Mengenang Bondan Winarno, sang Jurnalis Kuliner Maknyus

Mengenang Bondan Winarno, sang Jurnalis Kuliner Maknyus

  Jumat, 1 December 2017 10:14
BERPULANG: Bondan Winarno saat bersama istri Yvonne Raket Winarno. |TAUFIQURRAHMAN/JAWA POS

Berita Terkait

Datang Tiba-Tiba, Habis Makan Selalu Bayar

Resah dengan invasi restoran cepat saji internasional, Bondan Winarno mulai akrab dengan dunia kuliner. Dedikasinya terhadap detail dan kejelian reportase tetap terbawa meski ’’hanya’’ menyajikan review makanan. Sang maestro kini tutup usia.

TAUFIQURRAHMAN, Bogor

SETIAP warung yang di dindingnya terpajang foto Bondan memiliki kebanggaan tersendiri. Ibarat hotel, sudah punya sertifikat. Ya, selama beberapa tahun Bondan berkeliling kota-kota di Nusantara, masuk keluar warung. 

Kalau masakannya dirasa khas dan maknyus, segera dimasukkan TV. ’’Tapi, sehabis makan, beliau selalu bayar,’’ ungkap Harry Nazaruddin, kawan dekat Bondan, di sela-sela melayat di kediaman Bondan di Perumahan Sentul City, Bogor, Rabu (29/11). 

Memang, beberapa warung enggan memungut bayaran. Kedatangan Bondan dan kru TV Wisata Kuliner saja sudah cukup membuat mereka bahagia. Namun, Bondan selalu keukeuh untuk membayar.

Bahkan, untuk memastikan makanan di restoran sasaran Wisata Kuliner terbayar lunas, Bondan harus menggunakan siasat tertentu. Mula-mula, mobil rombongan kru diparkir dekat warung. Beberapa kru dengan muka tidak terkenal lantas turun, kemudian duduk di warung dan memesan makanan. 

Mereka pun membayar makanan yang sudah dibeli. Setelah itu, baru Bondan muncul tiba-tiba dengan beberapa kamera. Memunculkan adegan pemilik warung histeris dan kegirangan seperti yang selama ini akrab tampil di layar kaca. 

’’Kalau aku yang turun duluan, bisa-bisa mereka nggak mau dibayar,’’ ujar Harry menirukan perkataan Bondan kepada kru.

Awalnya, pada 2003, Bondan, Harry, dan kawan-kawan membentuk semacam grup mailing list (milis) untuk saling berbagi ide tentang kuliner di daerah masing-masing. Grup itu bernama Jalansutra. Terinspirasi kolom-kolom tulisan Bondan di Suara Pembaruan pada dekade 1990-an.

Saat itu mereka berbagi keresahan yang sama. Invasi makanan branded dari jaringan restoran cepat saji internasional ke Indonesia. Prihatin dan bercita-cita ingin mempromosikan masakan khas Nusantara, sejak saat itulah Bondan mulai akrab dengan dunia review makanan.

Biasanya, sebelum berkelana ke kota tertentu, Bondan mengirimkan pesan ke milis Jalansutra. Memberitahukan bahwa dia akan menuju ke kota A. 

Para anggota komunitas lantas memberikan beberapa rekomendasi tempat-tempat wisata kuliner. Saat itulah Bondan mulai melakukan riset. Mengapa riset? Sebab, Bondan adalah jurnalis tulen. Pada 1997 Bondan membuktikan kelasnya sebagai jurnalis dengan menyajikan laporan investigatif Bre X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi yang ditulisnya dalam sebuah buku. Berkisah tentang sebuah tambang emas palsu di pedalaman Kalimantan. Bre-X saat itu menyabet penghargaan kategori jurnalistik investigatif.

Karena itu, karakter dan standar jurnalistik selalu dia terapkan. Agar sebuah warung bisa mendapat ”sertifikat” Wisata Kuliner, Bondan mengukur banyak hal. Misalnya, seberapa khas makanannya, seberapa lama resepnya dipelihara, hingga seberapa populer dalam perbincangan orang-orang sekitar. ”Kalau dirasa kualitas-kualitas di atas terpenuhi, dia langsung datang, nggak bilang-bilang,” tutur Harry. 

Jadi, ”sertifikasi” Maknyus! sangat objektif. Bondan tidak bisa dibayar, tidak bisa diundang. Misalnya, oleh restoran tertentu yang ingin tampil di Wisata Kuliner. Kalau restoran enak, Bondan akan muncul di pintu. Kalau tidak, Bondan tidak bisa diundang dengan uang. 

Bagi dia, sebuah program Wisata Kuliner tidak cukup hanya dengan seorang talent cantik yang berkenes-kenes di layar kaca.

Program harus mampu menjalankan misi untuk mempromosikan kekhasan masakan tersebut. Tidak lupa, mengajak orang lain untuk turut merasakannya. Review harus detail, memunculkan kesan dan nilai budaya, serta seni dari makanan tersebut. Misi kuliner Bondan terdiri atas tiga asas utama. Yakni, kuliner, resep, dan cerita. Selain membahas kelezatan tampilan dan rasa, Bondan tidak melupakan cerita, sejarah, dan nilai budaya. Serta yang paling penting, resep. 

Kenapa resep? Karena menuliskan resep adalah upaya pelestarian. Harry memberikan contoh brambang asem di sudut Kota Solo. Diketahui, hanya satu orang yang masih berjualan. Jika resep tidak ditulis, makanan itu dipastikan akan punah dari bumi pertiwi. ”Jadi, kita bukukan resepnya agar orang lain bisa membuat kembali. Jaga-jaga kalau simbah tidak jualan lagi,” ungkapnya.

Kuliner, resep, dan cerita hasil perjalanan Bondan diterbitkan dengan rapi dalam bentuk serial buku. 100 Maknyus. Bondan memilih 100 masakan terfavorit dari sebuah kota. Sudah terbit pada 2015. Dimulai dengan seri 100 Maknyus Jakarta, 100 Maknyus Bali, serta yang diterbitkan terbaru tahun ini, 100 Maknyus Joglosemar. Bondan selalu membawa standar jurnalistik pada liputan yang sepertinya sepele. ”Ini pelajaran pada generasi kita agar selalu kroscek ke lapangan,” kata Harry. Berkat usaha Bondan, restoran-restoran tradisional mulai melejit dan populer. Maknyus!

Namun, perjalanan sang maestro pun berakhir. Bondan meninggal Rabu (29/11) sekitar pukul 09.00 di RS Harapan Kita, Jakarta Barat, pada usia 67 tahun. Pria kelahiran 29 April 1950 itu meninggalkan seorang istri, Yvonne Winarno, serta tiga anak. Yakni, Gwendolin Amalia Winarno, Marisol Winarno, dan Eliseo Raket Winarno.

Eliseo mengatakan, sebelum meninggal, ayahnya dirawat lebih dari dua pekan di RS Harapkan Kita dan dua kali menjalani operasi. Operasi pertama dilakukan September lalu, sedangkan operasi kedua baru dijalani Kamis pekan lalu (23/11). ”Dia dioperasi dua kali. Yang pertama operasi aneurisma dan kedua aorta. Untuk jelasnya, tanya tim dokter saja, ya,” katanya.

Setelah operasi yang pertama, ayahnya sempat dibawa pulang ke rumah di Bali. Namun, setelah itu, terdapat infeksi sehingga kembali dibawa ke RS Harapan Kita dan kembali menjalani operasi untuk kali kedua. ”Operasi yang kedua ini ternyata ada komplikasi. Dari komplikasi itu, ada bakteri yang menyebar ke organ-organ tubuh yang lain. Yang saya tahu sebatas itu,” ungkapnya.

Terkait pemakaman, Eliseo mengatakan sesuai kehendak dan keinginan ayahnya sebelum meninggal yang sering bilang ingin dikremasi. Namun, sekarang dia dan keluarga masih akan rembuk bersama. ”Kita akan putusin apakah hari ini atau besok. Sekarang jenazah sedang diformalin,” ujarnya. (/c5/c10/oki)

Berita Terkait