Mengenal Kesesatan Ajaran Gafatar (Bagian Kedua)

Mengenal Kesesatan Ajaran Gafatar (Bagian Kedua)

  Kamis, 4 February 2016 09:44   2,592

 Oleh: Dr. H. Wajidi Sayadi, MAg Ketua Komisi Fatwa MUI Kalimantan Barat

Kedua, dalam tulisan yang terdapat dalam Diktat (semacam panduan bimbingan keagamaan), tertulis: Surat An-Nisa’ (4/136) Rukun Iman ada 5; Iman kepada Alloh, Iman kepada Malaikat, Iman kepada Kitab-kitab, Iman kepada Rosul, Iman kepada hari Qiyamah. Ajaran ini mengurangi atau mengingkari salah satu dari rukun Iman yang keenam, yaitu iman kepada takdir. Iman kepada takdir tidak disebutkan dalam surat an-Nisa’ ayat 136 tersebut, tetapi ditegaskan dalam hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam. Ketika malaikat Jibril bertanya tentang Iman, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam menegaskan:  “(Rukun)  Iman adalah beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik dan buruk. (HR. Nasai bersumber dari Umar bin Khattab). Dengan penegasan hadisi nilah para ulama sepakat bahwa rukun Iman ada enam, bukan lima. Hadis dalam konteks ini berfungsi sebagai Bayan at-Tasyri’atau bayan at-Taqrir, yaitu hadis sebagai pemberi penjelasan dan penetapan yang tidakada dalam al-Qur’an.

Fungsi ini ditegaskan dalam al-Qur’an: “Dan Kami turunkan adz-Dzikr (al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) agar engkau menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan. (QS. An-Nahl, 16: 44). Salah satu fungsi keberadaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam. Adalah untuk menjelaskan isi kandungan al-Qur’an. Penjelasan Nabiitulah yang disebut hadis. Samahalnya, dalam al-Qur’an yang diharamkan hanyalah bangkai, darah, daging babi, dan hewan yang disembelih atas nama selain Allah, (QS. Al-Maidah, 5: 3). Termasuk minuman khamr yang haram ditegaskan dalam al-Qur’an surat al-Maidah ayat 90. Kalau kita beragama hanya menggunakan al-Qur’an saja, tanpa hadis, maka bisa memunculkan paham bahwa anjing, ular, tikus, binatang buas semuanya boleh dimakan, sebab tidak ada larangannya dalam al-Qur’an. Paham seperti ini sangat keliru dan bisa menyesatkan.

Oleh karena itulah diperlukan penjelasan dari Hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam, karena hadislah yang menjelaskan haramnya anjing, ular, tikus, binatang buas, dan lain-lainnya. Itulah sebabnya para ulama sepakat, bahwa diantara syarat dan kriteria yang harus dipenuhi bagi penafsir al-Qur’an adalah yang mengerti hadis dan ilmu hadis. Tidak mau menggunakan hadis sama saja dengan inkarusunnah, menolak keberadaan hadis.

Ketiga, dalam catatan Diktat (semacam buku panduan bimbingan keagamaan) mereka, ketika menguraikan pengertian adzan, tertulis kata HAYYA artinya hidup. HAYYALA SHOLAH artinya menghidupkan sholat bukan mengerjakan sholat. HAYYALA FALAH artinya hidup ini untuk mencapai kemenangan. Dalam kenyataannya juga, beberapa anggota GAFATAR, mengaku bahwa ia telah diajari bahwa shalat dan puasa itu tidak wajibdilaksanakan. Ketika proses pemulangan anggota Gafatar tinggal di penampungan Kubu Raya dan tempat penampungan daerah tujuan yang sudah disiapkan fasilitas tempat shalat, terbukti mereka tidak mau shalat. Padahal kewajiban shalat dan puasa ini sudah merupakan qath’i dan sepakat para ulama, berdasarkan al-Qur’an dalam beberapa ayat menegaskan: ”Dirikanlah shalat”. (QS. Al-Isra’, 17: 78), dan hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam. menegaskan: ”Islam dibangun atas lima dasar; bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan melaksanakan ibadah haji. (HR. Tirmidzi bersumber dari Ibnu Umar).

Dalam hadis lain, kedudukan shalat dalam Islam dipertegas oleh sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam. ”Barang siapa meninggalkan shalat secara sengaja, maka sesungguhnya ia telah kafir nyata.” (HR. Thabarani bersumber dari Anas bin Malik). Para ulama menjelaskan bahwa meninggalkan shalat disertai keyakinan bahwa shalat tidak wajib, maka ia sudah menjadi kafir. Majelis Ulama Indonesia telah merumuskan kriteria aliran sesat, antara lain mengingkari  salah satu rukun iman dan rukun Islam.

Keempat, Meyakini bahwa masih ada turun wahyu sesudah al-Qur’an, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam bukanlah nabi terakhir,penutup para nabi, (Teologi Abraham, h. 127), akan tetapi masih terbuka pintu adanya Nabi dan Rasul setelah nabi Muhammad (Teologi Abraham h. 133), dan pengakuan dari para pengikunya yang mempercayai Ahmad Musaddeq sebagai nabi dan rasul. Ajaran ini adalah bertentangan dengan firman Allah dalam al-Qur’an: (Terjemahan) “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan khatam an-nabiyyin, penutup para nabi.” (QS. Al-Ahzab [33]: 40). Dalam ayat ini sangat jelas dan tegas bahwa nabi Muhammad sebagai Rasul dan khatam an-nabiyyin artinya penutup para nabi. Pengurus Gafatar menafsirkan khatam an-nabiyyin sebagai nabi yang paling mulia. Padahal ayat ini sudah diperjelas dan dipertegas oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam dalam hadisnya: (Terjemahannya) ”Sesungguhnya akan ada nanti di kalangan umatku banyak orang pendusta semuanya mengaku sebagai nabi, padahal aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi sesudahku. (HR. Tirmidzi bersumber dari Tsauban). Hadis lainnya menyebutkan: ”Sesungguhnya kerasulan dan kenabian telah terhenti. Oleh karena itu, tidak ada lagi Rasul danNabi sesudhaku. (HR. Tirmidzidan Ahmad dariAnas bin Malik). Kesesatan ajaran yaini, karena mengabaikan atau tidak percaya kepada hadis.Padahal Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan agar menggunakan hadis dalam beragama.

Dengan firman-Nya: “Apa yang disampaikanRasul (berupahadis) kepadamu, maka terimalah. Apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr, 59: 7). Ayat ini juga sekaligus menolak keberadaan aliran inkarussunnah, kelompok yang mengingkari hadis.Saya membaca buku panduan bimbingan pengajian Gafatar dan dokumenlainnya, hanya menggunakan ayat-ayat al-Qur’an saja lengkap dengan nomor surat dan nomor ayat. Tak satu pun hadis, apalagi keterangan para ulama ahlitafsir al-Qur’an.Kepada umat Islam, berhati-hatilah pada kelompok yang mengajarkan hanya dengan mengandalkan semata-mata ayat-ayat al-Qur’an saja, tanpa hadis dan penjelasan para ulama.Kita sering kali terjebak dan kagum hanya karena banyaknya ayat-ayat al-Qur’an yang keluar dari mulutnya.Apalagi mengatasnamakan wahyu dari Allah.

Kelima, Hari kiamat dipercayai sebagai hari datangnya hari kemenangan millah Abraham (hari tegaknya Kerajaan Allah di dunia), bukan akhir zaman yang diawali oleh peristiwa kehancuran bumi dan alam semesta, (Teologi Abraham h. 238). Mereka juga percaya Millah atau teologi Abraham yang menyatukan iman Yahudi, Kristen, dan Islam, (Teologi Abraham h. 137).Bisa jadi mereka menafsirkan hari kiamat seperti ini, karena menyesuaikan misi dan perjuangan organisasinya, sebagaimana dalam bukunya Memahami dan Menyikapi Tradisi Tuhan, yaitu ada enam fase menuju khilafah, yaitu 1. Fase Sirrun (rahasia), 2. Fase Jahrun (terang-terangan), 3. Fase Hijrah, 4. Fase Qital (perang), 5. Fase Futuh (menang), dan 6. Fase Khilafah, membentuk negara Islam. Percaya kepada hari kiamat termasuk rukun iman. Tidak mempercayai hari kiamat sebagai hari akhir dimana kehancuran bumi dan segala isinya berarti mengingkari salah satu rukun iman, sebagaimana mengingkari adanya takdir. Hari kiamat sebagai hari kehancuran bumi dan segala isinya ditegaskan oleh al-Qur’an dalam beberapa ayat al-Qur’an. Bahkan ada satu surat dalam al-Qur’an bernama surat al-Qari’ah (al-Qiyamah)dan al-Zilzal (kegoncangan dahsyat) yang menceritakan kehancuran bumi dan seisinya. Bahkan dipertegas lagi dalam Hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam. Semoga Allah memelihara kita dan terhindar dari paham dan aliran sesat dan menyesatkan. (*)