Menelusuri Jejak Kejayaan Kapal Bandong

Menelusuri Jejak Kejayaan Kapal Bandong

  Kamis, 7 April 2016 21:54

Berita Terkait

Jika Italia memiliki Gondola untuk menyusuri sungai-sungai di Kota Venesia, maka Kalimantan Barat memiliki Kapal Bandong, sebagai alat transportasi masal di provinsi itu. Pada tahun 1970 an, kapal ini pernah menapaki punca kejayaannya. Pontianak Post akan melakukan ekspedisi, menelusuri jejak kejayaan Kapal Bandong di sepanjang Sungai Kapauas. Bagaimana Kapal Bandong bertahan dipusaran moda transportasi darat dan udara?

 
SORE  itu suasana dermaga di Kapuas Indah Jalan Sultan Mohammad, Kota Pontianak tampak seperti biasanya. Suara bising kapal motor hilir mudik mengantar penumpang dari dermaga itu ke seberang sungai.

Tampak juga beberapa kapal kayu ukuran besar berjajar dengan rapi di pinggiran sungai menunggu muatan barang. Kuli-kuli panggul pun terlihat wira wiri memindahkan barang dari sebuah truk ke kapal mereka.
 
Salah satu diantaranya adalah Cahaya Borneo, kapal kayu berbentuk rumah. Kapal kayu ini biasa disebut Kapal Bandong. Sore itu, Kapal Bandong KM Cahaya Borneo sama seperti kapal-kapal lainnya, penuh dengan barang angkutan. Bagian lambung kapal (palka) bertumpuk berbagai macam barang angkutan yang siap diantar ke daerah tujuan.  Mulai dari bahan makanan, keperluan rumah tangga, hingga bahan bangunan dan pertanian. "Dulu kapal ini kapal penumpang dan barang, tapi sekarang jadi kapal barang," kata Anai, pemilik Kapal Bandong Cahaya Borneo saat ditemui Pontianak Post, belum lama ini.
 
Kapal Bandong Cahaya Borneo ini akan berlayar menuju Kabupaten Kapuas Hulu, tepatnya di Kecamatan Jongkong. Untuk sampai ke tempat pemberhentian terakhir di Jongong, kata Anai, memerlukan waktu hingga tujuh hari. Karena kapal tersebut harus singgah ke beberapa daerah atau kabupaten untuk menghantar barang titipan. "Normalnya sih satu minggu. Tapi kami tidak bisa jamin, karena kami harus singgah ke beberapa daerah untuk bongkar muat barang," lanjutnya.
 
Sayangnya, meskipun Anai merupakan pemilik Kapal Bandong, dia tidak begitu faham tentang asal usul maupun riwayat Kapal Bandong itu. "Saya memang pemiliknya tapi baru tiga tahun saya bawa kapal ini. Tapi kalau mau lebih detail, ada kapten kapal kami yang insya'allah bisa menceritakannya dengan detail. Karena beliau sudah 40 tahun menjadi nahkoda di sini," terangnya.

Kapal Bandong merupakan alat transportasi massal masyarakat asli Kalimantan Barat. Layaknya kapal pada umumnya, kapal ini dilengkapi dengan mesin diesel sebagai tenaga pendorong.
 
Perbedaan Kapal Bandong dengan kapal lain adalah bentuknya. Kapal Bandong didesaign sedemikian rupa hingga menyerupai rumah. Dimana bagian atas dilengkapi dengan atap. Tak heran jika Kapal Bandong juga sering disebut rumah terapong.
 
Biasanya, Kapal Bandong terbuat dari kayu. Setidaknya terdiri tiga bagian utama. Bagian depan digunakan sebagai ruang pengemudi, bagian tengah digunakan tempat istirahat karena disertai bilik-bilik (kamar) dan menyimpan barang bawaan. Sedangkan bagian belakang digunakan sebagai MCK dan dapur. (arief nugroho)

Liputan Khusus: 

Berita Terkait