Menghilangkan Paradigma Sekolah Koloni

Menghilangkan Paradigma Sekolah Koloni

  Jumat, 5 February 2016 08:06   983

Oleh: Santriadi Rizani *) Robert T. Kiyosaki dalam bukunya Rich Dad, Poor Dad mengatakan “If you want to rich and happy, don’t go to school“, artinya kira-kira “Jika kamu ingin kaya dan bahagia, jangan pergi ke sekolah” (Fathurrosyid, 2011).

Jika pernyataan Robert T. Kiyosaki tersebut tidak dicerna secara mendalam, tentu banyak yang tidak setuju, terutama di kalangan guru. Namun jika sosok guru bisa merubah paradigma berpikirnya, menciptakan iklim demokratis-humanis, kaya metode dan strategi, maka gagasan Robert T. Kiyosaki di atas akan terbantahkan sehingga menjadi gagasan baru, yaitu: “Jika kamu ingin bahagia, silahkan pergi ke sekolah”. Sebab guru sudah menjadi sosok yang performance-nya menyenangkan. Guru yang demikian akan selalu dirindukan kehadirannya, diamnya disegani, tutur katanya ditaati, dan kepergiannya ditangisi, bukan guru yang berada di sebuah sekolah koloni. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata koloni berarti tanah jajahan.

Kita sepakat jika suatu bangsa bisa berkembang dan maju, di antara icon yang paling ideal adalah sektor pendidikan. Sejarah gemilang pernah mencatat bahwa negara kita dahulu pernah punya murid yang bernama negara Malaysia. Kini “mantan murid” kita itu telah menjadi bangsa maju, bahkan lebih maju daripada kita karena pandai memperbaiki pendidikan. Bangsa Jepang menjadi bangsa paling modern juga karena pendidikan. Namun negara kita, realitas yang terjadi justru sebaliknya. Entah kapan dunia pendidikan di negeri ini tidak lagi menempati posisi peringkat bawah.

Kondisi carut-marut dunia pendidikan kita, tidak sepenuhnya penulis menuding pemerintah yang masih setengah hati menjalankan amanat UU RI, No. 20 tahun 2003, sebab masih ada inisiatif baik pemerintah dengan digulirkannya dana BOS dan sertifikasi guru. Karena itu, bisa jadi meningkatnya angka putus sekolah, pengangguran, drop out dan bentuk kenakalan siswa lainnya, jangan-jangan hal itu merupakan problem pendidikan yang berada di internal sekolah itu sendiri, mengingat pembelajaran di sekolah itu terdiri dari berbagai komponen.

Dalam tataran realitas, peran strategis guru yang semestinya sebagai fasilitator, motivator dan katalisator, ternyata dalam praktiknya justru berubah menjadi sekolah koloni. Sehingga muncul gejala dehumanisasi sebagaimana yang dikhawatirkan oleh Emile Durkheim bahwa ternyata pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai agen pembebas, tetapi juga diam-diam sebagai agen pembelenggu, di mana “biang keladinya” adalah sosok guru, metode dan strategi pemebelajaran yang mereka transmisikan secara tidak humanis, sehingga “negeri kecil” yang bernama sekolah bisa menjadi sebuah koloni yang tidak menguntungkan bagi para siswanya.

Pada dasarnya, faktor determinan gejala dehumanisasi dalam dunia pendidikan adalah miskonsepsi dan kesalahan paradigma seorang guru dalam memandang hakikat ontologi kemanusiaan siswa. Selama ini, ada dua mazhab yang dijadikan referensi dalam dunia pendidikan, yaitu mazhab Behaviorisme dan mazhab Lorens.

Pertama, Mazhab Behaviorisme. Mazhab ini memandang manusia (siswa) sebagai sosok yang tidak mempunyai daya potensial sama sekali, sehingga mereka harus dijejali setumpuk informasi dari otak ke otak (transfer of knowledge) yang notabene indikator keberhasilannya berupa kemampuan menjawab ujian dan hafalan (Irfan, 2008).

Adapun kosekuensi negatif dari cara pandang yang demikian adalah proses pembelajaran yang superordinat-subordinat, yang menurut Paulo Friere iklimnya menjadi sangat kontras, yaitu guru akif-siswa pasif, guru mengevaluasi-siswa dievaluasi, guru berbuat-siswa membayangkan, guru bercerita-siswa mendengarkan, guru mengajar-siswa diajar. Semua iklim ini, selalu menjadi lokomotif paling afdhol yang tidak pernah hengkang dari dunia pendidikan kita. Fatalnya, sudah jamak kaprah dilakukan oleh para guru yang menganggap siswa sebagai sosok setengah manusia (subhuman), apalagi ada yang mendefenisikan pendidikan adalah memanusiakan manusia. Dan jarang pula memperlakukan mereka sebagai sosok yang benar-benar manusia (human).

Guru kerap kali mengaku menjadi sosok manusia yang “serba tahu” dan selalu benar (unerring) untuk mengibuli siswanya dengan dalih banyak makan garam dan yang paling tahu. Bahkan tidak jarang seorang guru merasa “geram” ketika dihujani pertanyaan-pertanyaan yang bernada kritis oleh siswanya. Ironisnya lagi, ia justru menganggap “tembakan” tersebut akan mematahkan kredebilitas dan superioritasnya sebagai seorang guru yang telah malang-melintang membina karier cukup lama dalam dunia pendidikan.

Mestinya kesadaran bahwa semua siswa punya potensi IQ yang perlu dimobilisir dengan berbagai metode pembelajaran yang menyenangkan menjadi target para guru untuk senantiasa diaplikasikan di sekolah. Ketika ada satu murid misalnya, dengan kesungguhan ijtihad dan jihad yang telah dilakukan oleh guru, ternyata sang murid belum juga mampu menangkap ‘sinyal’ dengan baik, tindakan sang guru tidak secara serta-merta dan bersikap apriori bahwa murid tidak banyak yang diketahui. Kenapa kesadaran “something wrong” dengan metode yang diajarkan tidak pernah muncul dalam diri guru.

Dalam konteks ini, sekolah itu ibarat sebuah pabrik. Barang “rongsokan” sekalipun sebagai input jika diolah dan dikelola dengan manajemen dan tenaga professional oleh pabrik, maka segala output dari produknya akan menjadi incaran semua orang. Tentunya, sekolah tidak jauh berbeda dengan analogi yang demikian dan tidak perlu lagi dihinggapi oleh rasa over worried bahwa kemajuan sekolah ditentukan oleh selektifitas kriteria penerimaan siswa atau input yang dilakukan secara selektif.

Kedua, Mazhab Loren. Mazhab ini melihat bahwa manusia (siswa) sejak lahirnya sudah mempunyai dan membawa sifat ganas. Karena itu, tugas utama seorang guru adalah melakukan tindakan ‘amputasi’ dengan berbagai upaya dan strategi, bahkan boleh jadi akan mengahalalkan segala cara dengan dalih atas nama pendidikan. Tentu saja, corak pemikiran yang demikian akan berimplikasi pada legalitas tindakan anarkis dalam dunia pendidikan. Kiranya tidak terlalu asing jika kita sering kali disuguhi informasi dari dunia kriminal, salah satu tayangannya adalah dari dunia pendidikan. Aneka ragam tindakan yang dipertontonkan oleh guru menjadi suatu “eksposisi” yang kurang sedap untuk kita konsumsi.

Jika dua mazhab di atas masih mendominasi ideologi pendidikan kita, dikhawatirkan akan berdampak terhadap futuristik pendidikan secara nasional. Apa akibatnya? Tidak ada yang mau pergi ke sekolah, sebagaimana gagasan yang dilontarkan oleh Robert T. Kiyosaki di atas, “If you wan to rich and happy, don’t go to school (Jika kamu ingin kaya dan bahagia, jangan pergi ke sekolah)”. Wallahu a’lam.

 

*) Penulis, Guru Madrasah ‘Aliyah GERPEMI Tebas dan SMP Negeri 1 Tebas Kabupaten Sambas.