Memproduktifkan Harta Wakaf

Memproduktifkan Harta Wakaf

  Senin, 17 Oktober 2016 09:30

Berita Terkait

SUKADANA – Begitu banyak harta wakaf dari umat Islam yang sayangnya belum dikelola secara baik. Hal tersebut diungkapkan kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kayong Utara, Syarif Machmud, ketika membuka acara Pembinaan Nazhir di Aula Bank Kalbar Cabang Sukadana, Jumat (14/10) lalu.

Machmud sendiri mengungkapkan bahwa harta-harta wakaf tersebut sebetulnya bisa dimanfaatkan, sehingga menjadi wakaf produktif. Dengan demikian, diharapkan dia agar hasilnya dapat dijadikan untuk kesejahteraan umat. “Untuk menuju ke arah tersebut (wakaf produktif, Red) perlu nazhir (pengelola harta wakaf) yang profesional dan kompeten. Selama ini, pemahaman nazhir akan harta wakaf masih sempit, sehingga tak jarang harta wakaf seperti tanah dan sebagainya telantar dan tak menghasilkan,” sambungnya.

Machmud yang membuka kegiatan tersebut, sempat menyinggung bahwa di Kayong Utara belum terbentuk Badan Wakaf Indonesia (BWI). Meski demikian, pihaknya sendiri sebetulnya sudah menerima surat edaran dari Kantor Wilayah Kemenang Kalbar, agar secepatnya membentuk BWI bersama kantor Kemenag kabupaten/kota lainnya. “Dan sekarang kita masih mencari orang-orang untuk menjadi anggota BWI di Kayong Utara,” sebutnya.

Kegiatan Pembinaan Nazhir ini diikuti petugas nazhir se-Kayong Utara. Ketua Panitia Pembinaan Nazhir, Kamadi, menjelaskan bahwa kegiatan ini sengaja digelar, dengan tujuan memberikan motivasi dan pembinaan untuk meningkatkan profesionalisme para pengelola harta wakaf ini. Selain itu, harapan dia, mereka ini kelak dapat memberdayakan harta wakaf untuk kesejahteraan umat atau ekonomi umat. “Dengan nazhir yang profesional, supaya harta wakaf dapat dikelola dengan baik,” harapnya.

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber yang kompeten. Mereka adalah Basri HAR, pensiunan PNS mantan Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Kalbar; dan Syahrul Yadi, kepala Kanwil Kemenag Kalbar. Basri didaulat untuk yang menyampaikan materi soal Wakaf Produktif Ditinjau dari Aspek Undang-Undang. Dalam penjelasan dia, masalah harta wakaf telah diatur dalam hukum nasional yang tertuang dalam Undang-Undang (UU) Nomor 41 Tahun 2004. Dalam pemaparan dia bahwa berbicara masalah wakaf, berbeda ketika berbicara soal zakat. “Kalau zakat, maka hartanya harus dibagi habis. Tapi kalau wakaf harta tersebut tak boleh berkurang namun harus berkembang,” jelasnya.

Karena harta wakaf dapat dijadikan sebagai kepentingan umat, sehingga, dia menambahkan, muncullah apa yang disebut wakaf produktif. “Contoh tanah satu hektare diwakafkan, maka tanah tersebut tidak boleh berkurang sedikit pun, tapi harus dikelola dan hasilnya untuk kepentingan ummat,” timpalnya.

Dalam UU Nomor 41 Tahun 2004, dijelaskannya lagi, wakaf bisa berupa barang atau manfaat. Namun yang pasti, ditegaskan dia bahwa wakaf tidak boleh untuk maksiat atau perbuatan yang dilarang syariat. “Yang jelas, wakaf untuk kemaslahatan seperti membantu, memelihara, dan melindungi,” jelas anggota BWI Kalbar ini.

Nara sumber selanjutnya, Syahrul Yadi, kepala Kanwil Kemenag Kalbar, menyajikan materi soal Peran Nazhir dalam Memberdayakan Wakaf Produktif. Diakuinya, banyak harta wakaf, namun tidak sedikit yang telantar. Hal tersebut, menurut dia, lebih disebabkan kurang pemahaman para nazhir dalam mengelola harta wakaf. “Melalui kegiatan ini, semoga para nazhir dapat pemahaman, sehingga wakaf dapat dilaksanakan dan dikelola dengan baik,” ujar mantan Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Kapuas Hulu tersebut. (dan)

 

Berita Terkait