tidak mendapatkan fasilitas yang bagus. Tidak boleh sekolah tinggi. Ingin baca saja tidak boleh. Bahkan tidak punya uang jajan saat sekolah. Tapi saya bersyukur, sebab saya mencari hiburan dengan membaca buku di perpustakaan. Disitulah mulai tumbuh minat baca dalam diri saya,” jelas penulis kumpulan puisi, Konde Penyair Han ini.

Seringnya membaca buku, terutama dongeng Indonesia membuatnya fasih berbahasa Indonesia.  “Ada satu fase, ketika adik-adik saya tidak bisa lancar berbahasa Indonesia, tetapi saya bisa. Memang di rumah kami menggunakan bahasa ibu. Ketika ayah saya menceritakan dongeng orang Cina, saya juga bisa menceritakan banyak dongeng Indonesia seperti Malin Kundang, Bawang Merah dan Bawang Putih,” ceritanya.

Lalu kapan Hanna mulai menulis? Ia menulis ketika duduk di bangku sekolah dasar. Menulis menjadi media yang tepat untuk mencurahkan isi hatinya. “Saat itu saya butuh tempat curhat. Sementara ibu tidak begitu peduli, malah disarankan tidak perlu sekolah. Disitulah saya mulai menulis,” papar dia. Sejak itu, kegemarannya membaca dan menulis semakin tumbuh. Hanna juga kerap mendengarkan cerita misteri gunung berapi dari radio. “Saat itu saya tidak tahu yang namanya karya sastra. Tetapi saya sangat suka dengan cerita, bahkan terbiasa menceritakannya kembali, dan berbagi pengalaman dengan cerita yang saya dengar maupun saya baca,” ujarnya.

Di usianya yang masih anak-anak, Hanna pernah membaca majalah Kartini. Ada satu cerita seseorang yang pengalaman hidupnya sungguh berat. Hal itu menginspirasinya untuk menuliskan jalan kisah hidupnya. “Saya juga ingin memberi tahu bahwa kehidupan etnis Tionghoa itu tidak seperti anggapan orang, bahwa mereka selalu kaya, pendidikan tinggi. Lihat saya, yang posisinya pembantu rumah tangga. Bangun jam 4 sudah harus ngepel. Setelah selesai bekerja saya capek, saya pun corat-coret di kertas folio. Perasaan sedih saya utarakan di situ,” ujar dia yang tamat SMP tidak lagi diperbolehkan melanjutkan sekolah.
Usia 21 tahun, Hanna menikah. Kehidupannya, terutama kondisi keuangannya semakin membaik. Tahun 2008, dia mulai kembali mencintai dunia pendidikan. Mulanya dia mengambil kursus Mandarin. “Di situlah saya bertemu dengan guru yang memperkenalkan saya dengan sastra Cina. Dia tunjukkan puisi-puisi cina yang mengingatkan saya pada kenangan semasa SMP. Saya memang tertarik dengan puisi,” ungkapnya.

Sejak itu, Hanna mulai tertarik membuat blog untuk memposting tulisan-tulisannya - meskipun dia belum bisa menggunakan komputer. “Saya tertarik untuk menulis puisi dan mempostingnya di FB, di Blog. Disitu saya mendapatkan kritikan. Dibilang bukan puisi tetapi curcol,” kenangnya. Kecintaannya dengan dunia sastra, membuat ibu 4 orang anak ini mengambil paket C, kemudian masuk ke perguruaan tinggi. Bahkan dia membangun komunitas menulis di kampusnya itu dengan biaya sendiri. Dia juga kerap membagikan bukunya secara gratis di berbagai kesempatan. “Intinya saya menulis bukan karena ingin dikenal, tetapi saya ingin orang mengenal karya saya,” jelasnya.

Tahun 2005, Hanna mulai banyak mengoleksi buku sastra peraih nobel. “Saya tidak tahu bahasa Inggris, cara membacanya saya minta diterjemahkan oleh guru Bahasa Inggris saya,” pungkasnya. **

 

Berita Terkait