Mengais Sisa Kejayaan Industri Kayu

Mengais Sisa Kejayaan Industri Kayu

  Minggu, 20 December 2015 13:50
HARYADI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Rasanya tidak berlebihan jika menyandangkan gelar kerajaan Industri kayu pada pulau Borneo. Industri perkayuan yang dulunya  tumbuh subur juga pernah berjaya  di Kalimantan Barat, namun kesohorannya kini tinggal kenangan.

OLEH HARYADI

Industri kayu di Kalimantan Barat pernah mengalami kejayaan .Tercatat era 1980, pabrik kayu menjadi primadona. Dimana era keemasan itu menyerap banyak tenaga kerja. Namun Setelah tahun 2000. Masa kejayaan itu runtuh. Kawasan yang dulu bising dengan suara mesin pabrik  dan lalu lalang orang mengenakan seragam khas perusahaan, sekarang hanya  menyisakan bangunan  kosong ditumbuhi rumput ilalang.
Kawasan Desa Kuala Dua, Kubu Raya misalnya. Bila melewati sepanjang jalan desa masih banyak bangunan-bangunan pabrik kayu yang berdiri. Namun tidak semua pabrik itu beroperasi. Tercatat hanya menyisakan satu perusahaan besar yang masih gigih bertahan. Perusahan tersebut adalah PT Alas Kusuma Group. Perusahaan kayu ini tetap eksis memproduksi kayu lapis hingga sekarang.
Kegigihan pabrik PT Alas Kusuma Group tak mampu diikuti perusahaan kayu lainnya. Keterbatasan bahan baku yang semakin menipis, membuat pabrik pengelolahan kayu satu persatu  berhenti beroperasi. Sebut saja PT Wana Bangun Agung (WBA), PT. Bumi Raya Utama Group, PT Benua Indah Group, PT Barito Pasific yang tak lagi memperkerjakan para karyawannya alias gulung tikar.
Masyarakat yang sudah terlena dengan industri kayu, menjadikan satu-satunya pekerjaan tersebut  sumber pendapatan utama. Dulu perusahaan kayu mampu menampung banyak pekerja, tak heran jika dulu kawasan Desa Kuala Dua cukup ramai dengan lalu lalang karyawan pabrik. Ramainya pekerja  pabrik yang mendiami asrama perusahaan,  merupakan jemputan yang didatangkan dari daerah Jawa dan kabupaten lain di Kalbar, seperti Sambas, Singkawang dan Bengkayang.
Sejak runtuhnya kejayaan industri plywood, memang banyak karyawan yang berada di persimpangan jalan. Ada yang langsung pulang ke kampung halaman. Namun ada juga yang masih tetap bertahan di pabrik. Mereka  menunggu kepastian akan statusnya yang menggantung. Seperti karyawan PT Wana Bangun Agung, sampai saat ini eks pekerja masih tetap bertahan di asrama perusahaan, menunggu kejelasan status dan  pesangon yang hingga saat ini belum mereka dapatkan, miris tapi itulah kenyataanya.**

Berita Terkait