Mendu, Seni Teater Khas Melayu Mempawah yang Terlupakan

Mendu, Seni Teater Khas Melayu Mempawah yang Terlupakan

  Kamis, 11 Agustus 2016 10:35   1

Oleh: Darmawansyah

PERKEMBANGAN zaman tak elak mengakibatkan terkikisnya nilai-nilai, adat-adat, serta kebudayaan daerah. Musik, teater, tarian, kesenian daerah kian hari kian kehilangan marwahnya di hati pemuda-pemudi kita. Kesenian daerah umumnya hanya diminati oleh kalangan tua saja yang sadar akan pentingnya melestarikan kebudayaan daerah yang merupakan identitas bangsa yang harus selalu dijaga. Regenerasi pelestarian kesenian daerah  ini sangat diperlukan agar kesenian khas yang telah lama dibangun oleh leluhur dapat senantiasa terjaga kelestariannya.

Indonesia memiliki beragam suku bangsa yang mempunyai ciri khas yang dituangkan dengan kesenian daerahnya masing-masing, seperti Jawa  dengan kesenian wayangnya, China dengan kesenian barongsainya, dayak dengan berbagai macam tarian adatnya, dan beragam bentuk kesenian daerah lainnya.

Hal ini merupakan satu bukti akan kayanya warisan kebudayaan yang ada di Indonesia. Namun sangat disayangkan kesenian daerah tersebut kian hari kian semakin ditinggalkan, hampir punah sebab kurang diminati apalagi dipelajari oleh muda-mudi penerusnya.

Kesenian daerah yang hampir punah dan dilupakan terkhusus oleh masyarakat melayu Kalimantan Barat yang bertempat tinggal di Dusun Malikian, Kabupaten Mempawah  diantaranya adalah “Mendu”. Mendu pertama kali dikembangkan oleh tiga  orang pemuda Mempawah yaitu Ali Kapot, Amat Anta dan Achmad. Ali Kapot yang berasal dari dusun Malikian ini begitu gigih dalam meneruskan teater khas Melayu ini ke anak-anaknya. Mendu merupakan bentuk teater yang mengkombinasikan seni tari, drama, silat dan berladon atau nyanyian yang berisi pantun-pantun yang disampaikan oleh satu pemain ke pemain lain secara bergantian.

Teater ini ditampilkan dengan cerita-cerita kerajaan seperti kisah 1001 malam, Zainal Abidin Raja Kebanyam, Indra bangsawan dan lain-lain. Teater ditampilkan secara apik dibaluti dengan nuansa komedi yang akan membuat ketawa bagi siapa saja yang menyaksikannya.

Dalam pertunjukannya, teater mendu dibuka dengan tarian khas melayu seperti tarian Beladun dan tarian khas Melayu lainnya. Tarian Beladun merupakan tarian pembuka Mendu yang ditampilkan dengan pasangan pria dan wanita yang memakai baju khas melayu. Untuk yang prianya menggunakan baju teluk belanga, sedangkan wanitanya menggunakan baju kurung yang semakin menambah nuansa budaya melayu saat ditampilkan.

Setelah dibuka dengan tarian melayu, Mendu dilanjutkan dengan tampilan teater atau drama kerajaan yang dikemas begitu apik, diselingi dengan nyanyian beladun dan lawakan yang kian membuat mendu ini menjadi semakin menarik untuk dinikmati. Mendu yang dikemas dengan lawakan membuat mendu layak dijadikan sebagai  media hiburan rakyat bah Opera Van Java di televisi.  Panggung yang digunakanpun  tidaklah harus istimewa, cukup mendekorasi halaman kantor, atau halaman sekolahpun cukup untuk pementasan kesenian khas Melayu Mempawah ini.

Teater Mendu umumnya ditampilkan di acara-acara pesta sunatan dan perkawinan. Namun itu hanya dulu, kini bah ombak yang ditelan lautan, kesenian daerah ini hampir sudah tidak pernah ditampilkan kembali. Mendu hanya ditampilkan saat even-even besar di keraton Mempawah. Hal ini mengakibatkan generasi muda saat ini menjadi tidak kenal terhadap kesenian khas daerahnya yang kini bahkan sudah diakui bahkan dalam skala nasioal.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2014 mengumumkan “Mendu” sebagai  warisan budaya tak benda milik bersama  Kalimantan Barat dan Kepulauan Riau. Hal ini tentunya menggembirakan sekaligus memperihatinkan sebab warisan budaya khas Melayu yang begitu indah ini begitu jarang dikenal di tanah kelahirannya, khususnya masyarakat  Kalimantan Barat yang berada di Kabupaten Mempawah. Hal ini bisa dibuktikan dengan survei lapangan secara langsung di daerah dan kemudian menanyakan perihal  “Mendu” terhadap generasi mudanya. Umum diantara mereka bahkan tidak mengenal apa “Mendu” itu yang hakikatnya merupakan seni teater daerahnya.

Hal di atas merupakan pekerjaan rumah bersama antara pemerintah dan kita selaku muda-mudi yang lahir di Kabupaten Mempawah untuk kembali mengembangkan kesenian teater khas Melayu ini. Mendu dapat dikembangkan menjadi satu destinasi budaya kita. Pemerintah harus bekerja keras untuk kembali mengenalkan kesenian teater ini dengan sesering mungkin mengadakan even-even ataupun pertunjukan-pertunjukan Mendu, agar ke depannya generasi-generasi mendatang tau dan dapat lebih cinta terhadap budaya daerahnya. Kita kembalikan maruah Mendu di hati pemuda-pemudi kita sebab jika Jawa saja punya pagelaran wayang, televisi punya Opera Van Java, kita punya yang lebih indah, yaitu Mendu.

*) Pemerhati masalah kesenian daerah