Mencicipi Kerupuk Basah di Pusat Perekonomian Semitau

Mencicipi Kerupuk Basah di Pusat Perekonomian Semitau

  Selasa, 12 April 2016 09:33
KERUPUK BASAH: Seorang pedagang sedang menyajikan kerupuk basah, makanan khas Kabupaten Kapuas Hulu. Makanan ini berbahan dasar ikan Belidak, yang sekarang populasinya kian menipis.

Berita Terkait

Setelah empat hari perjalanan menyusuri Sungai Kapuas bersama Kapal Bandong KM Cahaya Borneo, saya pun tiba di Kecamatan Semitau, salah satu kecamatan di Kabupaten Kapuas Hulu. Kecamatan ini sangat terkenal akan produksi kerupuk basahnya. 

ARIEF NUGROHO, Semitau

PAGI  itu, Senin (11/4), cuaca di Kecamatan Semitau begitu cerah. Sinar matahari menyelinap di setiap celah dinding kapal yang terbuat dari kayu. Empat anak buah kapal, Pendi, Yoga, Faisal dan Kurnia bersiap untuk melakukan bongkar muat barang.  Semen dan pakan ternak.

Menurut mereka, barang-barang yang akan dibongkar ini merupakan pesanan beberapa toko kelontong di kecamatan itu.

Setelah bersiap, satu per satu barang mereka antar dengan cara dipikul. Dengan sangat berhati-hati, mereka melintasi titian papan kayu yang menghubungkan antara dermaga dengan jalan. Truk pelangsir semen sudah menunggu sedari tadi di tepi jalan. Sementara pakan ternak langsung mereka pikul ke sebuah toko kelontong tak jauh dari dermaga.

Keringat bercucuran begitu deras membasahi pakaian mereka. Mereka kelelahan. Sementara saya hanya bisa mengamati dari jarak dekat. Namun begitu, mereka tetap semangat. Sesekali mereka melepaskan banyolan, bernyanyi dan beraneka tingkah polah lain yang membuat diri mereka terhibur.

Saya pun tak ingin ketinggalan. Mumpung sedang mendarat dengan waktu lumayan lama, yakni setengah hari, saya menyempatkan diri untuk berjalan-jalan di pusat perekonomian masyarakat Semitau itu, tepatnya di Jalan Mochammad Amin.

“Di Semitau, di sinilah pusat perekonomiannya,” kata Jumiati, pemilik warung kopi Nanda di Jalan Mochammad Amin, Semitau.

Wajar saja, jika kawasan itu dianggap sebagai pusat perekonomian di kecamatan. Sepanjang jalan, terdapat berbagai macam toko, mulai dari toko bangunan, bengkel, warung kopi, warung makan dan lain-lain. Siapa saja yang berkunjung ke kecamatan Semitau akan mudah mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Berdasarkan data Bank Kalbar Cabang Semitau tahun 2015, pertumbuhan ekonomi masyarakat Semitau dipicu karena masuknya beberapa perkebunan sawit di Kecamatan Semitau dalam beberapa tahun terakhir

Peningkatan perekonomian masyarakat Semitau bisa dilihat dari perputaran uang di Bank Kalbar Cabang Semitau per harinya yang mencapai Rp4 miliar hingga Rp5 miliar.      

Dengan perputaran uang sebesar Rp5 miliar per harinya untuk setingkat kecamatan jumlahnya cukup besar. Hal itu tidak terlepas dengan perkembangan perkebunan sawit, penangkaran arwana dan karet, meskipun sekarang harga karet sedang turun. Luar biasa.

Oh iya, Semitau juga terkenal dengan makanan khasnya, Kerupuk Basah. Makanan khas Kabupaten Kapuas Hulu.

Kerupuk basah atau yang biasa disebut temet oleh masyarakat Kapuas Hulu sebenarnya berasal dari daerah Semitau. Seperti yang diungkapkan Jumiati, pemilik Warung Kopi Nanda.  “Di sini juga ada kerupuk basah, makanan Khas Kabupaten Kapuas Hulu,” katanya.

Menurutnya, tidak semua daerah di Kapuas Hulu memiliki kerupuk basah.

Saya pun ingin sekali mencicipi kerupuk basah buatan Jumiati itu. Saya pun memutuskan untuk membelinya. Ya untuk makan siang bersama awak kapal yang sedang kelelahan usai bongkar muat barang. “Satu batangnya ukuran dua ons, harganya 10 ribu,” ujar Jumiati.

Saya pun memutuskan untuk membeli lima batang, atau Rp50 ribu.

Kembali ke topik perjalanan, sebenarnya kami tiba di Kecamatan Semitau sudah sejak tadi malam, sekira pukul 22.30. Kapal kami bermalam di sini untuk menunggu bongkar muat. Sebelum tiba di kecamatan Semitau, kami sempat singgah di beberapa dermaga, salah satunya di dermaga Nanga Silat, Kecamatan Silat Hilir Kabupaten Kapuas Hulu.

Perjalanan dari Nanga Silat ke Kecamatan Semitau setidaknya membutuhkan waktu enam jam dengan Kapal Bandong. Dalam perjalanan dari Nanga Silat ke Semitau, kami disajikan pemandangan yang begitu menawan. Pemandangan alam berupa rimbunan pohon di sisi Sungai Kapuas. Apalagi waktu itu cuaca begitu cerah. Sang surya yang akan berpulang ke peraduannya pun meninggalkan jejak jingga di awan.

Jujur, saya sangat terkesima. Rindangnya pepohonan itu ibarat gadis yang masih perawan. Belum terjamah. Keelokannya memukau setiap orang yang melihatnya.

Tidak seperti perjalanan sebelumnya, antara Sintang dan Nanga Silat perjalanan kami disuguhi aktivitas pertambangan emas tanpa izin yang beroperasi di pinggiran Sungai Kapuas. Terus terang, bagi saya itu pemandangan yang miris.

Saya heran, kenapa aktivitas pertambangan emas ilegal seperti ini dan begitu marak dan secara terang-terangan. Kemana para aparat?

“Ini belum seberapa Mas. Jika musim kemarau jumlahnya lebih banyak dari ini. Bahkan tidak hanya di pinggir, tapi ada juga yang menjorok ke tengah. Saya beberapa kali hampir menabrak mereka,” ujar Anai, sang juragan kapal.

Bagi saya ini sebuah pemandangan yang tidak pernah saya lupakan.

Usai bongkar muat barang nanti, kami pun berencana untuk melanjutkan perjalanan menuju Nanga Suhaid. Sebuah  kecamatan yang terkenal dengan budidaya ikan arwananya. (Bersambung)
 

Liputan Khusus: 

Berita Terkait