Mendidik Remaja Bertanggungjawab Atas Perbuatannya

Mendidik Remaja Bertanggungjawab Atas Perbuatannya

  Rabu, 7 February 2018 10:00

Berita Terkait

Masa remaja merupakan periode peralihan dari masa awal anak-anak ke masa awal dewasa. Pada fase ini, proses pencarian jati diri menjadi sangat menonjol sehingga perlu perhatian dari orang tua. Jika orang tua lengah, sang buah hati bisa melakukan tindakan negatif seperti menyakiti bahkan membahayakan nyawa orang lain. Dan, anak pun terpaksa bertanggungjawab atas perbuatannya. 

Oleh : Ghea Lidyaza Safitri

Banyak kasus kekerasan yang dilakukan remaja terhadap teman, guru, maupun orang-orang di sekitarnya. Kasus teranyar dan baru terjadi adalah aksi pemukulan yang dilakukan siswa SMA di Sampang, Madura. Akibatnya, sang guru pun meninggal dunia. 

Psikolog Dr. Hj. Fitri Sukmawati, M.Psi mengatakan perilaku yang dihadirkan anak bukan terbentuk ketika kejadian berlangsung. Namun, termanifestasi sejak lama dan berulang. Sebagian besar faktor perilaku yang dihadirkan anak terbentuk dari pola asuh keluarga, khususnya orang tua dan lingkungan sekitar. Dalam kasus pemukulan ini, anak sudah memiliki sifat agresivitas dan semakin meningkat saat emosi di dalam dirinya terpancing terhadap sesuatu.

“Disini dapat dilihat bagaimana pola asuh yang diberikan orang tua. Apakah sudah dilakukan dengan baik, ataukah orang tua memiliki pola asuh permesif (masa bodoh),” ujarnya. 

Fitri menjelaskan perilaku adalah bentuk kebiasaan seseorang. Setiap orang memiliki perilaku yang berbeda-beda. Ada yang manis dan baik. Namun, ada juga yang agresif hingga kerap refleks memukul seseorang saat emosi dan amarahnya tersulut. Jika mendapati anak berperilaku demikian, orang tua perlu melihat catatan-catatan perilaku anak seperti apa, baik saat berada di rumah, maupun di sekolah.

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama FUAD IAIN ini menuturkan pola perilaku anak berdasar dari pendidikan yang diberikan orang tuanya. Sehingga, orang tua memiliki peranan besar dan kewajiban mengontrol perilaku anak. Sebab, orang tua yang mengetahui pertumbuhan, perkembangan, hingga pembentukan karakter anak sedari kecil, termasuk kebiasaan yang dilakukannya adalah orang tua.

Ketika dihadapkan pada perilaku anak yang terlibat kasus hukum akibat perbuatannya termasuk menganiaya guru, orang tua perlu melakukan introspeksi. Tanyakan pada diri, mengapa hal seperti ini bisa terjadi. Orang tua juga bisa mengevaluasi tindakan yang dilakukan anak selama ini. Apakah yang dilakukan orang tua dalam mengontrol perilaku anak sudah berjalan dengan baik? Tanpa orang tua sadari, terkadang ada perilaku anak yang sopan di rumah, tapi berani di luar ataupun sebaliknya. 

Apabila mendapati perilaku anak demikian, orang tua perlu berkomunikasi dengan sekolah dan turut melibatkan guru di rumah. Dikhawatirkan anak merasa memiliki masalah pada salah satu guru mata pelajarannya. Sehingga, ketika ia berperilaku seenaknya dengan tidur saat jam pelajaran. Ketika guru menegur, rasa tidak suka terhadap guru semakin memuncak. Anak pun refleks dengan beranggapan perilaku tersebut semata-mata untuk membela diri.

“Harusnya ketika ditegur guru akibat perilaku yang salah, anak merasa bersyukur. Cara menegur yang  dilakukan guru juga tidak terkesan kasar,” ungkapnya. 

Orang tua pasti akan sedih, kesal, dan kecewa, jika anak menjadi pelaku kekerasan. Namun,  orang tua harus cooling down, melihat kondisi, proses, dan kronologisnya. 

“SMA termasuk rentang usia remaja akhir, artinya pengawasan sangat penting dilakukan. Dimana, orang tua bisa mendekatkan diri lagi pada anak layaknya sahabat,” saran ibu dua anak ini.

Orang tua harus mencoba menempatkan diri dengan melihat kejadian secara jelas. Jika anak terbukti salah, biarkanlah ia mempertanggung jawabkan perbuatannya. Segala sesuatu yang dilakukan pasti ada konsekuensinya, tak terpaut berapapun rentang usia anak, baik balita, anak-anak, remaja, hingga remaja akhir. Biarlah anak menjadikan hal ini sebagai pelajaran berharga untuk membangun kehidupan lebih baik kedepannya.**

Berita Terkait