Mempertahankan Budaya Pantun, Dari Bermain Teater hingga Menulis Naskah Pantun

Mempertahankan Budaya Pantun, Dari Bermain Teater hingga Menulis Naskah Pantun

  Sabtu, 27 February 2016 08:10
PANTUN : Syarifah Nuraeni Adeni bersama karya-karya naskah pantun dan buku "Kalbar Berpantun" yang ditulisnya. MIFTAHUL KHAIR/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Syarifah Nuraeni Adeni, seorang penggiat budaya Melayu di Pontianak mengaku kesulitan mempertahankan kesenian budaya pantun. Ia mengaku kekurangan wadah atau tempat untuk menyalurkan budaya pantun. MIFTAHUL KHAIR, Pontianak

“BUDAYE pantun ini sebenarnye semue orang bise, budak kecik pun bise. Sebenarnye anak anak ni maok. Cuma mereke ndak tau jak. Ndak punye kesempatan,” kata Aeniq, begitu ia biasa dipanggil-dengan logat melayunya yang kental, Sabtu (13/2)

Pantun dalam kehidupan, menurut Aeniq, bagaikan sisi mata uang. Budaya menjadi kebiasaan yang tumbuh di dalam masyarakat maupun keluarga sedangkan pantun digunakan oleh masyarakat untuk berkomunikasi. Pantun mempunyai nilai estetika yang tinggi dan mempunyai etika santun di dalam pengucapannya. Maka untuk merangkai kata-kata di dalam kalimat pantun dibutuhkan jiwa yang tenang, pikiran yang bersih, hati yang tulus dan pengucapan yang ikhlas.

Salah seorang pendiri Sanggar Seni Anak Bangsawan ini memulai perjalanannya di dunia seni tradisional dimulai tahun 1979 saat ia bergabung ke dalam Sanggar Bangsawan dan tampil dalam sebuah drama. Setelah berjalan sepuluh tahun dan para pengurus serta pendiri sanggar bangsawan tiada, barulah Ncik Aeniq, biasa ia disapa, berani mengumpulkan teman teman yang tergabung dalam Sanggar Bangsawan untuk membentuk sebuah kelompok baru yakni Sanggar Seni Anak Bangsawan.

“Karena banyaknya anak muda. Saat itu saya di pemilihan terpilih menjadi sekretaris, dan semakin berkembang dan anak banyak muda kreatif. Didirikanlah Sanggar Seni Anak Bangsawan ini di tahun 1989,” tuturnya.

Sanggar Seni Anak Bangsawan, tutur Aeniq, berpusat pada seni tradisional. Meski seni modern seperti puisi dan modern dance juga diselenggarakan. Banyaknya permintaan dan dorongan dari orang-orang terdekatlah yang membuat Aeniq lebih memusatkan perhatiannya kepada pantun.

Ncik Aeniq pertama menulis pantun dengan menyelipkan beberapa pantun ke dalam naskah teater drama. Dengan berimprovisasi dan memasukkan pantun selama di atas panggung. Nciq Aeniq kahirnya menyadari dia memiliki daya tarik tersendiri terhadap pantun. Sedikit demi sedikit ia menjadi penulis naskah pantun sesuai dengan tema acara yang dihadirinya dan tema acara yang dibuatnya, seperti pantun tahun baru, pantun Ramadan, pantun remaja.

Masyarakat sekarang mungkin belum tahu bagaimana caranya berpantun. Masyarakat dapat diberikan naskah pantun lalu diarahkan bagaimana intonasi pengucapan pantun.

“Sebenarnya pantun ini berkembang, seperti teve dan pidato, selalu diselipkan pantun. Sebenarnya orang orang ini rada gengsi untuk berbudaya, orang orang sekarang sok-sok kemoderenan. Padahal budaya itu indah sekali kalau ditampilkan terus di acara-acara,” ungkapnya.

Dalam mempertahankan budaya pantun, wadah atau tempat bagi budaya ini dapat disalurkan menjadi sangat penting. Even yang diadakan pemerintah setiap tahunnya, festival pantun melayu nasional, dan acara di teve lokal dapat membuat budaya berpantun sedikit demi sedikit menyeruak ke muka publik. Bukan hanya orang orang yang telah lama berkenalan dengan pantun tapi juga bagi warga yang belum berani berkenalan dengan pantun.

Salah satu program teve yang masih ada saat ini adalah program Berbalas Pantun yang disiarkan setiap hari Kamis pukul 15.00. Dengan adanya wadah diberikan TVRI, semakin banyak anak-anak muda yang ingin ikut berpantun. Ncik Aeniq selalu mengajak anak anak muda untuk mengikuti acara ini. Ia sendiri yang memberikan naskah pantun serta melatih anak-anak dalam pengucapan dan intonasinya. Bahkan menurut Ncik Aeniq, beberapa dari mereka ingin selalu ikut dalam program ini.

“Mereka yang pernah ikut itu selalu ingin diajak lagi. Mereka setelah tau lalu senang,” ujar Aeniq sambil menata naskah–naskah pantun yang ditulisnya.

Namun, akhir-akhir ini lomba tahunan yang diselenggarakan oleh pemerintah semakin berkurang. Lomba yang semula berjalan tahunan dipangkas menjadi dua tahunan. Padahal lomba inilah yang dapat menggairahkan anak-anak untuk bekenalan dan menyenangi pantun. Salah satu festival yang dilaksanakan untuk mempertahankan budaya melayu adalah Festival Budaya Melayu Internasional yang diikuti oleh negara-negara rumpun melayu seperti Brunei, Malaysia, Singapura. “Perwakilan Indonesia juga terbagi, ada Kalbar, Kepri, Riau, Medan. Tahun lalu Kepri menjadi tuan rumah,” ungkapnya.

Budaya pantun yang sangat melekat dengan melayu secara tidak langsung mewajibkan masyarakat melayu untuk mempertahankan dan mengembangkan budaya pantun agar terus berkembang sesuai dengan zamannya. Secara langsung Ncik Aeniq mengajak para senior di dunia budaya tradisional Pontianak untuk mempertahankan pantun.

“Semoga nantinya dapat mengetuk hati pemerintah, mengetuk hati orang yang punya dana, ayo kita sama sama, saya sebagai pelaksana pengennya enam bulan sekali ada lomba,” imbuhnya.

Budaya dapat disalurkan dari generasi ke generasi hanya jika adanya media atau wadah. Generasi muda yang ingin dan bisa berpantun sangat membutuhkan wadah dan bantuan dari pemerintah untuk mengekspresikan kreativitasnya dalam berbudaya pantun. Pantun selayaknya bahasa dalam berkomunikasi dapat berjalan dengan pesan di dalamnya dari generasi tua ke generasi muda.

Hasilnya Ridwan(24) yang sedang berada di bangku kuliah tergabung ke dalam Sanggar Seni Anak Bangsawan untuk menyalurkan hobi. Salah satunya adalah berpantun. “Awalnya cuma sering liat latihan terus tertarik buat ikut. Mulai dari teater, puisi, pantun semua pernah ikut. Ridwan suka seni, makanya tertarik ikut. Motivasi paling kuat ye dari hobi,” kata lelaki yang sedang menyelesaikan sarjananya ini di Semarang.

Ridwan menjadi salah satu dari banyak anak muda yang tertarik dengan seni dan budaya. Tentu keinginan untuk mencicipi dunia budaya seperti Ridwan sangat memerlukan penyaluran dari generasi tua. Ncik Aeniqlah yang memperkenalkan seni budaya pantun kepada ridwan melalui Sanggar Seni Anak Bangsawan. Walaupun hubungan keluarga tak bisa dihindarkan. Ridwan adalah keponakan dari Ncik Aeniq.

Ketakutan ketakutan anak muda sekarang untuk berpantun harusnya bisa dihindarkan jika dilatih setiap hari terutama pantun spontan. Dan tidak lupa juga untuk latihan membuat konsep konsep pantun sesuai tema. Semakin sering membuat konsep pantun dapat membuat seseorang semakin mudah untuk membuat pantun spontan.

Selain itu, Ncik Aeniq berusaha menelurkan bakat bakat baru dalam berpantun melalui buku yang ditulisnya 2012. Buku ini berisikan naskah pantun yang diharapkan dapat memberikan sebuah pilihan baru bagi anak muda yang ingin belajar berpantun serta bisa menjadi panduan bagi para juri lomba pantun. Sayangnya buku berjudul “Kalbar Berpantun” ini belum lagi dicetak oleh penerbit. Padahal karya seni budaya tradisional seperti pantun ini sudah jarang kita temukan di toko toko buku terdekat.“Penerbit penerbit yang datang hanya memberikan janji saja, sudah beberapa tahun lalu bukunya saya cetak sendiri, ini contohnya. Belum ada penerbit yang benar benar ingin mencetak buku ini,” tegas Aeniq.(*)

 

Berita Terkait