Mengenal Unit K9 Polda Kalbar; Satwa Pelacak Pintar Binaan Polisi

Mengenal Unit K9 Polda Kalbar; Satwa Pelacak Pintar Binaan Polisi

  Minggu, 31 January 2016 07:41
TIM FLICKER

Berita Terkait

Anjing merupakan salah satu hewan peliharaan yang digemari banyak orang. Ada yang merawatnya di dalam rumah sebagai teman bermain, tetapi ada pula yang memeliharanya diluar rumah untuk berjaga-jaga dari tindak kejahatan. Lantas bagaimana dengan anjing yang menjalankan tugasnya di kepolisian? Kali ini For Her mengulas peran anjing yang tergabung dalam Unit Satwa atau K-9 Polda Kalbar.

Oleh : Marsita Riandini

SUARA gonggongan anjing saling bersahutan di Markas Unit Satwa Polda Kalbar.  Sore itu, For Her secara eksklusif berkesempatan langsung menengok aktivitas Tim Unit Satwa Polda Kalbar dalam melatih anjing-anjingnya.

Terdapat lima ekor anjing, dari keseluruhan 8 ekor yang diperlihatkan kepada kami hari itu. Anjing-anjing tersebut didampingi oleh beberapa orang pawang. Mereka pun sudah siap dengan berbagai alat latihan. Kemungkinan akan ada penambahan 4 ekor anjing untuk pelacak narkotik dan pelacak bahan peledak yang nantinya akan disebar ke perbatasan.

Anjing-anjing ini dikenal dengan kesatuan K-9, anjing ini memiliki keterampilan luar biasa, baik dalam melacak keberadaan narkotika, kriminal umum, pembubaran massa, hingga mendeteksi atau sterilisasi bahan peledak. Dalam menjalankan tugasnya, anjing ini hanya mematuhi perintah pawangnya. Bahasa yang digunakan umumnya berbahasa Inggris, tetapi ada pula yang menggunakan kode. Tujuannya agar tidak semua masyarakat memahami pembicaraan dan kode antara pawang dan anjing tersebut.

Unit satwa atau k-9 memiliki peranan membantu tugas kepolisian, terutama memberikan petunjuk untuk diteliti lebih lanjut oleh tim yang berkaitan dengan kasus yang akan diungkap. Demikian yang disampaikan oleh Aipda I Gede Widiarsana, Kasubdit Cakal (Pelacak dan Penangkalan) unit Satwa atau K-9 Disabhara Polda Kalbar. “Kenapa anjing? Karena untuk membantu memberikan petunjuk sebuah kasus, menggunakan anjing lebih efektif. Penciumannya lebih tajam terhadap sesuatu,” timpal dia.

Sejauh ini, keterlibatan K-9 terbukti dapat membantu tugas polisi, terutama yang berkaitan dengan kriminal umum. “Dari hasil pelacakan, nanti kami sampaikan ke reserse. Reserselah yang mengembangkan siapa pelakunya, dan mencari barang bukti lainnya,” ucap Gede yang sudah 12 tahun bergabung di Unit Satwa.

Prestasi anjing pelacak kriminal umum ini cukup banyak. Selain kasus pembunuhan di Kota Baru, berhasil pula memberikan petunjuk pembunuhan di Bali Mas, serta pencurian yang terjadi di Bandara Supadio belum lama ini. “Tetapi untuk narkoba belum dimaksimalkan. Sementara untuk bahan peledak, pada saat terjadi bom di Jakarta, kami dilibatkan untuk pengamanan di Bandara. Anjing handak juga berfungsi meminimalisir korban. Kami kerahkan dua ekor anjing yakni narkotik dan handak, dengan personil dua orang,” tutur dia. Jenis anjing yang digunakan ada Labrador, Dog Sifat, Beagle, dan Belgian Malinois. Rata-rata impor dari Belanda.

Menjadi pawang anjing, lanjutnya tidaklah mudah. Agar anjing sukses dilatih, pawang tentu harus mencintai satwa, terutama anjing yang dilatihnya. “Nanti ada pelatihan 2 bulan di Jakarta. Namun, untuk melatih anjing dari nol sampai mengerti itu butuh waktu biasanya 6 bulan,” ucap dia.

Dalam melatih anjing, tentu pawang ini menemukan ragam kesulitan. Namun kecintaan mereka terhadap hewan yang satu ini, membuat tantangan berhasil ditaklukkan. “Tantangan pasti ada, namanya kita memelihara binatang tanpa bisa bicara. Hanya tahu isyarat tubuh. Apalagi saat anjing tersebut tidak mau bekerja atau lagi sensitif. Pawang harus mengerti ini, dan tidak bisa memaksakannya. Ini dibutuhkan kejelian pawang,” ucapnya.

Kendala lainnya, lanjut Gede, kondisi tropis di Kalimantan Barat juga mempengaruhi fisik anjing. Sementara untuk perawatan tidaklah sulit. Setiap hari anjing diberi makan dengan campuran makanan anjing dan daging kaleng dengan jumlah tertentu. “Untuk makannya itu 45 ribu, dan sanitasinya 17 ribu,” jelas dia.

Pawang anjing di Polda Kalbar berjumlah 20 orang yang terdiri dari 15 polisi dan 5 polwan. Satu anjing bisa terdiri dari 2 pawang.  “Ini sudah banyak. Dulu jarang ada yang mau gabung di unit satwa. Awalnya ketika saya ditugaskan disini tahun 2004, hanya ada 4 orang. Kandangnya pun belum disini (Mapolda Kalbar di Ahmad Yani,red), masih di rumah. Tahun 2011 mulai bertambah. Polwannya pun dari satu orang kini ada lima,” pungkasnya.

 

Gangguan Kucing

Hobi menyenangi anjing membuat Bripka Melki Susanto, Bripda Muhammad Ari, Bripda Yusak Nugroho dan Bripda Permadiyang tergabung dalam tim Pelacak Kriminal Umum menikmati tugasnya.  Pengalaman di lapangan kerap kali membuat mereka bangga ketika anjing yang dilatih mampu memberikan petunjuk untuk ditindaklanjuti.  “Sudah banyak kasus yang berhasil kami bantu, seperti penculikan di Pontianak Utara, pencurian, pembunuhan baby sitter di Bali Mas 3 tetapi anjingnya sekarang sudah mati,,” papar  Melki.

Dalam pelacakan, mereka biasanya mencari sidik jari, telapak kaki untuk kemudian dilacak oleh anjing. Namun di TKP kerap mengalami kendala. Terutama ketika ramai masyarakat yang datang. “TKP itu harus steril, satwa harus masuk duluan, tapi kalau sudah ramai orang, sulit cari titik tolak. Apalagi kalau TKP-nya sudah rusak. Sementara kalau lewat dari 8 jam sudah sulit melacaknya,” ungkap dia.

Kucing menjadi pengganggu dalam melacak pelaku. Inilah yang membuat mereka menyediakan personil yang ditempatkan sebagai pelindung. “Kalau sudah gangguan kucing, anjing tidak fokus lagi. Butuh waktu minimal lima menit untuk mengembalikan fokusnya,” paparnya.

Anjing sering dilatih lari. Tujuannya agar saat menjalankan tugas, dia sudah terbiasa, dan tidak mudah lelah. “Biasanya kami hanya turunkan satu anjing. Tetapi tergantung kondisinya, kalau jauh petunjuknya, maka kami buat sistem estafet. Kalau anjing satu lelah, ganti satunya lagi,” tukas dia.

Antisipasi Teror Bom

Teror bom sangat mengkhawatirkan, itulah sebabnya anjing pelacak bahan peledak pun sering ditampilkan. Seperti anjing yang bernama Charly ini. Sudah empat tahun dia bergabung dengan unit satwa. Anjing tersebut dilatih oleh Brigadir Eka, Bripda Anisa, dan Bripda Andre.  “Biasanya kami tugasnya di Pelabuhan, Bandara, dan ke Perbatasan, serta tempat ibadah,” ucap Eka.

Selama ini, untuk di Kalbar pemanfaatannya lebih banyak untuk mengantisipasi. Termasuk ketika ada presiden datang, untuk melakukan pengamanan. Kemudian pengawasan di tempat-tempat yang disinyalir rawan, ataupun ada isu teror.

Agar anjing menjalankan tugasnya dengan baik, pemeliharaan tentu sangat penting. Meskipun sebenarnya tidak rumit, tetapi bila dibiarkan anjing mudah saja sakit. “Bersihkan kandangnya, jemur anjingnya. Hal penting untuk mengetahui sehat atau tidaknya itu dari hidungnya. Jika berair berarti anjing tidak sehat, termasuk ketika kulitnya kering. Bagus itu anjing dalam keadaan lembab,” pungkasnya.

 

Terkendala Lokasi Jauh

 

Brigadir Herman Firdaus, Bripda Pratomo, Bripda Pane, dan Bripda Tami sudah  tergabung dalam tim Pelacak Narkotik. Di pelacak narkotik ini, mereka mengaku tantangan utama adalah bagaimana melatih satwa K-9, dari yang nol sampai bisa melacak, dan  tahu bahwa barang tersebut adalah narkoba. “Kalau sudah mengerti, itu menjadi kebanggan tersendiri bagi kami,” jelas Herman mewakili teman-temannya.

Latihannya satu minggu sekitar tiga kali. Dia pun merasakan bagaimana dari awalnya memberi makan, membawa anjing jalan-jalan, hingga latihan memahami mana narkotik dan mana yang bukan. “Setelah jangka waktu sebulan atau dua bulan, setelah merasa anjing sudah dekat dengan kita, baru bisa dipakai buat latihan,” tuturnya yang pernah digigit lantaran anjing tersebut marah tempat makannya diambil.

Pengalaman di lapangan, ke Bandara, Pelabuhan, Entikong, dan beberapa tempat lainnya di Kalbar. Namun, secara prestasi dia mengatakan belum menemukan. “Lapangannya juga susah. Apalagi jika di perbatasan. Dari Pontianak ke sana jauh. Tiba disana, butuh waktu lama untuk mengembalikan kondisi anjing agar mau bekerja. Sementara kami dikasih waktu sekitar empat sampai lima hari saja.”ucap dia.**

Berita Terkait