Menghidupkan Roslin dengan Hasil Pertanian Sendiri

Menghidupkan Roslin dengan Hasil Pertanian Sendiri

  Sabtu, 8 Oktober 2016 08:47

Berita Terkait

Keputusan Budi untuk pensiun dari profesi yang digeluti sejak 1989 memberikan dampak signifikan. Praktis Budi tidak memiliki lagi pendapatan tetap. Padahal, selama ini operasional Roslin disokong penuh dari gaji Budi sebagai pilot senior di Singapore Airlines. Tapi, di sisi lain, Budi jadi punya banyak waktu untuk mengurus panti asuhan (PA) dan kebun miliknya yang dirintis sejak 2007. 

Menurut Budi, 2007 merupakan salah satu tahun kejayaan dirinya sebagai pilot. Pada tahun itu dia dipercaya menerbangkan pesawat dengan rute Singapura–Los Angeles dan Singapura–New York. Dua rute ’’basah’’ dan prestise di dunia penerbangan internasional. Pilot yang ditunjuk merupakan pilot pilihan.

Karena itu, gaji yang diperoleh Budi pun terbilang cukup besar. Budi pun merasa enteng mengeluarkan uang untuk mengembangkan PA Roslin. Budi juga makin instens membangun proyek akhirat tersebut.

Tak jarang, saking inginnya mengetahui kondisi di panti, Budi langsung terbang dari Singapura ke Kupang sesaat setelah tugas menerbangkan pesawat ke Amerika. Dia tak mampir ke Jakarta lebih dahulu. Alangkah bahagianya dia melihat kondisi anak-anak pantinya yang tumbuh, sehat, dan ceria.

’’Di sisi lain, saya juga sering kepikiran, bagaimana kalau nanti saya pensiun. Bagaimana makan anak-anak, bagaimana pendidikan mereka, dan sebagainya,’’ cerita Budi ketika ditemui di PA Roslin, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (3/10).

Tiga hari kemudian, Budi bermimpi memiliki tanah subur dengan buah-buahan yang melimpah. Anehnya, sang istri Peggy Lakusa –panggilan Rosalinda Panagia Maria Lakusa– mengalami mimpi serupa. Budi lalu menangkapnya sebagai jawaban atas keresahan pikirannya selama ini.

Ya, pertanian itulah yang kelak akan menyelamatkan Budi dan anak-anak panti asuhannya dari kelaparan. Sebab, dengan pertanian itu, Budi bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari pantinya. Paling tidak, jawaban tersebut kini mulai terbukti.

Memang, Budi awalnya mendapat kenyataan bahwa kebanyakan tanah di Kupang bukan tanah subur. Posisi Pulau Timor yang berada di bawah permukaan laut mengakibatkan struktur tanahnya berkarang dan berbatu. Banyak fosil biota laut di Pulau Timor.

’’Tanahnya sangat tidak subur. Yang ada hanya batu, karang, dan fosil,” kata bapak tiga anak itu.

Budi tidak membiarkan kenyataan tersebut mematahkan semangatnya. Bermodal logika dan sedikit ilmu pertanian yang didapat dari internet, Budi bertekad melakukan revolusi. Dia ingin mengubah lahan tandus menjadi lahan produktif. Hal pertama yang dilakukan Budi adalah meratakan lahan yang ada.

Setelah lahannya bersih, Budi mulai memilih lokasi yang akan dijadikan tempat bercocok tanam. Dia kemudian membuat tanah subur sendiri untuk dijadikan media tanam. Berkali-kali Budi melakukan percobaan sampai akhirnya menemukan campuran yang tepat untuk tanah subur itu.

”Saya mencampurkan tahi sapi, tanah merah, dan sekam padi yang sebagian dibakar dengan perbandingan 1:2:2,” paparnya.

Metode Budi ternyata cukup berhasil. Bahkan, dia langsung bisa memanen hasilnya. Padahal, sayur dan buah-buahan itu ditanam di lahan gersang.

Budi membudidayakan tanaman-tanamannya dengan cara organik. Menurut dia, dengan cuaca panas, hama jarang sekali menghampiri tanaman-tanamannya.

”Air pun kita optimalkan. Tidak boleh berlebihan karena hanya akan memicu munculnya organisme yang akan menjadi hama,” terangnya.

Meski sukses, Budi masih penasaran dengan kondisi tanah di Pulau Timor. Dia pun melanjutkan ”sekolah’’ pertaniannya lewat internet mengenai tanaman apa saja yang tumbuh di tanah kering. Mesin pencari lalu mengantar Budi ke kawasan Timur Tengah. Di sana matahari bersinar begitu terik. Tanah di sana bisa dibilang kering kerontang. Namun, beberapa tanaman bisa tumbuh subur. Misalnya, zaitun dan kurma.

”Saya pernah mencoba menanam zaitun, dan benar saja, ia hidup di tanah kering. Untuk kurma, saya belum mencobanya. Apalagi, bibitnya cukup mahal, sampai Rp 700 ribu satu bibit,” kata dia.

Selain di lahan dekat panti asuhan, Budi bercocok tanam di lereng gunung. Di sana dia menggunakan metode tanam yang berbeda. Dia menanam bawang merah, lalu ditinggal begitu saja selama dua bulan. Setelah dua bulan, Budi datang dan bawang merah sudah siap dipanen.

”Saya membiarkan Tuhan yang memelihara tanaman itu dengan panas matahari dan hujan. Ternyata tumbuh subur, bawangnya besar-besar,” ujarnya.

Saat panen, Budi berhasil mendapatkan bawang merah hingga 5,4 ton. Sebanyak 1,5 ton dijual di Kupang dengan harga Rp 40 ribu per kilogram. Sisanya, 3,9 ton, dibawa Budi ke Jakarta untuk dijual dengan harga Rp 80 ribu per kilogram.

”Ini kan bawang organik. Harga pasaran di Jakarta bisa Rp 130 ribu. Tapi, saya jual Rp 80 ribu saja,” ungkapnya.

Uang hasil penjualan bawang merah itu di luar dugaan Budi dan Peggy. Sebab, setelah menotal, mereka mendapatkan uang hingga Rp 300 juta. Itulah salah satu hasil revolusi yang dilakukan Budi di bidang pertanian. ’’Uang hasil penjualan tersebut kami pakai untuk operasional panti dan menyekolahkan anak-anak di luar,’’ tuturnya.

Metode-metode pertanian yang dicoba Budi selalu ditulis di website Panti Asuhan Roslin. Pengunjung pun ramai, termasuk dari Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) yang kemudian menghubungi Budi untuk mengajaknya menjadi pembicara di forum pertanian dan kehutanan internasional pada Februari silam.

”Saya ditelepon. Orang itu bilang, dia tahu apa yang saya lakukan dan ingin mengundang saya untuk menjadi pembicara di Asia-Pacific Forestry Week 2016 di Filipina,” tuturnya.

Budi diundang karena dinilai mampu memberikan masa depan yang cerah untuk pertanian di NTT. Budi yang tidak punya latar belakang pendidikan pertanian pun sempat minder. Terlebih saat berada di forum tersebut. Hampir semua nama yang dipanggil untuk maju sebagai pembicara punya sederet gelar. Sebaliknya, Budi hanya pensiunan pilot.

”Pas nama saya dipanggil Captain Budi Soehardi. Orang-orang langsung diam dan terlihat bingung. Wajah mereka seperti bertanya-tanya siapa saya,” ujar Budi.

Mereka sontak menyambut dengan sukacita setelah tahu sepak terjang Budi dari presentasi yang baru saja dibawakan di forum itu. Nama Budi mulai dikenal di kalangan pertanian dunia.

Selain pertanian, Budi punya penginapan yang lokasinya tidak jauh dari panti asuhan. Dia membangun penginapan sederhana berisi 25 kamar ber-AC dan beberapa kamar dilengkapi dengan air panas. Penginapan itu digunakan untuk memperkenalkan dan mengajarkan kepada anak-anak yang sudah besar agar tahu industry service atau hospitality. Uang hasil sewa kamar itu dianggap sebagai bonus yang dipakai untuk membantu pendanaan panti asuhan.

”Dua anak panti juga kami kirim ke Jakarta untuk sekolah perhotelan. Di Akademi Pariwisata Paramitha,” katanya.  

Kemandirian menjadi hal yang ditekankan Budi sejak awal kepada anak-anak Roslin. Budi ingin mereka tumbuh menjadi pribadi yang bisa berdiri sendiri dan bahkan membantu orang lain untuk berdiri. Semangat itu ingin ditularkan Budi kepada masyarakat Timor. Dia ingin mendidik masyarakat Timor untuk bisa memaksimalkan potensinya.

Menurut Budi, saat melihat tanah tandus berbatu karang yang mendominasi struktur tanah Pulau Timor, orang Timor hanya bisa mengeluh tanpa berupaya mencari solusi. Kultur mereka memang seperti itu.

’’Mereka sudah terlalu lama susah. Inginnya serbainstan,” kata Budi membagi pengalamannya setelah bertahun-tahun berinteraksi dengan orang Timor.

Budi menambahkan, itu juga yang akhirnya membuat orang Timor memilih merantau. Ada yang menjadi TKI (tenaga kerja Indonesia). Ada yang hijrah ke kota besar dan menjadi preman. Sementara itu, tanah Timor ditinggalkan begitu saja. Dengan adanya solusi dari Budi, dia berharap orang Timor bisa tergerak untuk melakukan hal serupa.

”Saya ingin mereka jadi raja di tanah sendiri. Tidak perlu urbanisasi ke kota. Di sini pun mereka bisa hidup dan sukses,” tutur Budi. (*)

 

Berita Terkait