Menagih Janji Atasan

Menagih Janji Atasan

  Senin, 10 Oktober 2016 09:35

Berita Terkait

Memiliki atasan yang kerap ingkar janji memang tak mengenakkan. Apalagi sudah banyak harapan yang tersimpan di dalam janji itu. Sikap di kantor pun menjadi serba salah. Apakah memilih diam atau menagih janji tersebut?

Oleh : Marsita Riandini

Pasti ada rasa kecewa terhadap atasan yang tak kunjung merealisasikan janjinya. Apalagi jika janji yang ditawarkan itu menjadi motivasi yang cukup besar untuk semangat bekerja. Bahkan lembur pun tak menjadi masalah, jika terngiang-ngiang janji manis tersebut. 

Jika atasan tak kunjung menepati janjinya, apa sebaiknya yang dilakukan? Endah Fitriani S.Psi, M.Psi, Psikolog mengatakan kekecewaan karena menjadi korban ingkar janji adalah wajar. Sebab seseorang sudah menyimpan harapan dari apa yang dikerjakan. 

“Cobalah untuk bersabar. Boleh jadi atasan menunggu waktu yang tepat untuk menunaikan janjinya,” kata psikolog di BKKBN Kalbar ini. 

Ada berbagai hal yang biasanya dijanjikan oleh atasan. Mulai dari kenaikan gaji, promosi, hingga hadiah lain yang menyenangkan hati. Namun, apapun bentuk janji itu, bila hanya di mulut saja akan menyulitkan karyawan untuk protes.

Endah mencontohkan jika janji pengangkatan itu tercantum dalam perjanjian kerja, lebih mudah bagi Anda untuk menagih karena memiliki kekuatan hukum. 

“Akan lebih mudah sebenarnya jika janji tersebut dalam bentuk tertulis. Ada bukti kuat untuk menagih janji atasan. Jika hanya lewat janji ucapan saja, akan sulit. Mau menuntut hak-haknya pun menjadi susah,” ujarnya. 

Itulah pentingnya seorang karyawan melakukan pendokumentasian terhadap hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan mereka. Dokumentasi ini akan membantu, jika suatu saat Anda memerlukannya. 

“Jika memang memungkinkan buatlah kesepakatan dengan atasan, agar janji tak cuma lewat lisan saja,” sarannya. 

Marah bisa menjadi salah satu bentuk kekecewaan tersebut. Tetapi Endah menyarankan kemarahan kepada atasan itu harus terkontrol. Apalagi jika sikap marah yang dimunculkan berpengaruh pada posisi Anda di tempat kerja. “Reaksi orang kecewa beragam ya. Ada yang marah dengan meluap-luapkan emosinya, ada yang cukup diam saja karena khawatir posisinya terancam,” ungkap Endah.

Salah satu alasan banyak atasan mengingkari janjinya adalah faktor lupa. Kadang, mereka tak menyadari pentingnya pemenuhan janji itu bagi karyawan. Tak ada salahnya, sebagai karyawan Anda mengingatkan atasan. Cara mengingatkannya harus menyesuaikan dengan kondisi dan situasi di lingkungan kerja Anda. 

“Silahkan saja mengingatkan atasan. Tetapi cara mengomunikasikannya pun harus tepat. Jangan sampai janji yang diharapkan tak di dapat, malah menimbulkan masalah baru dengan atasan,” ungkapnya. 

Buatlah batasan jumlah berkenaan menagih janji. Misalnya hanya tiga kali saja. Jika kali pertama tidak digubris, coba lagi untuk kali kedua, sampai kali ketiga. “Jika sampai tiga kali tidak juga ada, coba cari tahu apa penyebabnya,” tutur Endah. 

Sebaliknya atasan juga harus bijaksana dalam memberikan janji-janji. Jika tidak bisa menunaikan, jangan memberikan harapan palsu kepada karyawan sebab dapat berpengaruh pada kualitas kerja karena rasa kecewa yang melanda. “Janji itu bisa berarti reward yang diberikan atas kinerja karyawan. Berikanlah hak-hak karyawan sesuai dengan apa yang dijanjikan, agar memotivasi semangat kerja mereka,” pungkasnya. **

Berita Terkait