Menggergaji dengan Satu Tangan, Hasilkan Produk Andalan

Menggergaji dengan Satu Tangan, Hasilkan Produk Andalan

  Rabu, 14 September 2016 09:30
TEKUN: Musyafak sedang menghaluskan kayu untuk bakal mebel produksinya yang dipasarkan ke berbagai daerah.

Berita Terkait

Lahir dengan ketidaksempurnaan fisik, Musyafak tidak mau menyerah dalam hidup. Dia berjuang untuk terus berkarya sebagai perajin beragam produk mebeler. Peminatnya datang dari berbagai kota.

 

EKO HENDRI SAIFUL

 

BOLEH dikata, Musyafak hidup dengan hanya satu tangan dan kaki. Ditemui pada Jumat lalu (9/9), lelaki 43 tahun itu tengah sibuk bekerja. Wajahnya berkeringat. Gergaji di tangan lantas dilepas. Dia lalu menunjuk beberapa perabot. Ada meja, kursi, pintu, dan kusen rumah dari kayu.

Desainnya macam-macam. ”Sedang banyak pesanan,” ungkap Syafak –sapaan akrab Musyafak– kepada grup koran ini yang datang ke rumahnya, Desa Indrodelik, Kecamatan Bungah. Dia lalu bercerita tentang duka keluarganya 43 tahun lalu. Saat itu orang tuanya cemas bukan main. Sebab, bayi laki-laki yang mereka tunggutunggu ternyata lahir dengan fisik tidak normal. Syafak hanya memiliki satu tangan dan kaki yang sempurna.

Syafak memang memiliki kaki kanan. Namun, panjangnya hanya sebatas paha. Berjalannya pun tersendat. Setiap kali ingin pindah tempat, dia harus meloncat dengan cepat. Kondisi tak jauh berbeda terjadi pada tangan kirinya. Tangan kirinya tidak memiliki jari. Ketika masih kecil, dia sulit sekali memegang barang. ”Saya memang punya kekurangan,” ungkapnya.

Kedua mata lelaki itu mengeluarkan air bening. Meski begitu, Syafak dikenal sebagai anak yang selalu bersemangat. Dia tidak ingin hidup dalam perasaan putus asa berkepanjangan. Syafak justru menjadi seorang pemberani. Di mata warga Indrodelik, sosoknya disegani.

Bukan lagi hanya karena semangat yang berlipat-lipat meski cacat, Syafak kondang lantaran hasil kerajinan tangannya. Suami Nisfah itu pandai membuat mebel berbahan kayu. Syafak mengakui, perjuangannya sejak kecil banyak menelan pahit getir.

Dia sempat pesimistis karena banyak orang yang meremehkannya. Meski begitu, dia berupaya tegar. Ngotot ingin mengejar impian untuk memiliki sebuah pusat kerajinan. Menurut Syafak, minat terhadap kerajinan itu sebenarnya muncul sejak dirinya masih duduk di SD. Saat diminta guru untuk membut hasta karya, dia  paling rajin.

Di bangku SMP, Syafak semakin suka berkecimpung dalam dunia kerajinan. ”Sebenarnya saya ingin melanjutkan ke sekolah tukang di Pasuruan yang sangat terkenal dengan kerajinan mebel,” ujar ayah seorang putri, Yuyun Sofia Diva, itu. Di Kota Pasuruan, beragam desain dan model produk mebel ada.

Namun, keluarga melarang. Mereka khawatir Syafak diterpa masalah karena keterbatasan kondisi fisiknya. Dia pun mundur dari niat itu. Meski begitu, keinginannya tak ciut. Dia memilih belajar dari kakaknya, Abdul Mujib.

Lelaki itulah yang menjadi guru sekaligus pembimbingnya. ”Kakak saya guru. Dia yang mengajari saya cara menggergaji kayu dengan satu tangan,” ucapnya.

Meski dengan sebelah tangan, Syafak telah berhasil membuat macam-macam desain karya mebel dan furnitur kayu. Belakangan, mebel kayu buatan Syafak makin diminati pembeli. Bukan hanya warga Gresik, tapi juga Surabaya, Lamongan, dan kota-kota lain. ”Memang banyak orang dari Surabaya. Mereka beli mebel-mebel dari kami,” tambahnya.

Ada beberapa karya yang disenangi. Mulai desain pintu, jendela, kusen rumah, hingga meja dan kursi. Saat memandang adiknya, Mujib terlihat bangga. Dia memuji semangat adiknya memang besar. Ketangkasan Syafak sudah diakui pemesan produknya.

”Dia (Syafak, Red) memang memiliki kekurangan. Namun, kami tetap bangga. Semangatnya itu lho,” katanya. Mujib mendukung Syafak untuk mewujudkan impian memiliki sebuah pusat kerajinan kayu yang besar. (c11/roz)

Berita Terkait