Meneladani Keluarga Nabi Ibrahim

Meneladani Keluarga Nabi Ibrahim

  Rabu, 14 September 2016 10:29

Ayah adalah imam yang memimpin keluarganya. Ia bertanggung jawab atas keluarganya. Ibu merupakan sosok yang menanamkan kebaikan, bahkan ketika anak masih dalam kandungan. Ayah dan ibu merupakan orangtua yang menjadi teladan bagi sang buah hati.

 
 

Oleh : Marsita Riandini

 

Banyak pembelajaran yang bisa ambil dari Hari Raya Iduladha. Tak hanya berbagi hewan kurban kepada orang yang tak mampu, hikmah lainnya yang bisa dipetik adalah meneladani keluarga Nabi Ibrahim.

“Iduladha memang memiliki sejarah panjang dari kisah keluarga Nabi Ibrahim. Beliau menjadi sosok teladan bagi umat muslim, terutama dalam ketaatan kepada Allah SWT dan kasih sayangnya kepada keluarga,” ungkap Kasubbag Informasi dan Humas Kantor Wilayah Kementerian Agama Kalbar, Ustadzah Drs. Sangadah kepada For Her.

Sikap teladan ini bisa dijadikan contoh, diantaranya ketika memilih pasangan hidup. Karakter keseharian calon pasangan hidup harus menjadi perhatian. Misalnya, caranya memperlakukan perempuan dan keluarganya.

“Termasuk pula apakah dia menyenangi anak-anak. Inilah kenapa pentingnya bibit bebet dan bobot. Dari bibit yang baik, Insya Allah akan melahirkan anak yang baik pula,” katanya.

Setiap orang terlahir dengan beragam ujian yang menerpa. Begitu pula dengan keluarga Nabi Ibrahim, hidupnya penuh dengan ujian. Tetapi dia bisa bersabar demi ketaatannya kepada perintah Allah.

“Dalam rumah tangga memang dibutuhkan kesabaran. Kelak kesabaran inilah Allah berikan pertolongan. Sebab ada berbagai ujian yang datang, dan harus siap menghadapinya,” ujar dia.

Kesabaran tak mengenal batas waktu. Bahkan ketika seseoang mengganggap itu mustahil pun, kekuasaan Allah datang menolong. Seperti penantian Nabi Ibrahim atas kehadiran anaknya, bahkan di usia tak lagi muda ia tetap terus berdoa kepada Allah. “Begitu pula seharusnya dalam keluarga. Inginkan anak yang saleh, maka orangtuanya harus berdoa. Lihat Nabi Ibrahim selalu berdoa agar diberikan anak yang saleh, maka lahirlah keturunan yang saleh,” jelasnya.

Jadilah sosok suami dan ayah yang cerdas. Ketika mendapatkan masalah, laksanakan dengan bijaksana dan dengan cara sebaik-baiknya. Apalagi seorang ayah adalah figur dalam rumah tangganya.

Ketika berdoa ingin meminta anak, dan dikabulkan tentu adalah kebahagian besar bagi orang tua. Tetapi juga harus siap, jika kelak Allah mengambil lagi buah hati sebagai titipan.

“Itulah kenapa tidak sepantasnya terlalu berlebihan mencintai anak, suami, istri, dan harta kita. Sebab itu suatu saat bisa di ambil kembali oleh Allah. Lantas ketika Allah menguji dengan mengambil kembali anak kita? Apakah siap? Orangtua mana tidak sayang pada anaknya. Tetapi hal ini mengajarkan pada kita bahwa segala yang ada di muka bumi itu adalah titipan, termasuk keluarga. Ketika suatu saat Allah memintanya kembali, maka manusia tidak bisa berbuat apa-apa,” pungkasnya. **