Menanamkan Makna Kemerdekaan pada Anak

Menanamkan Makna Kemerdekaan pada Anak

  Rabu, 17 Agustus 2016 10:47

Berita Terkait

Banyak anak yang tak lagi memahami makna kemerdekaan. Wawasan kebangsaan mereka pun berkurang. Padahal, generasi muda merupakan aset bangsa yang harus dipersiapkan dengan benar. Nilai-nilai luhur pun harus ditanamkan sebagai bekal untuk membangun jati diri mereka. 

Oleh : Marsita Riandini

Anda tentu pernah mendengar ada remaja yang menghina Bendera Merah Putih.Ada juga yang mencaci maki pemimpin negeri sendiri. Bahkan, tanpa disadari banyak pula yang lebih bangga negara lain daripada negaranya, Indonesia. 

Kenapa hal ini terjadi? Rika Indarti Yusni, M. Psi, Psikolog mengatakan kejadian-kejadian itu menjadi fenomena sejak lama. Bahkan, ia dan beberapa teman seprofesinya melihat gejala tersebut ada sejak 2004. Ketika itu mereka melakukan tes kepribadian. Salah satunya mengenai wawasan kebangsaan. Satu diantara pertanyaan yang diberikan, “Setiap tanggal 17 Agustus, bangsa Indonesia memperingati hari apa?”. 

Rika dan teman-temannya terkejut melihat jawaban atas pertanyaan tersebut. “Ketika disebar ke sekolah-sekolah, jawaban-jawaban mereka itu mengejutkan. Ada yang bilang sebagai hari panjat pinang, hari upacara bendera, hari kumpul tetangga,” ungkap salah satu Owner Persona Consulting, Komplek Ruko, Jl. DR. Wahidin Sudirohusodo No.88M ini. 

Kenapa ini bisa terjadi? Menurut Rika, banyak dari anak-anak yang tidak lagi memahami makna kemerdekaan. Wawasan kebangsaan mereka kurang. Berbeda pada zaman dahulu, ketika wawasan kebangsaan diajarkan dengan doktrinisasi. 

“Ketika sekolah dasar, anak sudah hafal pancasila beserta maknanya, termasuk undang-undang dasar. Makin ke sini, di era keterbukaan, di era liberal penanaman wawasan kebangsaan semakin kurang. Banyak anak SD yang belum hafal Pancasila,” ujar Rika.

Dia menilai penanaman nilai-nilai luhur bangsa semakin kendor. Padahal ini penting diajarkan pada anak untuk membangun jati dirinya kelak. “Nilai-nilai luhur ini tentu saja hal-hal yang bermakna baik, punya maksud yang baik dalam membentuk karakter anak. Terutama hal-hal yang bersifat prinsip yang diajarkan dengan tepat dan makna yang tepat,” jelasnya. 

Akibat lainnya muncul beragam kelompok-kelompok tertentu yang mendoktrin para anggotanya untuk membenci tanah air, melepaskan diri dari tanah air, hingga melakukan pemberontakan-pemberontakan. “Ini karena kecintaan terhadap tanah air telah bergeser sehingga mudah sekali menanamkan nilai-nilai baru kepada generasi muda,” tutur Rika.

Rika mengingatkan agar tak menganggap sepele pembentukan karakter anak melalui nilai-nilai baik. Sebab anak tak hanya memerlukan dukungan pada bidang informatika dan teknologi, mahir berbahasa Inggris, ataupun cerdas pada pembelajaran matematika. 

“Ketika anak diajarkan cinta tanah air, anak akan memahami jati diri sebagai bangsa Indonesia. Ketika dia mendapatkan pengaruh negatif dari luar, dia punya benteng yang kuat untuk tidak terhasut. Di mana pun dia berada, rasa cintanya terhadap tanah air tetap ada,” kata Rika.

Ia menambahkan harus ditanamkan pada diri anak untuk bangga menjadi bangsa Indonesia. Bangga menjadi generasi penerus bangsa yang kreatif, dan berpikir positif. “Dengan begitu mereka tidak menjadi pribadi yang hanya mementingkan diri sendiri, tetapi juga bangsa dan negaranya,” timpal Rika.**             

Berita Terkait