Menggali Cerita Anak Punk yang Tobat di Kota Singkawang

Menggali Cerita Anak Punk yang Tobat di Kota Singkawang

  Selasa, 21 June 2016 10:24
PERDALAM AGAMA: Anak-anak punk Singkawang yang sedang memperdalam agama di masjid di Singkawang. HARI KURNIATHAMA/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Selain tampilan luar sudah beda, belasan anak punk yang tobat di Singkawang terlihat taat menjalankan salat dan puasa. Sebagian malah sudah bagus saat mengumandangkan azan. Ketika harian ini mendekat, seorang dari mereka memberikan testimony. Saat mereka masih bebas menggelandang di jalanan.

Hari Kurniathama, Singkawang

SEJAM setelah salat zuhur, para anak-anak punk duduk membentuk setengah lingkaran di hadapan mimbar masjid. Mereka mendapat pengarahan Kapolsek Singkawang Barat Kompol Sunarno. Intinya, mereka harus benar-benar menjalankan kegiatan agama ini dengan kesungguhan hati, dan ingin berubah ke arah lebih baik.

Usai pengarahan, satu per satu anak diminta tanggapannya terhadap pembinaan keagamaan yang dijalankan. Hampir semua mengangguk tanda setuju, lalu diperjelas, mereka selama pembinaan lebih teratur, baik dari makan, tidur hingga persoalan ibadah.

Salah satu anak punk, Rolan bercerita.

Dengan penuh senyum dan tanpa beban, ia menceritakan menjadi hidup anak punk. Remaja 18 tahun ini mengatakan setiap hari mengisap lem. Bahkan yang mengejutkan jumlahnya lem yang ia habiskan cukup banyak.

“Sehari bisa 6-7 kaleng lem,” katanya.

Mendengar pengakuannya, kepala ini menggeleng sendiri.  Usai menghisap lem, mereka jelas mengalami halusinasi. Bentuknya macam-macam. Namun, biasanya mereka terkapar dan hanya berdiam diri tatkala berhalusinasi. Asyik, mungkin iya. Akibat zat yang terus menerus dihirupnya, dia bisa melupakan sejenak apa yang dialaminya. Tahan tidak makan dan seolah menjadi orang paling bahagia.

“Beragam, tapi biasanya kebanyakan diam, hanya pikiran terasa berat,” katanya.

Selain berhalusinasi, efek lainya membuat mereka sulit tidur. Bahkan menurut remaja yang sejumlah tubuhnya terukir tato ini pernah tidak tidur tiga hari.

“Kami pun pernah melakukan perjalanan dari Singkawang ke Sambas dengan berjalan kaki,” katanya.

Tujuannya? Tidak tahu. Yang pasti, kami ingin jalan-jalan saja. Karena tidak ada kendaraan yang mau ditumpangi, ya udah jalan kaki saja. Akhirnya sampai juga, katanya tersenyum.

Lalu dari mana mereka mendapatkan uang membeli lem? Mereka mengatakan dengan hasil kerja mereka, salah satunya dengan menjadi juru parkir.

“Uang parkir inilah yang dipakai beli lem,” ujarnya.

Dan kisah ini terus berulang setiap hari demi memenuhi kebutuhan ngelem mereka. meski ia mengaku tak  merasakan apa-apa, apalagi kecanduan, namun perlilaku setiap hari ngelem merupakan wujud betapa efek lem berpengaruh kuat pada mereka.

Rolan salah satu anak funk yang diamankan mengatakan aktivitas ngelem yang dilakukannya bukanlah tiba-tiba langsung ahli ngelem.

Dirinya mengaku diajarkan salah satu orang yang ia kenal di jalanan dan sewaktu kumpul-kumpul, hingga orang yang diakui “guru” ngelem ini mengajak cintailah ngelem ini dengan slogan Cintailah Kaleng Lem. Ia mengaku sejak berusia 8 tahun sudah ngelem.

“Lem yang ada di pasaran waktu itu. Kalengnya warna biru,” katanya.

Sebenarnya, ada keinginan untuk mengkonsumsi yang lebih artinya narkotika bentuk lainnya. Namun, karena harganya yang terlalu mahal dan susah didapat, terpaksa kami mengambil yang murah tadi. Ya lem tadi. Gampang didapat, tidak ada larangan disamping itu harganya yang murah.

‘’Kadang, kita tidak makan. Asal lem ada,’’ katanya.

Di sisi lain, sebenarnya lem memang tak cuma dekat dengan anak-anak punk saja. Yang lainnya, khususnya gelandangan dan anak-anak jalanan, cukup sering kepergok ngelem.

‘’Intinya itu saja, Bang. Karena harganya yang murah. Disamping itu, efek yang ditimbulkan kurang lebih sama,’’ katanya.

Sedangkan untuk ‘’seragam’’ punk yang karib dengan jaket dan sepatu boot hitam bermotif paku, dia mengatakan bahwa itu sedapatnya saja. Tidak ada istilah bos, kemudian yang berseragam lengkap. Ya sedapatnya juga. Demikian pula untuk dandanan rambut. Seadanya. Yang paling bagus. Kadang diwarnai sendiri. Antar sesame kawan, semuanya tahu yang diinginkan masing-masing.

Demikian juga letika berangkat jalan ke suatu daerah. Sesuai kesepakatan. Ada yangoke, artinya mereka ikut jalan. Kalau yang tidak, ditinggal.

‘’Pokoknya yang senang-senang saja. Banyak kok mereka yang tidak mau, karena ada kerjaan dan merasa sayang meninggalkan pekerjaannya,’’ katanya lagi.

Di bagian akhir, dia berharap agar apa yang sudah mereka kerjakan tidak dicontoh oleh remaja lainnya.

(Ada pembetulan mengenai teks foto tulisan ini edisi kemarin. Tertulis PASAR MURAH:  Pimpinan Cabang PT Pegadaian (Persero) Sintang, Hartono saat bersama warga, disela pasar murah tengah berlangsung.

Seharusnya; MEMPERDALAM: Anak-anak punk sedang memperdalam agama di masjid. (*)

Berita Terkait