Menebar Kebaikaan Menuai Manfaat

Menebar Kebaikaan Menuai Manfaat

Jumat, 17 November 2017 09:32   110

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang bisa memberi manfaat kepada saudaranya, maka hendaklah ia melakukannya.” (HR.Muslim).

Pintu–pintu manfaat itu sangat banyak. Rasulullah SAW menggabungkannya dengan sabdanya, “Setiap muslim harus bersedekah.” 

Beliau memberi beberapa contoh menurut kadar kemampuan seseorang. “Maka ia bekerja dengan kedua belah tangannya memberi manfaat kepada dirinya dan bersedekah. Menolong orang yang sangat membutuhkan.” Dan jika seorang muslim tidak melakukan sedikit pun dari itu, “Maka hendaklah ia menahan diri dari berbuat kejahatan, maka hal itu menjadi sedekah baginya.” 

Ini adalah tingkatan memberi manfaat yang terendah, yang tidak pantas seorang muslim lebih  rendah darinya dan tidak wajar seorang da’i berada pada tingkatan ini. Nabi SAW menjadikan seorang mukmin sebagai perumpamaan selalu memberi manfaat dan menyerupakan dengan pohon kurma karena selalu hijau dan bisa memberikan manfaat dengan semua yang ada padanya. 

Beliau SAW bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui pohon yang diambil manfaat dengannya seperti seorang mukmin.” (HR.Bukhari)

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.” (Shahih al Jami’). Demikian tegas Rasulullah SAW.

Terkadang kita menemukan sebagian orang  yang enggan melakukan sesuatu yang tidak membahayakannya. Padahal, berguna bagi orang lain, karena hanya mengurus kepentingan pribadinya. Ini bukanlah sifat seorang muslim. Karena itulah Umar bin Khattab RA mencela Muhammad bin Maslamah RA ketika ia menghalangi Ash-Dhahak Ra bin Khalifah menggali saluran air yang mengalir ke tanahnya yang melewati tanah Muhammad bin Maslamah. 

Umar RA berkata, “Kenapa engkau menghalangi sesuatu yang berguna untuk saudaramu, dan ia menjadi manfaat untukmu, engkau menyiram dengannya yang pertama dan yang terakhir, dan ia tidak membahayakanmu. Demi Allah, ia pasti melewatinya sekalipun di atas perutmu.” 

Seorang muslim pada dasarnya  selalu berusaha memberikan pelayanan kepada yang membutuhkannya, memberi nasehat kepada yang tidak mengetahuinya, memberi manfaat kepada yang berhak menerimanya berdasarkan motivasi dan keinginan dari dirinya.

Diantara wasiat Rasulullah SAW kepada Abu Barzah ketika ia berkata kepada beliau. Wahai Rasulullah ajarkanlah kepadaku sesuatu yang dengannya Allah SWT memberi manfaat.  

Beliau SAW bersabda, “Lihatlah sesuatu yang menyakiti manusia, maka singkirkanlah dari jalan mereka.” (HR.Ahmad).

Ketika mondok di pesantren ,seorang remaja selain mengaji dia juga mengepel rumah kiai dan  mencuci pakaian kiainya. Itu ia lakukan dengan ikhlas. Balasannya ia diberi fasilitas makan selama  tinggal di sana. Ia mondok di pesantren itu selama kurang lebih 3 tahun. Satu waktu sang kiai memanggilnya. 

“Nak, maukah kau naik haji dengan aku?” 

Mendengar kalimat yang tidak disangkanya itu, ia termenung, bingung, rasa tidak percaya. “Benar pak Kiai?,” tanyanya seolah ia menyangsikan pembicaraan kiainya. 

“Benar, kalau kau mau tahun ini kita berangkat bersama-sama.”

Kemudian sang kiai melanjutkan, “Ini balasan atas ketulusanmu selama ini. Semoga kamu bisa lebih mensyukuri nikmat yang ada!”  

Berangkatlah sang santri itu. Usianya masih muda, belum punya isteri. Subhanallah. Waktu berjalan terus. Sampai ia menikah. Beberapa tahun kemudian ketika dia pindah ke rumah BTN, dia mengajari membaca Alquran untuk anak-anak di sekitarnya secara gratis. Ketika ada yang mau memberi , dia tolak secara halus. “Sudah menjadi kewajiban saya untuk mengajari anak–anak,” kilahnya. 

Pada suatu ketika dia bersama isterinya berniat untuk naik haji. Sampai batas waktu yang ditentukan masih kurang uang setorannya. Malam harinya ketika Tahajjud ia berdoa. Subhanallah! Keesokan harinya ada orang tua santri yang belajar mengaji menemuinya. Ia berkata bahwa dirinya mau memberikan sesuatu kepadanya. Kalau ditolak, anaknya yang mengaji di sana tidak akan melanjutkan mengaji lagi.

Akhirnya, tawaran itu ia terima. Setelah tamunya pergi, dia buka amplop tersebut. Ternyata isinya bisa menutupi kekurangan ONH-nya. Dari peristiwa ini ternyata kalau kita ingin menebar kebaikan banyak cara yang bisa dilakukan sesuai dengan kemampuan.  Dan kebaikan tersebut bisa ditabung untuk kita sendiri. Kebaikan yang ditabung makin lama makin bertambah banyak. Bisa kembali dalam bentuk kebaikan, harta, kedudukan, kesehatan, atau ketenangan.

Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amir Al Anshari  RA ia berkata bahwa Rasul SAW bersabda, “Barangsiapa yang menunjukan kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR.Muslim ). 

Bahkan, pahala orang yang didakwahi tidak berkurang sebagaimana sabda Nabi SAW, “Barangsiapa memberi petunjuk pada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikuti ajakannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun juga.” (HR.Muslim)

Tanda orang dan atau umat terbaik gemar mengajak pada kebaikan (ma’ruf) dan mencegah kemungkaran (munkar) disertai beriman kepada Allah. Ajakan itu  sudah pasti harus dilakukan  dengan secara bijaksana. 

Allah SWT berfirman, “Kamu adalah umat yang tarbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Ali Imran 110). Orang yang mengajak tersebut, akan mendapat salawat dari penduduk langit dan bumi.

          Wallahu’alam.**

Uti Konsen