Menembus Kubu Abu Sayyaf lewat Conflict Resolution

Menembus Kubu Abu Sayyaf lewat Conflict Resolution

  Kamis, 19 May 2016 09:30
PASTOR WILLIAM CHANG

Berita Terkait

Mindanao, Filipina Selatan. Pengikut Abu Sayyaf hidup dan berkegiatan di kota ini. Keamanan sangat mahal. Pastor William Chang pernah berkesempatan berkunjung ke sana. Berikut ini napak tilas perjalanan yang secara khusus ditulis untuk Pontianak Post. 

--------

Rabu, 5 September 2002. Langit cerah. Udara bersih. GIA (Garuda Indonesia Airways) tepat waktu meninggalkan Supadio Pontianak menuju Cengkareng, Jakarta. Beberapa jam kemudian saya berganti pesawat menuju Manila, ibu kota Filipina. 

Kota ini padat. Jumlah penduduk waktu itu melampaui sepuluh juta. Kepincangan sosial sangat terasa. Jurang antara si kaya dan si miskin seperti langit dan bumi. Tidak sedikit pekuburan menjadi tempat bermalam. Sementara itu pejabat tinggi dan orang kaya bermandikan duit. Dengan duit mereka bisa memperoleh apa pun yang diperlukan.

Bandara di Manila masih sederhana. Teknik pemeriksaan barang bawaan termasuk tradisional. Koper harus dibuka. Isi koper diperiksa satu per satu. Tidak sedikit waktu habis di bagian pemeriksaan. Setelah melangkahkan kaki ke luar bandara, sopir taksi mulai menawarkan jasa. Tawaran sopir taksi perlu pintar-pintar ditanggapi. Penentuan harga penuh variasi. 

Kendaraan kebanggaan orang Filipina, jipney, memadati sejumlah ruas jalan. Lalu lintas semrawut. Tak jauh beda dari keadaan lalu lintas di Pontianak. Markering (garis pembatas) jalan kacau-balau. Mutu cat untuk markering jalan mirip dengan cat di daerah kita. Rendah. Harga murah. Cepat luntur. Peraturan lalu lintas tidak ditaati semestinya. Ketidak-teraturan lalu lintas sangat terasa. Sementara berbicara dengan sopir, penumpang lain mulai meninggalkan jipney. Akhirnya saya sampai di tempat tujuan dalam keadaan haus.

Rombongan antarbangsa Inggris, Irlandia, Indonesia dan Filipina berkumpul di Manila. Setelah mengurus masalah administrasi dengan Panitia Conflict Resolution, rombongan terbang menuju Pulau Mindanao sebagai pulau kedua terbesar di Filipina. Davao adalah kota terbesar di pulau Mindanao yang berpenduduk sekitar 22 juta jiwa. Daerah Maguindanao, Basilan, Lanao del Sur, Sulu, Tawi-Tawi dan Palawan memiliki kehadiran umat Muslim yang signifikan. Mindanao masih dianggap sebagai “keranjang makanan” untuk Filipina. Sebagian besar bahan komoditi ekspor Filipina berasal dari kawasan Mindanao. Pulau ini dianggap sebagai “pabrik” untuk seluruh negeri Filipina.

Tengah hari, 6 September kami mendarat di Cagayan de Oro, Pulau Mindanao. Kota ini berpenduduk setengah juta lebih. Lalu lintas sedikit lebih teratur daripada Manila. Dengan hangat utusan-utusan Universitas Marawi City menyambut kami di bandara. Setiap anggota rombongan dikalungi bunga. Sebuah emblim universitas berupa kalung dihadiahkan. Suatu penghormatan istimewa bagi orang kebanyakan seperti saya. Suasana mengharukan. Seakan-akan rombongan ini orang-orang sangat penting bagi masyarakat Mindanao.

Perjalanan dari Cagayan de Oro menuju Marawi City hanya 66 km (41 miles). Daerah ini dijuluki “the happiest place in the Philippines” (“Daerah Terbahagia di Filipina”). Malah ada yang mencap Cagayan de Oro sebagai “City of Golden Friendship” (“Kota Persahabatan Emas”). Keindahan alam menakjubkan. Jalan aspal dibeton. Rombongan makan siang di sebuah warung tepi pantai. Sea food enak, namun terasa kurang nikmat. Keamanan tidak bersahabat. Sekitar tujuh tentara bersenjata lengkap mengawal rombongan kami dari beberapa sudut berbeda. Sekitar setiap 30 km terpampang tulisan ”Military Check Point” (“Daerah Pemeriksaan Militer”). Pemeriksaan militer sangat ketat. Mobil peserta Indonesia berada di belakang mobil Filipina. Di belakang kami menyusul peserta dari Inggris dan Irlandia. Sepanjang perjalanan mobil kami dikawal kendaraan militer dengan persenjataan modern. Usus dalam perut terasa turun-naik. Mata sulit dipenjamkan walaupun terasa ngantuk. Batin tak tenang.

Perjalanan satu setengah jam mengantar rombongan ke Marawi City (Satu-satunya Kota Muslim di Filipina), yang berada dalam lingkungan Daerah Otonom di Mindanao Muslim, ibu kota Provinsi Lanao del Sur. Kota ini seluas 87, 55 km persegi dengan ketinggian 700 meter di atas permukaan laut. Kota ini mencakup 96 kecamatan. Cuaca daerah ini termasuk dingin, tapi menyenangkan. Curah hujan sepanjang tahun termasuk tinggi. Kota ini berbukit, berlembah dan berdanau. Keindahan sejumlah bukit di daerah ini tak terbantah, walaupun dianggap ”misterius”. Jumlah penduduk pada waktu itu seratus ribu lebih. Mereka dikenal orang Maranaos yang menggunakan bahasa Maranao. Tidak sedikit dari kaum terdidik berbahasa Inggris.

Sejarah mencatat, kota ini didirikan dalam tahun 1.639 oleh kelompok orang Spanyol yang dipimpin oleh Francisco Atienza, yang bergerak dari daerah Iligan. Mereka berusaha untuk menaklukkan seluruh Danau Lanao. Pada tahun yang sama ribuan orang petempur Maranao menolak orang- orang Spanyol. Mereka memukul mundur pasukan Spanyol ke Iligan. Pasukan Spanyol harus mundur. Kedatangan pasukan Amerika Serikat dalam tahun 1900 ikut menundukkan pasukan Spanyol di kawasan itu.

Sebagian besar penduduk Marawi City beragama Islam. Tak heran, budaya dan tradisi Islam mewarnai kehidupan masyarakat setempat. Produk minuman keras dan perjudian dilarang. Kaum hawa mengenakan jilbab. Suasana hidup sosial mencerminkan suasana islami. Islam masuk Mindanao dalam abad ke-14. Masjid pertama di Filipina dibangun pada pertengahan abad ke-14 di Kota Simunul. Lambat-laun mereka memengaruhi kelompok-kelompok dari pulau besar Visayas seperti Cebu dan Bohol, dan Manila di pulau Luzon. 

Perekonomian Marawi City mengandalkan hasil pertanian, niaga dan ekspor. Kebanyakan industri di kota masih berorientasi ke dunia pertanian. Beras dan jagung termasuk penghasilan utama. Kerajinan tangan lain berupa karya seni mengisi pasar setempat. Kekayaan alam termasuk salah satu penghasilan andalan daerah ini dan seluruh Filipina. 

Di Marawi City-lah lokakarya Conflict Resolution diselenggarakan. Kawasan ini dianggap relatif aman. Pengikut Abu Sayyaf hidup dan berkegiatan di kota ini. Keamanan sangat mahal. Tempat penginapan setiap narasumber dijaga ekstra ketat oleh pihak keamanan. Mereka tidak bisa bepergian tanpa izin dan pengawalan. Panitia berusaha menjamin keamanan penuh setiap pembicara dalam Conflict Resolution. Ke mana saja pergi saya selalu dikawal tentara bersenjata lengkap. Seakan-akan tinggal dalam sebuah kawasan ”perang dingin” selepas Perang Dunia II. Kewaspadaan selalu diperlukan dalam keadaan yang serba tidak menentu.

Sangat sulit mengenal pengikut Abu Sayyaf di tengah masyarakat majemuk. Siapa kawan? Siapa lawan? Semua berbaur menjadi satu. Tak heran kalau seketika terbetik berita tentang ada yang hilang atau diculik orang-orang tak dikenal. Terkadang mereka masih kembali dan terkadang sama sekali tidak pernah kembali lagi. Masing-masing harus waspada dan tidak lengah menghadapi ketidak-amanan yang bisa berubah sewaktu-waktu. 

Conflict Resolution melibatkan kelompok dosen, tokoh masyarakat, adat dan aktivis damai di kawasan ini. Lokakarya tidak hanya di ruang pertemuan terbatas. Dengan pengawalan ketat, narasumber dan peserta bisa langsung melihat kehidupan masyarakat setempat. Dari kampung ke kampung. Makanan khas daerah Marawi dinikmati. Hampir setiap hari kami menikmati daging ayam dan ikan. Sayur-sayuran dan buah-buahan kurang. Pendampingku ternyata seorang ”sultan”. Di kawasan ini banyak yang menyandang gelar “sultan”. Dia menceritakan pengalaman dan perjuangan hidup bangsa Moro. Nama Moro berasal dari kata ”Moros”, yang dalam bahasa Spanyol menunjuk kata ”Moors”, sebutan bahasa Spanyol untuk penduduk setempat yang beragama Muslim. Dia mengakui kedekatan historis antara Bangsa Moro dengan Malaysia dan Indonesia. Mereka merasa lebih dekat dengan Malaysia dan Indonesia daripada dengan Manila atau orang-orang Filipina. Tak heran kehadiran orang Indonesia dianggap sebagai rekan-rekan seperjuangan bangsa Moro. Tinjauan historis, budaya, agama dan perjuangan hidup antara Bangsa Moro dan Indonesia memiliki kemiripan.

Segala isi hati dituangkan dengan polos. Dia mengisahkan bagaimanakah sebagai kaum minoritas harus berjuang di tengah kaum mayoritas. Mereka tetap akan berjuang habis-habisan untuk membalas dendam terhadap pasukan keamanan Pemerintah, yang pernah menembak atau menghabisi nyawa sanak-famili mereka. Kata ”ampun” tidak masuk kamus perjuangan hidup mereka. Yang penting, mereka akan bergerilya dan berjuang habis-habisan hingga mencapai kemenangan yang mereka harapkan. Setiap waktu mereka siap meninggalkan kota dan bergerilya menghadapi pasukan pemerintah.

Seorang dosen muda dengan suara lantang mencetuskan isi hatinya. Dia dan kawan-kawan tetap akan memangku senjata menghadapi pasukan pemerintah yang ingin menghentikan langkah perjuangan mereka. Adalah hak dasar mereka untuk menyatakan sikap dan meneruskan pertempuran dari waktu ke waktu. Ketidakadilan mereka alami, terutama dari pihak penguasa di ibu kota. Mereka belum menikmati kemakmuran atau kesejahteraan negara. Padahal mereka tinggal dalam sebuah pulau yang memiliki kekayaan sumber alam. Namun, mereka sangat jarang menikmati hasil perjuangan itu. Keadilan masih sebuah cita-cita yang masih jauh dari kenyataan. Kesenjangan hidup sosial, ekonomi, kebudayaan dan pendidikan sangat terasa.

Lokakarya berjalan lancar. Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantara. Peserta antusias. Jarang yang tidak menghadiri lokakarya. Mereka ingin melihat jalan-jalan yang bisa ditempuh dalam mewujudkan perdamaian dan kerja sama yang baik dalam membangun kesejahteraan rakyat, khususnya di kawasan Mindanao. Mereka menyadari keadaan mereka memilukan dan memprihatinkan. Kedamaian sejati masih jauh dari kenyataan. Kekacauan sosial mengganggu ketenangan hidup. Harapan mereka adalah damai, ketenangan dan kesejahteraan sosial bagi segenap masyarakat di Mindanao. Dalam keadaan apa pun mereka akan melawan setiap gerakan yang akan menekan perjuangan bangsa Moro. Mereka mendambakan keadaan yang lebih ”memerdekakan” mereka. Cita-cita untuk hidup dalam keadaan yang lebih baik dan bermasa depan sangat mereka mimpikan. Keberanian untuk membela keadilan dan melawan ketidakadilan termasuk prinsip hidup para pejuang Abu Sayyaf.

Abu Sayyaf (Bapak Pembuat Pedang) adalah nama sebuah kelompok militan yang berbasis di sekitar Pulau Jolo dan Basilan, belahan Tenggara Filipina. Kelompok-kelompok Moro selama empat dekade terakhir telah menggabungkan diri dengan kelompok Abu Sayyaf untuk memperjuangkan pendirian sebuah provinsi independent di Filipina. Anggota kelompok Abu Sayyaf berkisar antara 200 hingga 400 orang. Terkadang sangat sulit mengenal mereka, karena mereka tidak mengenakan identitas khas. Mereka melebur ke tengah-tengah masyarakat sipil. Mereka memperjuangkan cita-cita mereka dengan kekerasan, senjata dan bahan peledak yang bisa merenggut nyawa banyak orang. Penculikan, penyanderaan, kawin paksa, penggagahan anak-anak, dan bisnis narkoba termasuk agenda kegiatan kelompok militant ini. Mereka memperoleh penghasilan dengan tindak kekerasan, seperti penculikan dan penyanderaan. Bahkan mereka tidak segan-segan menghilangkan nyawa orang kalau tuntutan mereka tidak dipenuhi semestinya. 

Setiap narasumber dalam lokakarya conflict resolution sangat dihargai. Mereka dipandang sebagai pihak ketiga yang menengahi mereka dalam proses pencapaian otonomi khusus. Para pembicara tidak membawa misi lain, kecuali mengusahakan terwujudnya keadilan, perdamaian dan perwujudan aspirasi masyarakat Filipina Tenggara. Jelas, narasumber tidak membawa kepentingan mereka. Mereka bertujuan memfasilitasi pertemuan antara pengikut Abu Sayyap dengan pemerintah pusat di Manila. Kerinduan masyarakat setempat ingin mencapai perwujudan otonomi daerah menurut warna islami. Tak heran, peserta lokakarya acapkali bertukar fikiran dengan narasumber selama proses pembicaraan berlangsung. Kedekatan kultural dan sosial memengaruhi relasi pengikut Abu Sayyap dengan narasumber asal Indonesia.

Yang bisa dipetik dari lokakarya seminggu bersama pengikut Abu Sayyap ini adalah lebih mengenal siapakah pengikut Abu Sayyap dan kelompok Moro dalam konteks negara Filipina. Sebagai bagian Filipina mereka tetap memperjuangkan keadilan, kesejahteraan dan hak-hak istimewa dalam seluruh proses pembangunan nusa dan bangsa. Mimpi lain adalah berdirinya sebuah provinsi independen islami, yang memiliki hak-hak istimewa dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain. Sejumlah peserta lokakarya menandaskan bahwa mereka tidak akan berhenti berjuang sebelum mereka mencapai apa yang mereka dambakan di kawasan Mindanao. 

Sementara itu, Pemerintah Filipina masih harus bekerja keras menghadapi kelompok militan ini yang terampil bergerilya dibandingkan dengan tentara Filipina. Keadilan harus ditegakkan. Kesejahteraan umum musti diwujudkan. Pendidikan yang lebih nasionalis dan internasional perlu ditingkatkan terus. Yang paling penting adalah kehadiran negara dalam keadaan apa pun di Mindanao. Dengan sendirinya, pemerintah perlu menyediakan dana yang tidak kecil untuk mengontrol, menegakkan keadilan, kesejahteraan dan keamanan masyarakat. Jika tidak tersedia dana yang memadai, maka sejumlah program perbaikan keadaan sosial, ekonomi dan kebudayaan akan tersendat-sendat. Pemerintah yang bersih, kuat dan berwibawa akan sanggup menghadapi keadaan real masyarakat di kawasan Mindanao ini. 

Tanggal 11 September 2002 rombongan meninggalkan Marawi City menuju Cagayan de Oro dan Manila. Hati lega. Usus dalam perut tidak tegang lagi. Pikiran lebih ringan. Yang memprihatikan, sehari setelah kami meninggalkan lokasi lokakarya, empat orang guru diculik di kawasan Mariwi City. Hingga kini belum terbetik berita mengenai nasib mereka yang ingin mencerdaskan anak-anak bangsa di Filipina.

Selamat tinggal Marawi City! Tidak tahu kapan bisa bersua lagi. Moga-moga keadilan, damai, kesejahteraan dan keamanan menghujani bumi Mindanao sehingga masyarakat setempat menikmati kehidupan yang lebih baik dan membahagiakan.  

(Penulis termasuk narasumber dalam lokakarya Conflict Resolution di Marawi City, Mindanao – Filipina Selatan)

      

 

 

Berita Terkait