Mendewasakan Gerakan Efisiensi

Mendewasakan Gerakan Efisiensi

  Kamis, 16 November 2017 09:26   113

Oleh: Bachrul Ulum

TAHUN 2017 ini Kemenkeu begitu intensif mengampanyekan program Penguatan Budaya Organisasi yang salah satunya “Gerakan Efisiensi”. Hampir seluruh unit kerja Kemenkeu sudah menjalankan gerakan efisiensi ini. Namun tidak sedikit yang memahami gerakan ini hanya sebatas menghemat atau mengubah wajah konsumsi rapat saja. Padahal bila kita mau merubah mindset dan berpikir lebih strategis, gerakan ini bisa menjadi wujud program revolusi mental yang dicanangkan Presiden Jokowi.

Dalam acara Workshop II Duta Transformasi Kelembagaan Kemenkeu bulan Oktober 2017 di Jakarta, salah satu agenda yang dibahas adalah gerakan efisiensi. Meski forum ini dihuni oleh mayoritas kaum muda Kemenkeu, namun tampaknya belum banyak pemikiran-pemikiran progresif yang diharapkan bisa membawa dampak masif. 

Mereka justru terjebak pada hal-hal yang kurang material, seperti perubahan konsumsi rapat dan Rapat Dalam Kantor (RDK). Mungkin benar bahwa persoalan itulah yang mereka hadapi setiap hari di kantor. Namun ironisnya, dua hal itu justru sebenarnya tidak membawa dampak yang material, apalagi tidak jamak ada di kantor daerah. Jangankan jenis konsumsi yang ‘mewah’ atau pelaksanaan RDK hampir setiap hari seperti di Kantor Pusat, bisa melaksanakan kegiatan sesuai rencana saja sudah luar biasa.

Sebenarnya sah-sah saja mengkaji konsumsi rapat dan jam lembur untuk gerakan efisiensi, apalagi memang itu bagian dari yang Ibu Menteri gariskan. Tetapi, akan lebih baik jika melihat gerakan efisiensi ini lebih luas dan yang lebih massif dampaknya. Kemenkeu sendiri memberikan panduan gerakan efisiensi ini mencakup juga tentang Go Green, efisiensi pengadaan barang/jasa, perjalanan dinas, efisiensi waktu pelaksanaan tugas atau pekerjaan, dan juga pengetatan honor tim. 

Tidak menutup kemungkinan bahwa gerakan efisiensi ini sudah sepantasnya menyasar kegiatan-kegiatan yang kurang memberikan dampak yang nyata ke pada masyarakat. Faktanya, masih banyak terdapat kegiatan-kegiatan seremonial atau diadakan secara berlebihan di lingkungan Kemenkeu sendiri. Hal seperti inilah yang semestinya juga dipertimbangkan menjadi target efisiensi.

Tidak hanya pengurangan kegiatan seremonial saja yang perlu disasar sebagai target efisiensi, tapi kegiatan-kegiatan strategis organisasi juga perlu dikaji ulang. Sebelum suatu kegiatan diusulkan untuk dianggarkan di tahun berikutnya, perlu dipastikan bahwa output dan outcome-nya jelas, memberi dampak yang signifikan kepada masyarakat. Inilah perubahan mindset, bahwa gerakan efisiensi tidak sekedar mengurangi jatah konsumsi atau waktu lembur saja, tetapi benar-benar masuk kedalam kehidupan kerja. 

Lebih jauh lagi, akan sangat baik jika mindset efisiensi ini menjadi gaya hidup setiap pegawai Kemenkeu. Pemahaman efisiensi ini penting untuk“didewasakan” terutama kepada kaum muda Kemenkeu, agar mereka juga bisa berfikir progresif untuk kemajuan di masa mendatang. Jika gaya hidup mereka masih sedikit atau banyak mengandung hedonisme, maka tidak mudah bagi mereka untuk menerapkan gerakan efisiensi ini di kantornya. Perlu ditekankan bahwa gaya hidup efisiensi berbeda dengan gaya hidup“ngirit”, tetapi lebih pada upaya untuk memenuhi apa yang dibutuhkan, bukan yang diinginkan. Begitu juga dalam kehidupan kantor atau organisasi, gerakan efisiensi lebih focus pada apa yang seharusnya dilakukan, bukan yang diinginkan pegawainya. (*)

*) Penulis: Kasubbag Kepegawaian Kanwil DJPb Prov. Kalbar