Mendidik Anak tanpa Berkata Kasar

Mendidik Anak tanpa Berkata Kasar

  Rabu, 18 November 2015 09:34

Berita Terkait

Kamu malas, bodoh, susah diatur, menjadi bagian dari kata-kata yang kerap diucapkan sebagian orang tua.  Kata-kata tersebut bisa direkam anak dan membuat perilaku anak menjadi tidak baik. Padahal ada banyak cara mendidik anak tanpa harus mengeluarkan kata-kata kasar. Salah satunya melalui Neuro Linguistic Programming. Oleh : Marsita Riandini

Kecenderungan anak-anak untuk meniru perilaku orang dewasa sangat besar. Karena itu, orang tua hendaknya menerapkan pola asuh yang tepat bagi mereka. Jika perilaku saat mendidik kurang tepat, akan berpengaruh pada sifat dan karakter anak. Harus ada pola mendidik anak yang tepat sehingga karakter anak menjadi baik.

Salah satu pola asuh yang bisa diterapkan adalah melalui NLP atau Neuro Linguistic Programming. Demikian disampaikan Winda Lestari, S.Psi., MSi, LP-NLP., Psikolog kepada For Her.

Teknik ini, lanjut dia, bisa digunakan dalam enam area kehidupan, mulai dari kehidupan spiritual, pengembangan diri, keluarga, kehidupan social, kesehatan, hingga karir atau bisnis. “NLP dapat diterapkan secara luas pada enam area kehidupan; mulai dari spiritual life misalnya meningkatkan kualitas ibadah, personal growth; pengembangan diri, dapat lebih membuat diri lebih bersemangat, disiplin, Family/relationship; komunikasi keluarga baik suami istri, dengan anak, atau dengan orang tua serta keluarga, Social Life; kehidupan sosial dan membantu sesama Career/Business; meningkatkan karir dan bisnis, meningkatkan loyalitas, hingga area Health & Leisur; bagaimana meningkatkan kesehatan fisik, menikmati kehidupan secara positif,” tutur alumni Universitas Indonesia itu.

Pencipta dan pengembang NLP adalah DR Richard Bandler dan DR John Grinder. Selanjutnya NLP dipopulerkan oleh Anthony Robbins hingga meluas di Amerika dan seluruh dunia. Banyak tokoh-tokoh dunia menggunakan teknik teknik NLP untuk membantu kesuksesan mereka, di antaranya Andre Agasi, Bill Clinton, Nelson Mandela, serta pengarang buku Rich Dad Poor Dad yang terkenal Robert Kiyosaki.

Penggunaan terkait pola asuh kepada anak bisa diterapkan pada area family. Manfaatnya adalah orang tua dapat lebih memahami anaknya dan sebaliknya anak dapat memahami orang tuanya. Orang tua juga dapat membantu anak menyelesaikan permasalahan-permasalahannya sendiri, dapat mengajarkan perilaku baru yang lebih efektif.

“Manfaat lainnya, Orang tua dapat memanfaatkan momen-momen yang ada menjadi momen yang berharga dan bermanfaat bagi anak. Dan semuanya dilakukan dengan mudah dan menyenangkan, jadi tidak perlu dengan amarah, kata-kata kasar, cubitan, jeweran, atau bentuk perlakukan fisik lain,” ujar wanita yang pernah mengikuti Licensed Practitioner Neuro Linguistic Programming ini.

Intinya, teknik ini adalah cara orang tua menggunakan pikiran (mind) dan cara mendidik anak dengan efektif, menggunakan bahasa yang tepat serta mengurutkan tindakan kita untuk mencapai tujuan yang diinginkan secara lebih mudah, lebih cepat, dan elegan. “Mengapa bahasa? Karena bahasalah yang kita gunakan sehari hari dalam berkomunikasi,” timpalnya.

 Namun demikian otak memiliki filter atau titik kritis dalam menerima informasi yang diberikan. Cara orang memfilter dipengaruhi oleh pengetahuannya.  Apabila informasi yang diberikan berulang-ulang menembus bawah sadar,  maka itu berarti informasi tersebut sudah tidak terfilter di otak dan akan diterima oleh otak sehingga mempengaruhi tindakan yang dilakukan oleh orang tersebut.

“Pada anak-anak filter otaknya bisa dikatakan belum canggih karena belum banyak memiliki pengetahuan sebagaimana orang dewasa. Karena itu informasi yang ia terima mudah masuk ke alam bawah sadarnya. Tak heran jika anak mau saja disuruh hanya dengan di beri permen,” pungkas wanita yang memiliki pengalaman kerja di beberapa perusahaan dan instansi ini.  (*)

 

Berita Terkait