Mendigitalkan Pelaku UMKM dengan Aplikasi PTK UMK

Mendigitalkan Pelaku UMKM dengan Aplikasi PTK UMK

  Rabu, 22 June 2016 08:57   952

Oleh: Ayu Umyana

Baru-baru ini Bank Indonesia bekerjasama dengan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) meluncurkan sebuah aplikasi yang ditujukan untuk semua para pelaku usaha mikro dan kecil. Aplikasi ini bernama Pencatatan Transaksi Keuangan Usaha Mikro Kecil yang disingkat menjadi Aplikasi PTK UMK. Aplikasi ini dapat di-downloaddari smartphone pada google play store. Aplikasi ini diciptakan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan dan memudahkan para pelaku usaha kecil dalam menyiapkan laporan keuangan yang telah disesuaikan dengan iklim teknologi saat ini. Terlebih lagi dengan masuknya era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang menuntut para penggiat usaha untuk lebih siap saing dalam berbagai tantangan kemajuan bisnis dan teknologi. 

Peluncuran aplikasi ini dilatar belakangi oleh masalah yang sering kali dihadapi oleh para pelaku usaha kecil salah satunya adalah ketersediaan modal yang cukup. Masalah ini menjadi kendala bagi para pelaku usaha kecil dalam mengembangkan usaha mereka. Sulitnya dalam mendapatkan dana segar diakibatkan karena para pelaku usaha tidak memiliki bukti atau laporan atas transaksi keuangan yang dapat dipertanggung jawabkan kepada pihak Bank dalam proses pengajuan kredit. Pentingnya laporan keuangan bagi pelaku usaha bukan tidak beralasan. Laporan keuangan dapat dijadikan sebagai alat yang digunakan pelaku usaha dalam pengajuan kredit ke Bank. 

Tentunya pihak Bank sendiri cukup selektif dalam melakukan pemberian kredit. Laporan keuangan menjadi alat yang digunakan oleh Bank dalam menganalisis kesehatan usaha yang akan berimplikasi dalam pemberian keputusan kredit. Oleh karena itu, bagi pelaku usaha sudah semestinya memiliki laporan keuangan sebagai bukti pencatatan transaksi keuangan yang kredibel.Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa terjadi trend peningkatan jumlah total kredit UMKM dari tahun ke tahun. Dengan data update terakhir pada Februari 2016 menunjukkan total kredit UMKM Nasional adalah sebesar 808,968,5 (dalam miliar rupiah).

Hadirnya aplikasi ini diharapkan dapat dijadikan sebagai media bagi UMK untuk memperoleh kemudahan kredit dari Bank untuk permodalan usahanya. Dengan tersedianya modal bagi para pelaku usaha upaya ini diharapkan dapat merangsang pertumbuhan usaha mikro dan kecil yang lebih baik dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja yang pada akhirnya berimplikasi pada kemajuan dan pertumbuhan ekonomi Negara. Penciptaan aplikasi ini merupakan salah satu upaya nyata pemerintah dalam memajukan perekonomian negara terlebih lagi program ini disesuaikan dengan kemajuan teknnologi saat ini. akan tetapi, hal ini masih menimbulkan beberapa tantangan yang dihadapi pemerintah, yaitu kemapanan sumber daya manusia itu sendiri. Keberhasilan dapat dicapai jika sumber daya manusianya telah teredukasi dengan baik. 

Akan tetapi, meskipun menawarkan kemudahan bagi setiap users, pengembangan aplikasi ini menyisakan beberapa persoalan. Seperti yang kita ketahui bahwa kelompok pelaku usaha UMKM tidak hanya meliputi bisnis-bisnis start-up yang pelakunya cenderung banyak digeluti oleh kalangan tertentuyang lebih familiar dengan kemajuan teknologi akan tetapi juga pelaku-pelaku usaha yang mayoritas adalah kalangan yang cenderung tidak begitu familiar dengan aplikasi-aplikasi pada smartphone. Hal ini menimbulkan kesenjangan diantara kalangan yang menguasai teknologi dengan kalangan awam. Terkait permasalahan diatas, maka hal ini akan menjadi salah satu tantangan yang dihadapi dalam mencapai keberhasilan penggunaan aplikasi PTK UMK ini di kalangan pelaku usaha mikro dan kecil.Dalam menguraikan permasalahan diatas kita dapat mengkaji hal tersebut melalui dua perspektif yang berbedayaitu dari prinsip keadilan sebagai kesamaan (egalitarian)danprinsip aliran utilitarianisme.

Menurut penganut paham egalitarian bahwa semua orang harus mendapatkan bagian keuntungan dan beban masyarakat atau kelompok dalam jumlah yang sama. Pandangan ini didasarkan pada proporsi bahwa semua manusia adalah sama dalam sejumlah aspek dan klaim yang sama atas segala sesuatu yang ada di dalam masyarakat. Kesenjangan yang terjadi diantara kalangan yang mapan teknologi dengan kalangan awam membuktikan adanya ketidakmerataan dan keadilan yang seharusnya diperoleh oleh seluruh pelaku usaha. Kalangan awam belum cukup teredukasi dengan pengetahuan-pengetahuan teknologi yang memberikan mereka kemapanan teknologi.Aplikasi ini cenderung akan lebih dirasakan manfaatnya oleh mereka yang familiar dengan teknologi daripada mereka yang tidak familiar dengan aplikasi-aplikasi pada smartphone. Sehingga timbul kesenjangan diantara dua kelompok tersebut. Padahal sasaran utama penciptaan aplikasi PTK UMK iniadalah seluruh para pelaku UMKM. Namun, pada kenyataannya aplikasi ini lebih berpotensidikuasai oleh mereka yang mapan dalam teknologi. 

Sedangkan, bila ditinjau dari prinsip aliran utilitarianisme yang menyatakan bahwamanfaat yang diberikan dari suatu tindakan atau kegiatan haruslah lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Kemudahan yang diberikan oleh aplikasi ini cenderunglebih dirasakan manfaatnya bagi kalangan yang notabene familiar dalam penggunaan aplikasismartphone. Namun, hal ini tidak pada kalangan awam. Perlu adanya proses pengedukasian untuk kelompok inimelalui program sosialisasi yang mewadahi para pelaku usaha kecil dan mikro yang disinyalir belum sepenuhnya memiliki kemapanan teknologi. Terlebih lagi jumlah pelaku usaha kecil dan mikro di seluruh Indonesia terbilang cukup besar. Oleh karena itu, dalam mensukseskan program sosialisasi aplikasi PTK UMK ini dibutuhkan dana yang juga tidak sedikit.Hal ini perludipertimbangkan dalam menganalisis besarnya biaya yang dikeluarkan dengan manfaat yang dapat diberikan dalam menjamin suksesnya program ini. Jika ternyata biaya program sosialisasi ini lebih besar daripada manfaat yang dihasilkan maka penggunaan aplikasi PTK UMK ini belum sepenuhnya dapat dikatakan efisien. Hal ini tentunya menjadi tantangan bagi pihak Bank Indonesia untuk dapat menjamin keberhasilan pengembangan aplikasi PTK UMK dikalangan penggiat usaha kecil dan mikro yang dapat memberikan tingkat efisiensi yang lebih tinggi. 

Meskipun memiliki beberapa keterbatasan, langkah pemerintah dalam upaya ini sangat layak untuk diapresiasi. Karena upaya ini menjadi langkah dalam usaha percepatan ekonomi, sssterlebih dalam kesiapan diri dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Namun,demi tercapainya keberhasilan aplikasi PTK UMK ini perlu adanya kajian lebih lanjut terkait peninjauan kesiapan dari sumber daya manusia itu sendiri dalam mengaplikasikan aplikasi PTK UMK ini. Dengan demikian, kesenjangan diantara kelompok yang mapan teknologi dengan kelompok awam dapat diminimalisir sehingga para pelaku usaha akan mendapatkan keadilan dan kesamaan hakdalam bentuk perolehan pengetahuan teknologisecara merata. 

*)Mahasiswa Magister Sains Akuntansi Universitas Gadjah Mada Asal Pontianak