Menang Pilkada, Martin Bayar Niat

Menang Pilkada, Martin Bayar Niat

  Sabtu, 30 January 2016 10:13
BAYAR NIAT: Martin Rantan (berkaos putih), menggelar ritual bayar niat karena menang di Pilkada Ketapang. Ritual tersebut digelar di Tugu Tolak Balak di Jalan Merdeka Ketapang, Kamis (28/1) lalu. AHMAD SOFI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

KETAPANG – Terpilihnya Martin Rantan sebagai Bupati Ketapang, membuatnya sangat bersyukur. Sebagai ungkapan rasa syukur, ia pun mengelar ritual adat bayar niat kepada Tuhan, disertai acara syukuran. Kegiatan dilaksanakan di posko relawan pemenangannya dan di Tugu Tolak Balak di Jalan Merdeka Ketapang, Kamis (28/1) lalu.

Selain diikuti pendukung, relawan, dan simpatisan, kegiatan tersebut juga menyedot perhatian ratusan masyarakat sekitar dan yang melintas di ruas jalan protokol tersebut. "Kita laksanakan ritual adat bayar niat ini karena sebelum Pilkada memang ada berniat atau bermohon kepada Tuhan," kata Martin, kemarin (29/1). 

Sebelum Pilkada berlangsung, ia mengaku telah meminta kepada Tuhan agar proses Pilkada berlangsung lancar, tertib, dan aman. Jika hal tersebut terpenuhi, maka ia akan menggelar ritual adat bayar niat. "Jadi kita bayar niat setelah Pilkada berakhir, karena apa yang kita harapkan terpenuhi. Kita sekalian syukuran karena telah diberi kemenangan pada Pilkada ini," jelas mantan Ketua Dewan Adat Dayak Kabupaten Ketapang tersebut.

Pemimpin acara sekaligus satu di antara demong masyarakat adat Dayak Ketapang, Herkulanus, menjelaskan, pihaknya menyelenggarakan ritual bayar niat atau syukuran ini sebagai bentuk kewajiban. "Pada hari ini, apa yang kita mohonkan terbukti dan permintaan kita terkabul. Maka dilaksanakanlah sukuran atau bayar niat ini," katanya. Dijelaskan dia jika ritual adat ini bernama: Membayar Niat Hajat Asesesage Cakap Bulang Warang Walik Tinjang Sanggar Buluh Hijau Demong Totai Manter Bares. Sususanan acaranya dengan tingkatan bertarai tujuh dan demong sepuluh.

Kemudian mati manuk tujuh, kolor tujuh, nari tujuh pemeran. Serta sanggar diserahkan kepada yang merimbang nikap atau yang dimintai. Setelah itu acara dilanjutkan dengan makan adat, piring beras nagar sirih demongbola lawang betimangan. "Selanjutnya ditutup dengan tampongan tembilai monang panjang tadah alas diturunkan. Acara ini memang sederhana tapi maknanya sangat tinggi. Karena kita berucapan sukur pada yang kuasa bahwa permintaan telah dikabulkan," paparnya. (afi)

 

Berita Terkait