Mengenal Pantak, Patung Keramat di Landak, Ada yang Berusia 800 Tahun

Mengenal Pantak, Patung Keramat di Landak, Ada yang Berusia 800 Tahun

  Sabtu, 20 February 2016 08:49
PANTAK: Ria Kambe sedang membaca mantra mengunakan bahasa Kanayatn. Sesekali, tangannya memjumput beras kuning dan melemparkannya ke area pantak AGUS PUJIANTO/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Sekilas, deretan patung menyerupai manusia itu seperti ukiran patung pada umumnya. Namun siapa sangka, jika 32 figuratif yang terbuat dari kayu ulin itu sangat sakral bagi komunitas Dayak Kanayatn di Kabupaten Landak. Bukan saja dikeramatkan, pantak di Desa Bagak, Kecamatan Menyuke, itu menjadi pusat ritual, tempat berdoa meminta keselamatan, dan kemakmuran. AGUS PUJIANTO, Landak

Bias sinar matahari belum saja menyeruak dari balik pepohonan. Saya mulai memacu kendaraan menuju kediaman tetua adat atau pelaksana adat di Desa Bagak, Kecamatan Menyuke, Kabupaten Landak. Ria Kambe’ begitu nama lengkapnya. Tubuhnya ramping, rada ceking. Jarinya, hampir penuh terbalut cincin. Intonasi suaranya cepat, meski bernada stereo namun berwibawa. Jika berbicara, bibirnya acap kali bergetar.

Sejumlah persyaratan ritual sudah siap untuk dipersembahkan: telur mentah, beras lemang, seekor ayam jantan, dua batang lemang.  Semuanya ditempatkan di atas piringan tembaga tebal. Dan satu lagi, sebuah alat peraga yang terbuat dari sebatang bambu yang dikuliti sedemikian rupa, hingga tampak seratnya.

Pabayo, begitu sebutannya. Alat peraga ini, pasti dibuat dalam setiap kali akan melakukan ritual adat. Bisa dibilang, pabayo ini lambang khusus Dayak Kanayatn. Sebagai simbol penyambutan terhadap kehadiran Jubata. Menurut sejarah, dalam setiap rautan memiliki makna tersendiri, begitu juga dengan tingkatannya. Pabayo ini nantinya, akan ditancapkan ke tanah di tempat acara ritual akan dilaksanakan.

Setelah semua syarat terkumpul, kami duduk sama rendah di atas tikar anyaman pandan. Menunggu lantunan doa berbahasa Kanayant dipanjatkan. Mengenakan baju kebesaran, Ria Kambe’ mulai membaca lantunan doa. Mulutnya komat-kamit. Intonasinya cepat. Sementara kedua tangannya, memukul Baliukng (besi sejenis kapak) dengan ritme yang sama. Sesekali, tangannya juga menebarkan beras ke area pantak.

Setelah menebarnya, ia kemudian berdiri dan menjumput beras. Lalu mengitari pantak satu persatu. Tangannya yang sudah menua itu, terlihat cekatan. Menggunakan ikat kepala, beras yang dijumputnya itu juga sesekali diletakkan di dahinya.

Ritual belum selesai sampai di situ. Juru kunci juga punya asisten yang bertugas menyediakan setiap permintaan. Masih seperti sejumput butiran beras. Namun kali ini, mediasinya perantara ayam jantan, yang juga mengitari area pantak. Sebelum akhirnya disembelih, dan darahnya diambil untuk digunakan dalam prosesi ritual selanjutnya.

Selain darah ayam, bulunya juga digunakan dalam ritual. Bulu yang sudah dicabut beberapa helai, langsung ditancapkan di sebuah pabayo.

Pantak begitu sebutannya. Wujudnya seperti ukiran patung yang terbuat dari kayu belian. Bentuknya sudah tak lagi sempurna, sebab usianya sudah ratusan tahun lamanya. Pantak bisa juga diartikan patung penghargaan terhadap pahlawan di masa lalu, yang sudah berjasa besar terhadap masyarakat. Roh-roh para panglima, pembesar, maupun tetua Suku Dayak yang memiliki keahlian di masanya, pada saat meninggal rohnya di pindahkan ke media patung, melalui sebuah upacara khusus. Dan patung itu hingga kini, dilekatkan namanya menjadi pantak. Hal ini, diyakini rohnya akan tetap hidup selamanya. 

Pantak umumnya terbuat dari kayu ulin, yang dipahat sedemikian rupa menyerupai manusia pada umumnya.  Namun ada juga yang berbentuk batu. Ukurannya, juga relatif: yang paling kecil, seukuran betis orang dewasa. Sementara yang paling besar, bisa sampai setengah meter, bahkan lebih. Dengan diameter 20-30 cm.

Ada 32 pantak di Desa Bagak yang masing-masing mempunyai nama-nama sendiri. Di sekitar lokasi pantak, biasanya diberi pondok, bisa juga pagar beton. Masing-masing dipercaya punya roh yang menunggunya dan mempunyai keahlian masing-masing. Bagi Dayak Kanayant, pantak memiliki arti penting: “Gerejanya Dayak”. Sebab, di sinilah pusat ritual, tempat berdoa meminta keselamatan, dan kemakmuran.

Pama, cikal bakal lahirnya pantak. Pama sendiri diartikan sebagai berkat, yaitu kekuatan yang memberi keuntungan. Pama  hanya dimiliki orang besar dan juga pengayau yang berhasil. Jika orang itu meninggal, pama dipindah ke pantak.

Menurut penuturan Ria Kambe’, jejeran pantak yang saat ini masih berdiri di Dusun Bagak, sudah berusia hampir 800 tahun. Dia menyebut, keberadaanya sudah ada sejak zaman batu.

“Tahun 612, sebelum masehi sudah ada pantak batu. Pantak ini, sudah 11 keturunan. Hitung saja, rata-rata satu keturunan usianya 70 tahun, sudah berapa. Pantak ini, namanya pantak gasoh, jumlahnya ada 32 dan semuanya dihuni (roh),” kata Ria Kambek belum lama ini.

Keberadaan pantak selain dianggap sebagai tempat ritual yang di sucikan, juga dipercaya untuk menjaga keselamatan kampung. “Pantak ini, tempat nenek moyang kami berdoa. Di sini bukan hanya orang kampung saja yang meminta. Pejabat seperti bupati dan lainnya, juga pernah meminta di sini. Sebelum ada tentara, polisi, dialah (pantak) yang jaga keamanan, keselamatan kampung ini,” ungkapnya.

32 pantak di Dusun Bagak, kini sudah resmi dijadikan cagar budaya dan diakui pemerintah. Meski demikian, Ria kambe’ tetap berpesan, agar warisan leluhur dapat dijaga serta dilestarikan, apapun adat dan budaya Suku Dayak.

“Pantak di sini, istilahnya gereja besar kita, bagi orang Dayak. Karena ini, bisa tersebar ke anak kita,” sebutnya.Usai ritual, juru kunci kembali berdoa untuk keselamatan dan keberkahan semua pengunjung yang mengikuti proses ritual. Baru saja doa di tutup, suara geluduk menggelegar, pertanda hujan segera turun. Kami pun bergegas untuk berkemas dan meninggalkan area pantak. “Ini tandanya, doa kita di kabulkan,” tukasnya. (*)

Berita Terkait