Mengenalkan Emosi pada Anak

Mengenalkan Emosi pada Anak

  Rabu, 11 January 2017 09:30

Berita Terkait

Banyak hal yang diajarkan orangtua pada buah hatinya. Tak hanya sebatas berperilaku baik dan benar dalam interaksi sosial, melainkan juga mengajari anak mengenal emosinya. Sehingga mereka bisa mengekpresikannya dengan perilaku yang tepat dan tidak berlebihan.

Oleh : Marsita Riandini

Tak hanya orang tua saja, balita dan anak-anak pun kerap mengalami gejolak emosi seperti marah, sedih, kecewa, bahkan bahagia. Namun, cara mereka mengekpresikan emosi tidaklah sama. Bahkan, banyak pula usia anak-anak yang tidak mengenal emosi yang terjadi pada diri mereka dan menyampaikan perasaannya lewat kata-kata. Lantas perlukah memperkenalkan emosi pada anak? 

Maria Nofaola, S.Psi., M.Psi., Cht., Psikolog mengatakan emosi merupakan suasana perasaan yang dialami oleh seseorang. Artinya setiap orang dapat mengalami emosi. Emosi juga dapat diartikan sebagai reaksi terhadap seseorang ataupun peristiwa. Itu sebabnya, tak hanya orang dewasa saja yang harus mengenal emosinya, tetapi juga sudah diajarkan ketika anak masih balita. 

“Sebenarnya pada usia balita, orangtua sudah bisa mengenalkan emosi pada diri anak. Tentu saja cara memperkenalkannya harus menyesuaikan usia anak dengan cara-cara yang tepat,”papar psikolog di Rumah Sakit Sultan Syarif Muhammad Alkadrie ini.

 Sebagai contoh, ketika Anda melihat anak menangis, itu artinya emosi anak tengah bergejolak. Tentu saja anak menangis karena ada sebab. Umumnya tangisan anak menandakan suasana hatinya yang buruk.

Cara memperkenalkan emosi pada anak sebaiknya ketika ada kejadian. Kemudian, dijelaskan secara langsung. Misalnya ketika anak menangis, orangtua bisa menanyakan alasan anak menangis dan hal yang rasakannya. Tanyakan hal-hal yang berkaitan dengan suasana hatinya. 

“Ketika ditanya kenapa anak nangis, kemudian dia menjawab karena dia sedih, dia marah, artinya anak sudah mengenal yang namanya emosi. Beda halnya ketika anak mengatakan dia tidak tahu kenapa dia menangis, dia katakan hanya ingin menangis saja, itu artinya anak belum mengenal emosi,” jelas Maria. 

Sebelum mengenalkan emosi pada anak, orangtua semestinya sudah mengenal dan mengerti macam-macam emosi. Maria menjelaskan emosi terdiri atas dua, yakni emosi positif atau baik, dan emosi negatif atau buruk. Emosi positif itu seperti senang, bahagia, puas, kagum, bangga, termasuk pula terharu. Sedangkan emosi negatif itu seperti menangis, kecewa, dan marah. 

Anda bisa pula menggunakan alat bantu berupa stiker yang mewakili ekpresi suasana hati. Termasuk pula ketika menemani anak  menonton, dan bermain. “Kadang kan ada anak yang bertanya kenapa temannya menangis. Nah, disinilah orangtua yang menjelaskan kepada anak tentang hal tersebut,” tutur dia. 

Setelah mengenal emosi yang biasa dialami anak, orangtua bisa mengajarkan bagaimana anak mengendalikan emosinya. Sebagai contoh ketika anak menginginkan sesuatu dari orangtuanya, tetapi tidak bisa didapatkan. Pada kasus tertentu ada anak yang hanya menangis saja, tetapi ada pula yang sampai mengamuk. “Ajari anak bahwa sedih boleh, marah boleh tetapi ada batasannya,” ujarnya. 

Ketika anak senang mendapatkan hadiah, bisa saja dia menunjukkan kesenangannya itu dengan lompat-lompat, teriak-teriak. Orangtua sebaiknya menjelaskan cara yang tepat meluapkan kebahagiaan itu. 

“Biasanya ini juga berkaitan dengan norma-norma, misalnya anak teriak-teriak saking bahagianya tidak pada tempatnya. Atau disaat tengah malam, orang pada tidur. Jadi memang disesuaikan dengan situasi dan kondisi,” jelasnya. 

Mengajari dan mengenalkan anak tentang emosi juga berkaitan dengan perilaku orangtua dalam mengekpersikan emosinya.Ada anak yang memilih diam saat marah, karena dia mencontoh sang ayah yang ketika marah menunjukkan hal yang sama. 

“Pada dasarnya anak juga meniru orangtuanya. Termasuk pula saat orangtuanya senang, dan bahagia,” ulas Maria. 

Anda mungkin pernah melihat anak tantrum, menangis sejadi-jadinya ketika di mall atau tempat keramaian. Ini sebenarnya berkaitan dengan cara anak meluapkan emosinya, meskipun faktor utamanya karena disebabkan oleh pola asuh dari orang tua. 

“Kalau tantrum itu lebih ke pengaruh pola asuh. Ada orangtua yang tegas pada anak, cukup membesarkan mata, anak sudah paham orangtuanya tidak senang. Tetapi pada kasus anak yang tantrum biasanya cenderung dimanja. Sehingga ketika apa yang dia inginkan tidak didapat, dia akan menangis bahkan mengamuk,” pungkasnya. **

Berita Terkait