Menanamkan Rasa Syukur pada Anak

Menanamkan Rasa Syukur pada Anak

  Rabu, 24 Agustus 2016 09:30

Berita Terkait

Rasa syukur tidak tumbuh dengan sendirinya pada diri anak. Orangtua berperan penting. Pola asuh mereka terhadap sang anak sangat menentukan, terutama dalam membimbing dan mengajar anak untuk bersyukur. 

Oleh: Marsita Riandini

Menanamkan rasa syukur merupakan hal penting dan harus dilakukan sejak anak berusia dini. Mengapa demikian? 

“Sebab nantinya akan terbentuk karakter anak yang bisa menerima kenyataan hidup. Seberat apapun hidup yang ia jalani nantinya, mereka masih bisa bersyukur,” ujar Endah Fitriani, M. Psi, Psikolog.

Rasa syukur melatih anak memiliki sikap toleransi, empati, mampu menerima kenyataan, dan tetap semangat menjalani hidup. Psikolog di BKKBN Kalbar ini juga mengatakan dengan bersyukur anak bisa menjalani hidup dalam kondisi apapun.  Misalnya, jika sebelumnya hidup berkecukupan dan memiliki orangtua kaya raya, kemudian jatuh miskin. Anak lebih siap menerima kenyataan dan memulai perubahan pada keluarganya. 

Endah menuturkan saat ini berbagai cara dilakukan orangtua untuk memanjakan anaknya. Ada dengan limpahan materi dan memenuhi segala keinginan anak dari gedget mewah hingga gaya hidup yang wah. Disisi lain, orangtua juga menginginkan anaknya tumbuh menjadi pribadi yang selalu bersyukur dan berterimakasih dengan semua yang dimilikinya. 

“Pola asuh yang diterapkan orangtua kepada anak sangat penting. Jika anak sudah terbiasa sejak kecil, dikasih sesuatu ucapkan terima kasih. Dikasih banyak uang jajan anak senang, dikasih sedikit anak terima dengan ikhlas, maka ini akan berpengaruh ketika anak dewasa,” jelasnya.

Orang tua adalah figure bagi anak. Jika ingin mengajarkan atau menanamkan ajaran yang baik pada anak, orangtua harus menjadi contoh dan teladan bagi mereka. Begitu pula ketika ingin mengajar anak agar bersyukur, orangtua harus menunjukkan sikap yang sama. Jika orangtua malah menunjukkan sikap sebaliknya, jangan salahkan anak yang meniru yang dilihatnya. 

Ketika anak mendapatkan prestasi di sekolah, orangtua bisa mengajak buah hatinya untuk bersyukur pada Tuhan atas kemampuan yang diberikan. 

“Sebab ketika anak tidak memahami rasa syukur, dia akan merasa bahwa apa yang diraihnya atas kemampuan diri sendiri. Tidak ada kuasa Tuhan didalamnya, sehingga tak ada rasa syukur pada dirinya,” tuturnya. 

Peran orangtua juga diperlukan ketika anak mulai membandingkan kehidupannya dengan kehidupan temannya yang dianggap lebih baik dari dia. Orangtua harus bisa memberi pemahaman kepada anaknya bahwa kehidupan setiap orang tidak sama. “Mungkin dia punya teman berasal dari keluarga yang kaya raya. Apa yang si teman inginkan tetap terpenuhi. Lalu ajaklah anak untuk melihat kondisinya saat ini, dan mengajaknya untuk melihat kondisi temannya yang mungkin kehidupan ekonominya lebih sederhana dari dia. Anak akan memahami, ada banyak orang lain yang kurang beruntung dari dia secara ekonomi,” ungkap Endah.

Rasa syukur yang ditanamkan kepada anak tidak perlu yang terlalu berat. Bisa dimulai dari hal sederhana. 

“Ketika rasa syukur tertanam dalam diri, anak juga akan percaya diri. Tak hanya bersyukur pada hal-hal yang menyenangkan saja. Ketika anak terjatuh misalnya, orangtua tetap bisa menanamkan rasa syukur,” ucapnya. 

Ketika mengalami hal tak menyenangkan, misalnya terjatuh, orangtua tetap bisa mengajak anaknya bersyukur. Caranya dengan mengatakan bahwa saat jatuh pun Tuhan masih menolongnya, sebab masih bisa berjalan, masih bisa makan, dan kondisinya baik-baik saja. 

“Jadi menanamkan rasa syukur pada anak itu bisa dilakukan dengan berbagai cara. Tergantung cara orangtua dalam menerapkan pola asuhnya pada anak,” pungkasnya.**  

Dimulai dari Hal Sederhana

Psikolog Endah Fitriani mengatakan ada beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan orangtua dalam mengajarkan anak rasa bersyukur. 

*Berterima kasih
Sejak kecil banyak orang tua yang sudah mengajarkan anaknya cara berterima kasih. Terutama ketika mendapatkan sesuatu dari orang lain. Rasa terima kasih kepada Tuhan sebaiknya juga sudah ditanamkan sejak kecil. Bentuk berterima kasih juga bisa dilakukan bermacam-macam. Bila kepada Tuhan tentu menyesuaikan dengan ajaran masing-masing. Misalnya agama Islam, bisa dengan mengucapkan Alhamdulillah, dan disertai dengan sujud. 

*Berbagi
Anak memiliki kue lebih dari satu.  Ajaklah anak untuk berbagi makanan tersebut kepada temannya. Ini pun menjadi salah satu bentuk penanaman rasa syukur, sebab memiliki kelebihan dan membagikannya kepada sesama. 

*Menghargai apa yang mereka miliki
Kebanyakan anak kecil belum tahu menghargai segala yang mereka miliki karena mereka tidak mengerti betapa susahnya orang tua mencari uang untuk memenuhi kebutuhan mereka. Orangtua hendaknya memaklumi hal itu dan berusaha mengajarkan kepada anak-anak untuk menghargai apa yang mereka miliki. Seperti mainan, tentu ajarkan anak untuk menjaga dan merawatnya dengan baik. (mrd)

Berita Terkait