Mengikuti Perjalanan Tim Sampan ke Ekowisata Mangrove

Mengikuti Perjalanan Tim Sampan ke Ekowisata Mangrove

  Senin, 16 May 2016 09:53
DISUNGAI: Menyusuri sungai di malam hari. Antara takut dan kesenangan melihat mangrove dan penyu. Mirza Ahmad Muin/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Satu lagi tempat wisata Kalimantan Barat yang patut dikunjungi. Ekowisata mangrove, di Dusun Paloh, Desa Sungai Nibung, Kubu Raya patut dicoba. Selain hamparan mangrove, penangkaran penyu dan ketuntung jadi pesonanya. Pengalaman perjalanan ke sana juga tak kalah menarik.

Mirza Ahmad Muin, Sungai Nibung

BISA dikatakan, ekowisata mangrove di Dusun Paloh, Desa Nibung, Kubu Raya merupakan destinasi baru, sebagai salah satu pilihan wisatawan ketika berkunjung ke Kalbar. Tempatnya belum familiar bagi masyarakat.

Namun saya yakin, wisata ini ke depan bisa jadi andalan Kalbar sama seperti destinasi unggulan lain, seperti Taman Nasional Danau Sentarum di Kapuas Hulu dan Pantai Pasir Panjang di Singkawang.

Sore itu cuaca tak bersahabat. Awan gelap disertai gerimis menemani perjalanan tim SAMPAN Kalimantan menuju ekowisata mangrove di Dusun Paloh. Karena langit gelap, tim memutuskan melalui jalur sungai. Akses ke sana menggunakan perahu kecil bermesin. Tak bisa menggunakan sped karena kedalaman air hanya setengah badan orang dewasa. Jika di paksakan bisa karam di sungai. Untuk mengangkut 40 an orang, pihak desa menyiapkan 4 sampai 5 perahu. 

Intruksi melalui sungai dengan perahu langsung dari Kepala Desa Sungai Nibung, Syarif Ibrahim. Dia mengatakan, jika cuaca buruk lebih baik melalui Sungai Paloh. Jika melalui laut, resikonya ombak. Apalagi perahu yang kami gunakan terbilang kecil. Banyak resiko jika dipaksa. Hal terburuk perahu terbalik.

Meski perjalanan sore itu diiringi hujan, tak menyurutkan langkah kami ke sana. Dikatakan sopir perahu, butuh satu jam dari Sungai Nibung  ke tempat tujuan. Tergantung cuaca, jika mendukung setengah jam sampai.

Akibat cuaca buruk, tak mudah sampai ke sana. Di tengah perjalanan, perahu kami beberapa kali karam karena air surut. Sang sopir terpaksa turun ke sungai untuk membetulkan posisi perahu agar bisa berjalan.

Celakanya, hujan tak berhenti. Hanya jaket pelindung kulit dari siraman hujan. Diketahui perahu tradisional itu memang tak menyiapkan fasilitas mantel atau terpal agar penumpang tak kena hujan.

Meski demikian kendala itu tak berarti. Karena sepanjang perjalanan kami disuguhkan pemandangan mangrove di sisi kiri dan kanan. Ini jadi hal menarik. Apalagi di tambah suara burung dan kera bersahutan menjadi teman selama perjalanan.

Perkiraan sang sopir, sebenarnya rombongan dapat tiba di ekowisata mangrove sore hari. Namun dugaannya meleset, karna banyak kendala teknis di perjalanan, mulai dari perahu kandas, baling-baling mesin kena sampah sampai alat penyedot air perahu lepas menghambat perjalanan.

Kebetulan di perahu kami, sopir tak membawa teman ahli. Sehingga saat terjadi kendala teknis mengakibatkan banyak waktu terbuang. Contohnya jika sewaktu-waktu terjadi kendala sopir menyelesaikan persoalan itu sendiri. Sedikit banyak mengakibatkan waktu terbuang.

Kami pun tak bisa berbuat banyak karena tak paham soal mesin dan beberapa teknik agar perahu tetap stabil ketika menyusuri sungai. Namun sebisa mungkin dibantu agar memudahkan kerja sopir perahu.

Malam hari menyusuri sungai jadi pengalaman menarik. Perahu sederhana, terus berjalan. Tak ada inisiatif berhenti meski malam itu cuaca buruk. Kepulan asap dan bunyi cerobong mesin perahu menghilangkan ke khawatiran berharap perjalanan segera sampai. (bersambung)

 

Berita Terkait