Menang KO 12 Ronde Tak akan Terlupakan

Menang KO 12 Ronde Tak akan Terlupakan

  Selasa, 5 April 2016 09:17
KUNJUNG: Iwan Zoda saat berkunjung ke Redaksi Pontianak Post, kemarin. SHANDO SAFELA/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Prestasi internasional sukses ditorehkan Iwan Sniper Zoda. Salah satu petinju kebanggan Indonesia asal Kayong Utara, Kalbar ini baru saja merebut gelar juara dunia IBF Youth kelas Terbang. Segala hasil yang diraih tak lepas dari latihan keras dan proses panjang.

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

LEBIH baik berdarah-darah saat latihan dari pada berdarah-darah saat tanding di atas ring,” ucap Iwan Sniper Zoda saat bertandang ke Pontianak Post, Senin (4/4). Kalimat tersebut menjadi motivasi sejak dirinya memutuskan menggeluti dunia tinju pada usia sembilan tahun.

Zoda sapaan akrabnya masih merasakan kebahagiaan yang luar biasa usai merebut gelar juara dunia IBF Youth kelas Terbang, Sabtu (2/4) malam. Dalam pertandingan itu Zoda berhasil menang KO dari petinju Hungaria, Szilveszter Kanalas di ronde ke tiga. 

Untuk merebut gelar terbarunya ini memang tak mudah, semua berawal dari kerja keras dan proses yang panjang. Dia menceritakan 10 tahun silam, awal dia mengenal tinju dari sekedar iseng. Tujuannya sederhana, hanya ingin bersenang-senang bersama teman-teman sebaya yang juga ikut tergabung di Sasana Tinju Kayong Utara asuhan Damianus Jordan. 

“Banyak anak-anak lain yang satu angkatan dengan saya, hampir 20 orang, hanya saya yang bertahan sampai sekarang,” ujarnya.

Ketika itu, Zoda bersama keluarga yang tinggal di Desa Batu Malang, Kecamatan Pulau Maya Karimata hidup sederhana. Bahkan serba kekurangan. Karena tidak ada biaya, pendidikan Sekolah Dasar (SD) pun tak diselesaikannya. “Saya malah lebih banyak bekerja membantu orang tua, mulai jadi nelayan, kerja di pabrik kayu dan di tambang emas,” akunya.

Setelah ikut berlatih tinju, kehidupannya sedikit demi sedikit mulai berubah. Dia merasa sangat cocok dan nyaman menekuni olahraga ini. Kini sudah hampir 10 tahun berjalan keputusannya semakin mantap. Bahwa tinju sudah menjadi bagian hidup yang bakal terus ditekuni secara profesional.

Keyakinan itu dibuktikannya pada 2009, kesempatan tersebut merupakan kali pertama dirinya mengikuti pertandingan atau kompetisi tinju. Di usia 15 tahun Zoda mengikuti kejuaraan Tinju Kasau Cup 2009 di Pontianak dan meraih juara pertama.

“Setelah merasakan dapat bayaran dari bertanding serta dapat mengalahkan lawan hanya dalam beberapa ronde saya cukup puas, dari sana saya yakin akan terus menekuni dunia tinju,” ungkapnya. 

Mulai dari sana, Zoda semakin giat berlatih. Beragam kompetisi amatir pun diikuti. Diantaranya pernah juara pertama dalam even Sarung Tinju Emas se-Indonesia, meraih piala Wapres RI CUP ke-3 tahun 2014 yang digelar di Lahat, Sumsel dan menjuarai Pekan Olah Raga Provinsi (Porprov) Kalbar XI Tahun 2014.

Setelah itu Zoda memutuskan memulai karir secara profesional. Pertandingan pertamanya pada Juli 2014, melawan petinju asal Jakarta Stevanus Nanai. Waktu itu Zoda hanya berhasil menang angka. “Itu pertama kali di Pro, gaya saya masih amatir terlalu gesit,” kenangnya.

Sudah sebanyak sembilan kali bertarung secara profesional, Zoda selalu sukses memenangkan pertandingan. Satu pertandingan yang menurutnya tak akan pernah dia lupakan yaitu saat merebut gelar interim kelas terbang versi WBO Asia Pacific usai mengalahkan petinju Thailand, Petchchorhae Kokietgym di Bangkok, Thailand, Jumat (4/9/2015). 

Zoda harus bertarung penuh selama 12 ronde, hingga akhrinya sang lawan tumbang dan dinyatakan KO. “Berkesan karena selama saya bertanding baru kali itu saya merasakan ronde paling panjang dan menang KO pula,” ucapnya. 

Banyak gelar yang sudah ia raih mulai dari juara amatir, juara nasional, Juara Kelas Terbang Asia Pasifik Versi WBO dan paling baru gelar juara dunia IBF Youth kelas Terbang. 

Rahasia dari kesuksesannya dikatakan buah dari latihan dan kerja keras. Harus bersakit-sakit dahulu untuk mencapai sesuatu yang besar. “Saya pernah latihan sampai muntah-muntah terus dipaksakan dan harus tetap kuat,” katanya.

Untuk itu Zoda rutin berlatih sebanyak dua kali setiap hari. Mulai dari Senin sampai Sabtu, pagi jam 07.00-08.30 dan sore jam 15.00-17.30. “Mendekati pertanding intensitas latihan hampir sama,” ujarnya. 

Pelatih Zoda, Damianus Jordan mengakui sejak awal dirinya yakin Zoda bisa menjadi juara dunia. Di tempatnya dikatakan banyak anak-anak yang sudah berlatih tinju sejak kecil, namuan sedikit yang mampu bertahan seperti Zoda.

Dia pun berharap akan banyak prestasi yang dapat diraih Zoda setelah ini. “Usai kemenangan ini, kami belum ada target. Paling tidak Zoda tetap mempertahankan gelar atau mencari gelar juara dunia baru,” ucapnya.

Perwakilan Lanud Supadio yang juga sebagai match maker, Yudi Setiawan mengatakan TNI AU akan terus mendukung perkembangan tinju di Kalbar. Tidak hanya Zoda, tetapi juga para petinju asal Kalbar lainnya. “Bagi yang berprestasi bisa diprioritaskan masuk TNI AU, ini bentuk kontribusi kami untuk mengangkat prestasi tinju,” katanya.

Untuk mendukung prestasi Zoda dan anak asuh di Sasana Tinju Kayong Utara lainnya mulai dua bulan lalu TNI AU telah menjalin kerja sama dengan provider XL. Solusinya adalah menggalakkan SMS donasi. Bagi pengguna XL bisa mendominasikan pulsa yang akan disumbangkan demi kemajuan tinju daerah. “Sementara baru XL, ke depan akan dikembangkan lagi ke provider lain. Caranya bisa ketik Donasi (spasi) XLPeduli (spasi nominal) kirim ke 6116,” jelasnya.(*)

 

Berita Terkait