Menangis Itu Perlu, Tapi ...

Menangis Itu Perlu, Tapi ...

  Jumat, 16 December 2016 15:38   412

Oleh ABDUL HAMID

TAK terbayangkan apa yang akan terjadi jika pemerintah suatu negara melarang warga negaranya untuk menangis. Hanya boleh tersenyum atau tertawa, atau cukup bermurung saja. Padahal sebagian besar warganya dalam kondisi “elit”, alias: ekonomi sulit.

Apa yang terjadi kemudian atas larangan itu? Para bayi yang lahir pun banyak yang memilih tertawa, daripada tersenyum. Di rumah sakit bersalin pun yang akan terdengar hanyalah suara tawa yang aneka irama, mulai dari suara tawa bayi yang menyenangkan, tawa petugas medis ataupun bidan atau dokter yang membantu proses kelahiran sang bayi, sampai tawa kakek atau datok, nenek, opa-oma, eyang, nek kaki, nek wan, yang mungkin terkekeh-kekeh. Heboh bukan?

Sungguh berbahagialah kita yang Dia ciptakan, diawali-Nya dengan menangis ketika ke luar dari “ruang kegelapan” dan sangat terbatas, dari ibu kita masing-masing. Tentu pula tak ada diantara kita kala itu yang mengerti kenapa harus menangis:  kebahagiaan, ataukah ketakutan yang mulai dihadapi, atau yang lainnya lagi? Hanya Dia-lah yang Mahamengetahui sebabnya, sedangkan manusia, meskipun para ahli dalam bidangnya, paling hanya bisa menduga atau menyimpulkan yang bersifat sementara tentang penyebab tangisan pertama itu.

Ketika menangis dilarang, obat sakit mata pun tak laku diperjual-belikan, karena takut di-“apa-apa” kan, di tuduh yang “macam-macam” oleh yang melarang.

Namun bagaimana pun, menangis itu sangat diperlukan manusia, siapapun dia. Bukankah Dia telah menunjukkan bukti nyata bahwa awal kehidupan manusia di dunia ini adalah menangis, bukan tersenyum, apalagi tertawa terbahak-bahak?

Mata merah dan bengkak, itulah ciri mereka yang menangis sungguhan, bukan pura-pura.

Dan ternyata, menurut para ahli dalam bidangnya, menangis itu ternyata cukup banyak manfaatnya. Mau tahu? Boleh-boleh saja, tapi nangis dulu ya, baru dilanjutkan membaca manfaat menangis itu.

Menangis mampu membersihkan dan menghapus kotoran pada mata, termasuk kotoran yang tidak dapat dihilangkan dengan hanya mencuci mata dari luar; membuat mata terlihat segar setelah menangis, meskipun berwarna kemerah-merahan. Menangis itu  mampu meredakan atau bahkan melepaskan ketegangan yang dihadapi, terutama oleh kaum wanita (hal ini yang dikatakan menyebabkan bahwa banyak wanita berusia lanjut dibanding pria). Jadi, supaya tidak terlalu tegang, hindarilah menahan tangis, tapi jangan pula menangis sekuat-kuatnya- meraong, kate orang Pontianak.

Selanjutnya, menangis itu mampu melindungi mata dari bakteri, karena pada mata ada cairan lisozim yang membunuh bakteri dengan cepat; serta mampu mengurangi tekanan dan rasa sakit yang dirasakan.

Menangis juga mampu melegakan perasaan dari sekian banyak permasalahan hidup, termasuk cobaan, yang sedang dihadapi. Biasanya usai menangis itu perasaan pun menjadi  lega, bisa langsung makan-makan di restoran sambil tertawa ria.

Lagi depresi karena sekian banyak persoalan? Segeralah menangis, insya Allah mood nya akan meningkat atau naik kembali.

Anda lagi stress? Cepat-cepat sajalah menangis, insya Allah level stress pun akan segera menurun, dan katanya bisa juga menurunkan tekanan darah yang lagi up, alias tinggi.

Bahkan diberitakan bahwa air mata yang dikeluarkan dari seseorang yang menangis karena emosional, membawa racun dari dalam tubuh and dikeluarkan melalui air mata.

Siapapun manusia, termasuk yang membuat tulisan ini, apalagi Pak Ahok, bahkan kepala negara/pemerintahan sekalipun, pasti pernah menangis. Wajar-wajar sajalah.

Saya percaya, Pak Dahlan Iskan, yang kini sedang menghadapi persidangan,  pun pasti menangis, meski tak sedramatis tangisan Pak Ahok di persidangan perdananya. Setidak-tidaknya Pak Dahlan menangis dalam hati setelah melihat, dan merasakan/mengalami persoalan hukum di negeri ini. Semoga saja beliau tetap diberikan  kesabaran, kekuatan, ketabahan, karena yakin bahwa Allah Yang Mahamelihat itu tidak tidur.

Menangis itu memang tak ada salahnya, tapi menurut para ahli agama- bukan yang belajar Islam dari negeri bukan Islam- kondisi, situasi, tujuan, dan sebab yang berbeda-beda membuat tangisan itu hukumnya bisa sunnah muakad, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Hukum yang terakhir itu, haram, jika pura-pura menangis, menangis dengan tujuan yang buruk, seperti mengelabui orang lain, dan tangisan memperdaya.

Jadi? Menangislah, cry on and on, mumpung tidak ada yang melarangnya, tapi jangan  menangis pura-pura, atau pura-pura menangis. Menangislah yang mempunyai nilai ke-afdal-an yang tinggi; seperti menangis untuk korban-korban tak berdosa di Aleppo yang kini diduduki oleh Negara Komunis dan Negara Syiah. Menangislah yang hukumnya sunnah muakad, sunnah, mubah, dan makruh.

Pontianak, 16 Desember 2016