Mengingat Gugurnya Tengku Idris dan Gusti Mesir

Mengingat Gugurnya Tengku Idris dan Gusti Mesir

  Rabu, 29 June 2016 09:30
HARI BERKABUNG: Wakil Bupati Kayong Utara Idrus memimpin upacara bendera Hari Berkabung Daerah, di halaman Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Kayong Utara, Selasa (28/6). (kanan) Para peserta upacara dengan latar bagian dari Gunung Palong, tampak khidmat mengikuti berbagai prosesi. DANANG PRASETYO/PONTIANAK POST

Berita Terkait

SUKADANA – Tragedi Mandor merupakan salah satu fase sejarah yang terkenal di Republik Indonesia, terutama di Kalimatan Barat. Karena tragedi tersebut mengakibatkan puluhan ribu korban jiwa pejuang dan rakyat Kalbar yang menentang penjajahan fasisme Jepang. Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati (Wabup) Kayong Utara Idrus, ketika membacakan sambutan tertulis Bupati Kayong Utara saat upacara bendera Hari Berkabung Daerah di halaman kantor Dinas Pendidikan, Selasa (28/6).

“Terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara yang tidak terjadi begitu saja, akan tetapi telah mengukir sejarah perjalanan bangsa dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Integrasinya menjadi sebuah Negara Kesatuan Republik Indonesia dilihat dari perjalanan sejarah tersebut, telah membuktikan bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki satu ikatan baik ikatan demografis, sosial, ekonomi, dan budaya,” terang Idrus.

Upacara bendera tersebut turut dihadiri Muspida Kabupaten Kayong Utara dan Kabupaten Ketapang, TNI, Polri, masyarakat, serta peserta upacara lainnya. Idrus menjelaskan, adapun untuk Peristiwa Mandor yang berlangsung sepanjang rentang 23 April 1943 sampai dengan 28 Juni 1944, juga mengambil korban dari masyarakat Kabupaten Kayong Utara. Tersebut dua raja dari kabupaten ini yakni Tengku Idris, panembahan Sukadana serta Gusti Mesir, panembahan Simpang, yang menjadi korban. Keduanya gugur bersama masyarakat Kabupaten Utara lainnya yang turut dijemput paksa penjajah Jepang saat itu.

“Untuk itu, mengenai kejadian tersebut tentunya akan menyadarkan kita pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa dimana para pejuang dan masyarakat Kalimantan Barat telah mempertaruhkan jiwa dan raga hanya untuk menegakkan kemerdekaan bangsa ini. Oleh karena itu sudah seharusnya kita wajib mempertahankan kemerdekaan yang telah dibangun para pendahulu kita,” gugahnya.

Sikap nasionalisme dan cinta tanah air, diingatkan dia, merupakan pondasi penting dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara. “Hal ini telah dibuktikan para pejuang dan masyarakat pendahulu kita yang lebih mengutamakan kepentingan negara diatas kepentingan pribadi,” katanya.

Menurut Idrus, pengaruh globalisasi dan mudahnya akses mendapatkan informasi, turut memengaruhi wawasan kebangsaan dan nasionalisme di masyarakat. Terutama bagi para generasi muda, menurut dia, hal tersebut tentunya dapat dilihat dari banyaknya fenomena aliran-aliran menyimpang dan gerakan-gerakan disintegrasi daerah, yang mencerminkan memudarnya sikap nasionalisme dan cinta tanah air di masyarakat. “Permasalahan inilah, diharapkan menjadi pekerjaan rumah bagi kita bersama, dalam menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ungkapnya.

Untuk itu, sambung dia, pada pelaksanaan peringatan Hari Berkabung Daerah ini seyogianya dimaksudkan untuk dapat menjadi pengingat serta wujud penghargaan kepada jasa para pejuang dan masyarakat Kalimatan Barat, dalam memperjuangkan kemerdekaan. “Bukan sebagai sebuah simbol kebencian  terhadap suatu negara yang telah melakukan tindakan di luar nalar manusia,” kata dia.

Selain itu, diharapkan dia agar Peristiwa Mandor ini dapat menjadi pelajaran bagi generasi muda, dalam memupuk serta menumbuhkan nilai-nilai patriotisme dan nasionalisme. “Semoga semangat pejuang dan masyarakat  yang telah gugur di Peristiwa Mandor ini dapat menjadi contoh dan acuan bagi kita, masyarakat Kalimatan Barat, khususnya Kabupaten Kayong Utara, dalam berkehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Seperti yang diucapkan Bung karno, Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa Pahlawannya,” harapnya. (dan)

Berita Terkait