Mengenal Sosok Jarot Winarno, Calon Bupati Sintang

Mengenal Sosok Jarot Winarno, Calon Bupati Sintang

  Senin, 14 December 2015 09:17
Jarot Winarno

Berita Terkait

Berdasarkan rekapitulasi formulir C1 KPU Sintang yang sudah 100 persen masuk, pasangan Jarot Winarno - Askiman unggul dengan perolehan 93.903 suara atau 41,7 persen dari total pemilih. Bagaimana sosok Jarot Winarno yang telah mengabdi sebagai dokter selama bertahun-tahun di Sintang? SUTAMI, Sintang

Di tengah kepadatan jadwal, siang kemarin Jarot Winarno menyambut dengan hangat Pontianak Post yang hendak mewawancarainya. Ia meluangkan waktu bercerita panjang lebar sambil menunggu jadwal keberangkatan penerbangan ke Pontianak. Pembicaraan  mengalir dengan suasana santai.

Jarot sebelum tampil sebagai calon Bupati Sintang 2015-2020 pernah menjabat wakil Bupati Sintang periode 2005-2010 mendampingi Milton Crosby. Kemudian tampil mencalonkan diri sebagai calon Bupati 2010-2015 berpasangan dengan Kartius, namun gagal tampil sebagai pemenang. Kendati proses pemilihannya berjalan alot dengan sampai harus berperkara di Mahkamah Konstitusi.
Namun bulat dan tekad pengabdian tidak mematahkan semangat atau ciut kembali maju sebagai kandidat bupati walau pernah gagal. Bagi Jarot Sintang adalah tempat pengabdiannya sejak masa muda. Waktu puluhan tahun telah dihabiskan di Sintang dimulai dengan tugas sebagai dokter.
Hubungan Jarot menyatu dengan Sintang dihantarkan penempatan tugasnya sebagai dokter pada 1986, atau setahun usai lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. “Saya langsung bertugas di Kecamatan Ketungau Hilir,” ujarnya.
Jarot betah di Sintang sekalipun ditugaskan di wilayah pedalaman. Meski berlatar belakang besar dan tumbuh di kota besar. Sekolah Dasar hingga jenjang perguruan tinggi semua dilalui Jarot di Jakarta.
Saat bertugas di Ketungau Jarot bukan hanya mengabdi sebatas ke bidang kesehatan. Namun ikut menyatu dengan alam. Hubungan dengan masyarakat menjadi utama. Tidak ingin berjarak sekalipun menyandang status dokter.
“Saya minum air Ketungau. Berenang di Sungai Ketungau, masang pukat (alat penangkap ikan tradisional) di Ketungau. Saya hidup sama dengan masyarakat Sintang,” kata Jarot.
Usai bertugas di Ketungau, Jarot pindah ke Tanah Pinoh. Kemudian dipindahkan lagi ke Sungai Durian. Masa tugas di Ketungau hingga Sungai Durian, di tiga tempat tugas berbeda itu, Jarot lalui hampir enam tahun. Terhitung 1986 hingga 1992.
Lalu pada periode selanjutnya dipercaya sebagai kepala Dinas Kesehatan Sintang, saat usianya masih 32 tahun.
Kenyang pengalaman di daerah pedalaman memberi kenangan tersendiri bagi Jarot. Kenangan itu tetap berkesan hingga kini. Berkali-kali Jarot tenggelam saat melintasi riam Sintang yang memang terkenal ganas seperti di Sungai Melawi.
Semua dilalui saat menjalankan tugas sebagai dokter, termasuk ketika telah menjabat kepala dinas kesehatan. “Saya pernah  tenggelam di Riam Kepala Gading di tanah Pinoh. Di Riam Kepala Gading dua kali saya   tenggelam. Di  riam daerah Serawai juga pernah tenggelam. Berkali-kali saya tenggelam di Riam, ketika melaksanakan tugas. Baik saat masih sebagai dokter puskesmas  maupun kepala dinas,” cerita Jarot.
Kejadian yang mengancam nyawa yang menimpa tidak menjadikan Jarot kendur semangat untuk tetap mengabdi. Jarot menganggap  profesi dokter nomor satu adalah melayani masyarakat, dengan segala risiko. Begitu juga saat memberi pelayanan tidak mengutamakan imbalan. Tidak jarang pelayanan diberikan secara gratis, karena pasien yang datang berobat memang kalangan tidak mampu. Namun sangat membutuhkan pertolongan medis.
“Itulah dokter di kampung pedalaman. Nomor pertama adalah melayani. Ada yang tidak punya uang tak  bayar. Kalau ada ayam memberi ayam,  kita terima. Pakai kulat juga diterima. Jadi alat pembayaran bermacam-macam.  Semua kita terima yang penting melayani,” kata Jarot.
Interaksi tugas bersama masyarakat dipedalaman lambat laun membuat timbul keterpanggilan Jarot. Hati kecilnya tergerak untuk bisa membantu masyarakat secara luas,bukan hanya sebatas di bidang kesehatan. Tapi  di segala sektor.
“Terpanggil.  Kita yang mengabdi di pedalaman bertahun-tahun sering merasakan sendiri  negara tidak hadir  ketika masyarakat merasakan masalah. Saya ingin menghadirkan pemerintah ke tengah masyarakat,” kata Jarot.
“Saat jadi wakil Bupati, saya tidak pernah terjun ke politik. Saat itu,  syarat jadi wakil memang harus diusung partai politik, tapi masih pegawai negeri. Saya dibawa beberapa calon, untuk mengajak maju. Tapi saya putuskan berpasangan dengan Milton Crosby. Kebetulan usia kami masih muda. Pak Milton 46 tahun dan saya 45 tahun,” kata Jarot.
Kemudian kembali maju sebagai calon bupati pada 2015 berpasangan dengan Askiman, Jarot memastikan bukan karena ingin membuang rasa penasaran kalah di pemilihan bupati pada 2010.
“Saya maju lagi dengan Askiman, karena perjuangan ingin mendorong terwujudnya masyarakat madani. Membuktikan Sintang tidak membedakan suku bangsa.  Agama suku bangsa tidak masalah. Semua disatukan akan menjadikan kemenangan merajut pembangunan,” kata Jarot.
Karena itu, Jarot memastikan untuk merealisasikan visi misi dalam membangun Sintang lima tahun kedepan. Sejumlah bidang akan dihidupkan kembali. Seperti olahraga di Sintang yang pernah mengalami kejayaan.
“Saya percaya manusia dibangun harus seutuhnya selain diberikan pembangunan fisik kita memberikan pembangunan non fisik atau mental. Pertama keagamaan dan kerohanian, untuk semua agama. Kedua adat budaya, dan kesenian. Ketiga bidang pemuda dan olaharga.. Membangun Sintang harus utuh.  Fisiknya dibangun jiwanya juga dibangun,” kata Jarot.
Maka, menurut Jarot penyelesaian rumah adat, mensejahterakan ketua adat di desa,  melestarikan kesenian yang tumbuh di Sintang termasuk prioritas. Termasuk menyatakan kesiapan kalau memang ditunjuk sebagai tuan rumah  Porprov 2018.  “Saya siap,” kata Jarot.
Sementara dalam membangun infrastruktur, Jarot akan menggunakan konsep pembangunan dimulai dari daerah pedalaman, tepian dan perbatasan.  Baru membangun ke dalam kota. Lalu  percepatan segera pemekaran kecamatan. Pemekaran Kabupaten Ketungau di perbatasan, dan mewujudkan pembentukan provinsi Kapuas Raya.
Ia pun tidak ingin masyarakat Sintang masih ada belum menikmati listrik. Percepatan listrik masuk desa bakal digenjot dalam pemerintahannya.
“Campur tangan aktif pemerintah daerah mempercepat program listrik masuk desa harus ada. Bila perlu pemerintah menganggarkan melalui APBD. Masyarakat terasa belum merdeka karena belum terjangkau listrik,” kata Jarot.
Jarot tidak menampik biaya pembangunan tidak murah. Apalagi jika melihat kebutuhan pembangunan di Sintang. Ketersediaan anggaran tidak sebanding dengan persoalan yang harus dibenahi.  
“Membiayai pembangunan hanya mengandalkan APBD Sintang tidak cukup. Komunikasi dengan pemerintah provinsi harus berjalan. Saya harus lapor dengan Bapak Gubernur. Kedua dengan pemerintah pusat. Dana di pusat sangat besar.  Komunikasi pembangunan yang harus efektif,” kata Jarot.
Ia menambahkan program sinkronisasi   dari Proivinsi juga akan dijalankan. Seperti keberadaan  Rumah Sakit Rujukan di Sintang, yang sudah enam tahun pembangunannya tak kunjung selesai. Jarot komitmen menyelesaikan .  Kemudian untuk Pembangkita tenaga listrik di  Kanayan yang dimungkinkan mampu menjadi sumber listrik bagi Sintang dan Melawi.  
Isu korupsi dan good goeverment. Tata kelola pemerintah yang bersih sesuai visi misi saya. Soal korupsi merupakan hal keteladanan. Kami berdua akan memberi keteladanan. Nomor dua sistim pengawasan akan diperkuat. Butuh keteladanan biar bawahan mengikut kemudianstruktural berarti sistim. “Jangan tidak percaya dengan kami,” kata Jarot.
Sebelumnya pada kesempatan berbeda Jarot menyatakan tetap menunggu hasil resmi KPU untuk keputusan menetapkan Bupati terpilih, kendati kini menjadi pasangan calon Bupati dan wakil dengan perolehan suara unggul dari dua pasangan kandidat lain.
Menurut Jarot, dengan hasil real  count, mengucapkan terima kasih kepada  masyarakat Sintang, yang sudah mempercayakan  memberi amanah.  "Ini angka sementara, maka kita harap segenap pendukung  menjaga suara," kata Jarot. (*)

 

Berita Terkait