Menanjak 21K tanpa Turunan Sama Sekali

Menanjak 21K tanpa Turunan Sama Sekali

  Rabu, 9 Agustus 2017 10:00
Tomy C. Gutomo dan Stefan Zak bersama anak-anak Kenya berlari di Fluorspar Hill (1/8). GODFREY KIPROTICH

Berita Terkait

Merasakan Sensasi Berlatih Lari di Ketinggian 2.400 Meter di Kenya (3-Habis)

Latihan paling menyiksa di pekan kedua mengikuti training di Iten adalah berlari menyusuri Fluorspar Hill. Treknya menanjak dari start hingga finis. 

Tomy C Gutomo, Kenya  

TAK seperti sebelumnya, latihan pada Senin pekan lalu (31/7) dimulai agak siang. Pukul 7.30 waktu setempat. Sengaja agak siang karena para pelatih di kamp High Altitude Training Centre (HATC) menyadari kami semua lelah setelah bersafari ke Lake Nakuru National Park. 

Willy Songok, manajer HATC, mengajak kami berlari menyusuri rute baru yang lebih banyak tanjakannya. Dari kamp, kami melintasi pusat Kota Iten, lalu masuk ke perkampungan melewati St Patrick’s High School, sekolah yang melahirkan banyak pelari juara dunia. 

”Berlari santai saja. Jarak yang kita tempuh sekitar 15 km. Yang masih kecapekan cukup 8 km,” kata Songok. 

Hari itu saya memilih opsi kedua. Sebab, masih lelah setelah naik mobil safari berjam-jam sehari sebelumnya.

Memasuki hari pertama di pekan kedua, latihan berlangsung santai. Setelah easy run 5 km saat sore, kami kembali berdiskusi dengan konsultan dan pelatih tamu kami, Hugo van den Broek. 

Intinya, Hugo berpesan bahwa variasi latihan itu sangat penting. Latihan yang monoton akan membuat tubuh tidak lagi terstimulasi. ”Makanya, ada yang seminggu lari saja ratusan kilometer tetap catatan waktunya tidak pernah bertambah,” katanya.

Selasa (1/8) adalah hari ”bersejarah” bagi penghuni kamp. Biasanya kami berlari menyusuri tanjakan dan turunan. Kali ini kami diajak berlari menyusuri Fluorspar Hill. 

”Treknya sepanjang 21 km. Semuanya tanjakan. Beberapa tanjakan antara 5–7 persen. Tidak ada yang flat, apalagi turunan,” kata Godfrey Kiprotich, salah seorang pelatih kami yang juga mantan pelari jarak jauh. 

Kami berangkat naik mobil pukul 05.30. Setiap peserta diberi bekal satu pisang dan sebiji telur rebus. Dibutuhkan waktu 1,5 jam untuk menuju lokasi. Jalannya sangat buruk. 

Menurut Adharanand Finn, peserta yang sudah beberapa kali ikut kamp, rekor catatan waktu yang dicetak peserta kamp di Fluorspar Hill adalah 2 jam 3 menit. ”Hari ini kita harus memecahkan rekor itu,” kata penulis buku Running with The Kenyan tersebut.

Kami start dalam posisi jalan menanjak. Dua kilometer pertama rombongan masih membentuk peloton. Memasuki kilometer ketiga sudah mulai terpecah. Beberapa tercecer di belakang. Termasuk saya tentunya. Beberapa kali saya terpaksa berjalan karena takut kram. 

Hari itu tim kami benar-benar memecahkan rekor. Peserta dari Jerman, Anke Esser, mampu menyelesaikan tanjakan 21 km dalam waktu 1 jam 48 menit. 

Anke adalah volunter Gathimba Edward Foundation, sebuah lembaga yang membantu kehidupan anak-anak di Kenya. Anke akan tinggal tiga bulan di Iten. ”Saya menikmati sekali Fluorspar Hill. Udaranya segar, banyak pohon dan banyak anak-anak menyapa. Ada juga anak-anak yang ikut berlari,” kata Anke. ”Saya berusaha melupakan tanjakannya,” tambahnya.

Kehadiran anak-anak kecil di perkampungan yang kami lewati memang menghibur. Mereka menyapa dan menyemangati kami. Saat saya berjalan kaki, misalnya, dua anak berusia sekitar tujuh tahun berlari di depan saya. 

”Come on. Keep run,” kata salah seorang di antara mereka, lantas tertawa. 

Saya hanya tersenyum kecut. Kaki sudah susah diajak berlari. Kira-kira saya berjalan 60 persen dan berlari 40 persen.

Satu per satu dari kami akhirnya finis. Saya finis terakhir dengan sambutan dan tepuk tangan yang luar biasa dari peserta kamp yang lain. ”Bagus Tomy. Kamu bisa,” kata Stefan Zak, peserta kamp dari Inggris yang baru berusia 18 tahun. Dia telah finis 45 menit yang lalu. 

Setelah berlatih, kami mampir ke Global Sports, kamp para juara dunia. Di antaranya, ada Abel Kirui (dua kali world champion marathon) dan Eliud Kipchoge (peraih emas maraton Olimpiade 2016). Dengan antusias, Kirui menanyakan pengalaman kami mendaki Fluorspar Hill. 

”Kalian hebat semua,” kata Kirui. Namun, dia tidak memberitahukan catatan waktunya ketika mendaki Fluorspar Hill.

Sorenya tidak ada satu pun dari kami yang berlatih. Rata-rata merendam kaki di kolam renang. Beberapa peserta kamp memanggil fisioterapis yang memang disediakan di kamp dengan biaya KES 2.000 atau sekitar Rp 260 ribu. 

Pijatan ala Kenya begitu keras dan sakit. Begitulah yang dirasakan para peserta kamp yang sempat pijat.

Berlari di Fluorspar Hill merupakan puncak dari latihan kami di minggu kedua. Hari berikutnya adalah recovery dengan easy run pagi dan sore dengan jarak yang tidak ditentukan. 

Baru pada Kamis (3/8), coach Hugo van den Broek mengajak kami melakukan interval run di Lornah Kiplagat Sports Academy. Itu adalah lintasan karet sintetis yang dibangun London Marathon sebagai hadiah kepada Lornah yang sampai saat ini masih menjadi pemegang rekor half marathon di race tersebut.

Interval run dilakukan pukul 11.00. Panas sekali cuaca hari itu. Meski, anginnya terasa dingin. 

Ada dua pilihan. Yang golnya full marathon, lari 1.000 meter x 12 kali repetisi. Beristirahat dengan berjalan kaki sepanjang 200 meter di jeda. Tapi, untuk yang tujuannya half marathon, cukup berlari 400 meter x 12 kali repetisi dengan jeda istirahat 1 menit. 

”Ambil kecepatan di atas pace rata-rata kalian,” kata Hugo. 

Misalnya, pace rata-rata 6 menit per kilometer, berarti harus berlari dengan pace 5 atau 4. Masih beruntung kami tidak menggunakan target waktu seperti yang dilakukan Wilson Kipsang, juara Berlin Marathon dua kali, saat kami lihat berlatih pada 25 Juli lalu. Kala itu Kipsang melakukan interval dengan berlari 400 meter x 25 kali repetisi dengan target waktu 60 detik per lap (1 lap = 400 meter). 

Latihan interval itu cukup menguras tenaga. Belum lagi kami harus berlari saat pergi dan pulang dari  lokasi latihan. Jarak Lornah Kiplagat Sports Academy 2,5 km dari kamp. Untung saja, program hari Jumat adalah recovery. Saya hanya berlari 5 km hari itu. 

Program pada Sabtu (5/7) adalah long run di Singore Forest sejauh 15 km. Saya tidak ikut karena hari itu saya meliput latihan Kenyan Riders Safaricom, tim balap sepeda Kenya yang bermarkas di Iten. Malamnya kami mengadakan pesta kecil perpisahan di Iten Club. Masing-masing menyampaikan pesan dan kesannya.

Dan, program training camp bertitel Kenya Experience itu berakhir Minggu pagi (6/8). Kami berlari bersama sejauh 8 km. Harus lari santai karena tujuannya adalah kebersamaan. 

Sangat mengharukan lari pada Minggu pagi itu. Setelah lari, beberapa peserta memberikan sepatunya kepada para pacer sebagai kenang-kenangan. 

Dua pekan terasa sangat cepat bersama para pelatih dan pacer yang helpful. Serta teman-teman dari berbagai negara yang saling mendukung dan memberikan semangat. (*/c10/ttg) 

Berita Terkait