Memupuk Nasionalisme di Tapal Batas Negara

Memupuk Nasionalisme di Tapal Batas Negara

  Sabtu, 30 July 2016 09:30
BELA NEGARA: Warga di batas negara yang mengikuti bela negara. AGUS PUJIANTO/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Ratusan generasi muda di kawasan perbatasan di kaderisasi bela negara. Bukan untuk berperang tujuannya, tapi guna memacu motivasi wawasan kebangsaan di kalangan remaja.

AGUS PUJIANTO, Sanjingan Besar

"KATAKAN kepada Presiden, tidak ada sedikitpun niat masyarakat di Sanjingan, yang berniat pindah kewarganegaraan. Kami tetap setia dengan NKRI sampai tutup mata," kata Hairiah lantang dihadapan ratusan masyarakat perbatasan.

Bak orator di tengah kerumuman massa, Wakil Bupati Sambas ini mempertegas bahwa wilayah perbatasan bukan hanya dipandang terbelakang dari sebuah bangsa, namun garda depan bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dengan intonasi tinggi, Hairiah kembali membakar semangat jiwa bela negara. Dia menegaskan, masyarakat yang hidup di tapal batas, adalah seorang pahlawan yang menjaga NKRI.

"Bisa dibayangkan kalau masyarakat sanjingan tidak peduli degan perbatasan maka wilayah NKRI akan goyang. Masyarakat di  sini akan membanggakan Indonesia. Tidak akan membuat malu indonesia," kata Hairiah disusul suara gemuruh tepukan antusias masyarakat yang mengikuti pembinaan kader bela negara bagi masyarakat perbatasan di Kecamatan Sanjingan Besar, Kabupaten Sambas.

Sejak pagi, antusias masyarakat yang ingin mengikuti pengkaderan Sudah memadati halaman SMK Negeri 1 Sanjingan. Awalnya, panitia tidak menduga warga membludak berbondong-bondong untuk mengantri mengikuti kegiatan. Padahal, panitia hanya menyiapkan space bagi 100 pemuda yang akan dikader menyiapkan mentak dan wawasan bela negara. Namun, tak disangka, yang hadir mencapai dua kali lipat. Ruang kelas tiga lokal memanjang tak cukup menampung masyarakat. Puluhan warga yang tidak mendapatkan tempat, juga rela duduk di beranda sekolah.

Warga yang datang terdiri dari lintas generasi dan profesi itu, dibekali sejumlah pemahaman tentang bela negara. Menurut Hairiah, bela negara sudah dalam konstitusi mengamanatkan tiap warga wajib ikut serta dalam keamanan pertahanan negara. Kewajiban menjaga keutuhan NKRI bukan hanya diamanahkan terhadap aparat penegak hukum. Namun juga kepada semua warga negara.

"NKRI tidak lepas dari perjuangan kekuatan rakyat baik itu petani, nelayan, pelajar dan semua element masyarakat untuk membela tanah air.  Ini dibuktikan dengan ibu bapak karena sudah setia menjadi warga indonesia," ujarnya.

Menurut dia, saat ini tantangan kedaulatan bangsa sudah multi dimensi.Anak-anak harus diantisipasi serangan melalui media. "Anak-anak harus diantisipasi media bisa meracuni generasi muda dengan hal yang menjurus ke kerusakan moral," imbaunya.

Janji Jaga NKRI

Raut wajah Rico terlihat sumringah saat petugas Koramil 1307/-14 Kecamatan Sejangkung menyodorkan seragam kader bela negara. Atribut ini, hanya diperuntukan bagi mereka yang dinyatakan lulus dalam mengikuti pengkaderan.

Usia Rico, sudah memasuki kepala empat. Beberapa bulan lagi, umurnya genap setengah abad. Namun, semangatnya mengikuti pengkaderan bela negara, patut dibanggakan. Dari seluruh peserta yang didominasi pelajar SMK Negeri I ini, Rico yang tertua.

"Saya dapat banyak dapat manfaat dari sini. Bela negara tidak membedakan umur," kata Rico bersemangat.

Warga yang berbatasan langsung dengan Biawak, Malaysia ini mengaku siap untuk menerapkan apa yang sudah didapatkan dalam pelatihan selama dua hari tersebut. "Biarpun petani, saya harus ikut membela negara. Ya dengan cara giat bekerja sebagai petani, dengan bercocok tanam hingga mengahasilkan panen yang bagus. Ini juga membantu bela negara dengan membantu ketahanan pangan," sebutnya. "Saya juga akan menularkan semangat ini kepada masyarakat dan kekuarga,"

Semangat Rico, sejalan dengan apa yang Wakil Bupati Sambas inginkann. Masyarakat baik yang berada di wilayah perbatasan maupun di kota, diminta untuk membantu pemerintah dalam ketahanan pangan. "Ketahanan pangan juga bagian dari bela negara dan ini harus dijaga hingga nanti," katanya mengajak.

Beda cerita wujud bela negara bagi seorang pelajar. Faisal pelajar kelas XI SMK Negeri 1 Sanjingan Jurusan Rekayasa Perangkat Lunak. Selain mendapatkan pemahaman tentang bela negara bagi seorang pelajar dia juga mengaku menjadi paham tentang bahaya narkoba yang bisa merusak generasi muda.

"Saya jadi ngerti pentingnya pendidikan agar tidak terjerumus dalam narkoba," ungkapnya.

Awalnya, Faisal mengaku tidak tahu apa dan bagaimana barang haram tersebut. Setelah mengikuti pengkaderan, dia baru memahaminya. Dia berjanji akan akan menyampaikan kepada teman sebayanya."Nanti akan saya sampaikan juga kepada anak saya kedepannya. Biar kalau melangkah tidak terjerumus ke jalan yang salah," janjinya.

Kepala Kantor Pertahanan Kalbar Marsekal Pertama Rakhman Haryadi mengaku bangga dengan semangat kader bela negara. Menurutnya, wujud bela negara bukan hanya berperang. "Perang itu, alat terakhir untuk mencapai tujuan. Jaman sekarang, perang sangat tidak kita sukai. Bagi pelajar bela negara itu ya belajar dengan giat dan rajin," katanya mengingatkan.

Menurutnya, seorang pelajar harus punya cita-cita. Banyak tantangan untuk menumbuhkan jiwa bela negara dalam diri. "Namun harus dimulai dari diri sendiri. Harus belajar bagaimana menghormati orang tua, orang yang berpengalaman," pesannya. "Saya yakin Kader sekarang kedepan pasti akan ada yang jadi dokter, Dewan, bahkan mungkin bupati. Asal tidak lupa memajukan tanah kelahirannya."(*)

Berita Terkait