Menghindari Peraturan Hate Speech dan Undang-undang ITE di Sosial Media

Menghindari Peraturan Hate Speech dan Undang-undang ITE di Sosial Media

  Sabtu, 14 November 2015 09:10   5,443

 Oleh: Yoki Firmansyah, MKom

Dewasa ini bisa kita lihat bahwa media sosial berkembang dengan pesatnya, hal tersebut dapat dilihat dari makin banyaknya media sosial yang bisa di pergunakan secara gratis, media social adalah sebuah media online dengan para penggunanya “user” bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring social, wiki, forum, dan dunia virtual.

Sedangkan menurut Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan media sosial sebagai "sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0, dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content" (Kaplan, Andreas M.; Michael Haenlein [2010] "Users of the world, unite! The challenges and opportunities of Social Media".

Business Horizons 53(1): 59–68) dari pengertian diatas bisa disimpulkan bahwa media sosial lebih ke sebuah wadah yang berguna untuk saling berbagi informasi, dan berbagi sesuatu yang berguna bagi para penggunanya. Namun dengan semakin berkembangnya penggunaan media sosial di masyarakat maka fungsi dari media sosialjuga semakin beragam, tidak hanya sebagai wadah untuk berkomunikasi dan berbagi informasi, tetapi dengan media sosial kita juga dapat berpartisipasi, berbagi, dan menyuarakan pendapat maupun pemikiran yang kita miliki, bahkan dengan media sosialpula kita dapat mengungkapkan kritik tajam, bahkan mengarah kepada kebencian (hate speech), dengan menggunakan kalimat kalimat yang tidak semestinya dituliskan dikarenakan kalimat tersebut memiliki makna yang kurang baik dimasyarakat.

Masih segar diingatan kita kasus mengenai seorang office boy yang diciduk oleh polisi dikarenakan mengunggah sebuah gambar “meme” yang berisi penghinaan terhadap satuan kepolisian dan akhirnya tertangkap pada awal September 2015, hingga mahasiswa S2 Universitas Gajah Mada, yang mengungkapkan kebenciannya melalui media sosial, yang berujung pada tersinggungnya masyarakat Yogyakarta, dan akhirnya dijerat dengan UU ITE Nomor 11 tahun 20, dari kedua contoh tersebut dapat kita jadikan pelajaran bahwa ketika kita salah bersikap, maupun salah menyampaikan pendapat di media sosial dapat menyebabkan efek yang begitu besar bagi diri kita sendiri.

Menurut Dennis Wahyudianto seorang pakar sosial media yang dimuat dalam kompasiana.com, saat ini pengguna sosial media cenderung “agresif”. Seringkali menggunakan kata atau kalimat yang bersifat “menyerang”, mereka lebih mengedepankan syahwatnya dalam bedebat. Apalagi jika lawan bicaranya “mati langkah” saat argumennya superior. Hal ini tidak dapat dibiarkan menjadi sebuah kebiasaan (habbit) bagi pengguna media sosial karena saat hal ini menjadi suatu yang umum, maka lingkaran setan (vicious circle) akan dunia penuh kebencian tidak akan pernah terputus.

Menyikapi hal tersebut Kepala Polri Jenderal Badrodin Haiti mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor SE/6/X/2015 tentang Penanganan Ujaran Kebencian (Hate Speech). Surat tersebut dikeluarkan pada 8 Oktober 2015 lalu, adapun tujuan dari beredarnya surat edaran ini ialah menindak para pengguna media sosial yang mengutarakan kebencian hingga menimbulkan konflik sosial, serta ancaman hukuman hingga pasal-pasal yang dapat menjerat para pengguna media sosial ketika mereka dianggap bersalah, selain itu ada pula UU ITE Pasal 27 ayat (3), dan bunyi Pasal 28 ayat (2) UU ITE yang dapat menjerat para pengguna sosial media yang menyebarkan kebencian, maupun mencemarkan nama baik seseorang, tapi selama pendapat ataupun kritik yang disampaikan memiliki data dan informasi yang mendukung, hal tersebut tidak masalah. Namun, jika pesan kebencian yang disampaikan sifatnya sudah menghasut ke arah kriminal, hal itu patut ditindak secara hukum.

Cara menghindari

Beberapa cara yang dapat kita lakukan agar ketika memberikan kritik maupun pendapat tidak bertentangan dengan hukum yang ada adalah dengan membuat sebuah akun anonymous, yaitu akun yang tidak jelas siapa pemilik dari akun tersebut, cara ini dianggap paling aman ketika kita ingin menyuarakan pendapat maupun kritik di sosial media, namun pendapat dan kritik yang kita sampaikan dengan akun anonymous, harus tetap dengan data yang valid, agar tidak dianggap sebagai berita tidak benar atau hoax atau berita bohong, karna pada dasarnya akun anonymous sekalipun dapat dilacak siapa pengguna dari akun tersebut.

Selanjutnya ketika menyuarakan pendapat maupun kritik yang tajam, tetap gunakan bahasa yang baik, tanpa adanya cacian maupun makian yang dapat menimbulkan pertentangan  maupun perdebatan yang berkepanjangan, mengingat sosial media merupakan media yang bisa di pergunakan siapa saja, dan pasti pendapat yang kita sampaikan akan menimbulkan pro dan kontra pada pengguna lainnya, dan apabila terjadi perdebatan, tetaplah pada topik yang sedang dibahas, jangan melebar pada topik yang lain, hal tersebut untuk mengurangi permasalahan yang semakin luas, dan apabila ada yang keluar dari topik lebih baik kita diamkan saja.

Hindari berpendapat, mengkritik, bahkan menebar kebencian mengenai suku, ras, agama, dan antar golongan (SARA), hal ini dikarenakan pengguna sosial media pastilah terdiri dari bermacam macam agama, suku, dan ras, sehingga apabila kita membuat sebuah pendapat yang menyinggung salah satu hal tersebut, maka akan dapat menimbulkan keributan, yang panjang, yang pada akhirnya di penebar kebencian dapat dilaporkan di jerat dengan hukuman, dan yang terpenting adalah ketika kita akan memposting sesuatu dimedia sosial, pastikan fikirkan dampak yang mungkin akan terjadi ketika postingan itu dimuat, baik itu posting berupa kalimat, foto, maupun video dan apabila kita mengkritik instansi, organisasi, maupun lembaga pemerintah, tetap pastikan tata bahasa yang kita gunakan, tidak mencerminkan kebencian, ataupun mengarah pada kebencian, gunakan lah bahasa yang baik, santun, namun tegas kepada masalah, jangan berbelit belit, dan ketika kita mengritik seseorang lengkapilah kritik atau pendapat kita tersebut dengan data data yang valid, dengan referensi maupun fakta yang ada, sehingga kita tidak dituduh mencemarkan nama baik orang yang kita kritisi, dengan begitu tidak ada alasan kita untuk di tuduh mencemarkan nama baik seseorang.

Untuk menghindari terjerat hukum, sebagai orang yang berkomentar lebih baik kita meningkatkan kesabaran dan berkomentarlah dengan kalimat yang santun, ketika kita membaca posting ataupun melihat sebuah konten penyebar kebencian, kita bisa saja terprovokasi, sehingga balik ikut menyerang si pemosting konten kebencian tersebut, dengan kata kata yang juga menebar kebencian, bahkan caci maki, akibatnya kita juga bersalah dan juga dapat dijerat oleh hukum, bahkan mungkin hanya kita yang terjerat dikarenakan si penebar kebencian tersebut menggunakan akun anonymous sehingga tidak dapat terlacak.

Berusalah untuk bersikap netral, karena apabila kita terjebak dalam suatu kondisi debat di sosial media akan lebih baik untuk berusaha mencari solusi, bukan berusaha untuk balik menyerang, untuk menghindari provokasi, namun apabila posting yang disampaikan merupakan kesalahan, cobalah untuk menyerang balik menggunakan data dan fakta, sehingga si pembuat posting merasa kalau dia benar-benar salah, hindari menggunakan pendapat pribadi, gunakan sumber sumber yang valid, untuk menentang pendapat dari si pembuat posting.

Maka dari sebagai pengguna media sosial ada baiknya untuk selalu menjaga sikap, dan selalu berfikir dahulu mengenai dampak apa yang akan ditimbulkan oleh postingan ataupun komentar yang kita buat di sosial media, demi terhindarnya kita dari jerat undang undang, dan hukum yang berlaku di Indonesia baik itu mengenai Hate Speech ataupun UU ITE.

*)Staff Pengajar

AMIK BSI Pontianak