Mengagumi Budaya Lokal dari Kabupaten Sanggau Nyeser, Prosesi Temiang Taba Mengusir Hantu

Mengagumi Budaya Lokal dari Kabupaten Sanggau Nyeser, Prosesi Temiang Taba Mengusir Hantu

  Senin, 12 February 2018 11:00
USIR HANTU: Prosesi Nyeser dari desa Temiang Taba. Upaya mengusir hantu dan 2009 silam pernah tampilkan di Kuta, Bali difasilitasi Dinas Pariwisata Sanggau.SUGENG/PONTIANAKPOST

Antusias masyarakat kedesaan Temiang Taba terlihat memadati lokasi pegelaran seni dan budaya nyeser atau mengusir hantu yang dilaksanakan di Dusun Manuk dan Manuk Labong, Desa Temiang Taba, Kecamatan Balai.

SUGENG ROHADI & SUKARDI, Temiang Taba

NYESER atau buru antu yang berarti dalam bahasa indonesianya mengusir hantu merupakan budaya turun temurun oleh masyarakat setempat. Budaya ini sangat di kenal sebagai budaya lokal yang sangat unik. Pada tahun 2009 silam, budaya nyeser pernah tampilkan di Kuta, Bali yang difasilitasi Dinas Pariwisata Kabupaten Sanggau.

Pada pelaksanaan Sabtu (10/2) lalu di Dusun Manuk dan Manuk Labong, Bupati Sanggau, Paolus Hadi juga hadir untuk mengikuti budaya yang telah diperkenalkan secara nasional tersebut. Budaya lokal ini tentunya diharapkan dapat terus bertahan sebagai aset wisata budaya bagi Kabupaten Sanggau.

Mateus Yus selaku ketua pelaksana menyampaikan acara pegelaran seni dan budaya nyeser tersebut bagi masyarakat Dusun Manuk dan Manuk Labong selalu dilestarikan dengan cara dilaksanakan setiap tahun.

Pelaksanaan tersebut didasarkan atas hasil beraump bekudong masyarakat dua dusun yakni Dusun Manuk dan Manuk Labong sehingga terlaksana seni dan budaya nyeser tersebut sebagai bagian pelestarian budaya.

Kades Temiang Taba, Kiyang menjelaskan pelestarian adat budaya tersebut dilaksanakan setiap tahun oleh masyarakat sub suku Dayak Taba yang ada di wilayah Kecamatan Balai. Untuk diketahui bahwa pihak pemerintahan desa sangat menyambut baik terhadap kegiatan tersebut.

 “Pelestarian adat budaya lokal yang dilaksanakan oleh masyarakat setempat dimaksudkan memeliharanya dengan baik sampai ke anak cucu nantinya agar generasi mendatang tidak lupa dengan asal usulnya,” katanya.

Ketua DPRD Sanggau, Jumadi yang juga menghadiri acara itu melihat bahwa hadirnya adat dan budaya dapat menunjukkan jati diri sebagai masyarakat yang berbudaya. Dari hal tersebut masyarakat harus berbangga bahwa mereka memiliki nilai-nilai keluhuran dalam kehidupannya sehari-hari.

 “Dengan dilestarikannya adat budaya lokal ini tentu selaku generasi penerus punya kewajiban menjaga adat budaya nenek moyang itu hingga saat ini dan seterusnya,” ujarnya.

Sementara itu, orang nomor satu di Sanggau saat ini, Paolus Hadi mengatakan adat budaya ini merupakan aset bagi masyarakat itu sendiri dan merupakan suatu kebanggaan.

 “Kita selaku masyarakat adat khusus masyarakat adat dayak setempat harus bangga dengan budaya yang dimiliki. Maka teruslah melestarikan adat budaya warisan nenek moyang tersebut agar tidak hilang dari peradaban dunia,” ungkapnya.

Selaku Bupati Sanggau, dia mengajak masyarakat adat harus kompak dan mau menunjukkan jati dirinya termasuk semangat gotong royong. Dia juga berpesan untuk senantiasa memelihara hutan adat, simbol-simbol adat, dan tanah air yang tercinta.

Kepada masyarakat khususnya para orang tua, bupati mengajak sama-sama mendukung anak-anak Sanggau untuk bersekolah supaya punya pendidikan dan masa depan. Di akhir acara budaya nyeser, dilakukan ritual menghanyutkan lanting di Sungai Tayan sebagai simbol untuk mengusir segala hantu pengganggu. (*)