Mempawah Jadi Markas

Mempawah Jadi Markas

  Rabu, 6 April 2016 10:17
TIBA: Pangdam dan rombongan tiba di halaman Kantor Bupati Mempawah. WAHYU/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

MEMPAWAH– Panglima Kodam (Pangdam) XII/Tanjungpura, Mayjen TNI Agung Risdhianto beserta rombongan menyempatkan diri bertandang ke Mempawah, Selasa (5/4) siang. Dengan menggunakan helikopter, Pangdam berkunjung ke Makodim 1201 Mpw dan Kantor Bupati Mempawah.

Lawatan ke Mempawah dilakukan Pangdam, Agung Risdhianto usai melakukan kunjungan kerja di Rindam XII/Tanjungpura di Kota Singkawang. Setelah mendarat di Halaman Kantor Bupati Mempawah, Pangdam beserta rombongan mengawali kunjungan kerja ke Makodim 1201 Mpw. Kemudian, Pangdam didampingi Danrem 121/Abw Brigjen TNI Widodo Iryansyah bertandang ke Kantor Bupati Mempawah.

Dalam pertemuan tersebut, banyak permasalahan yang menjadi pembahasan Pangdam dan Bupati Mempawah. Diantaranya berkenaan dengan masuknya ribuan anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) di tanah Mempawah. Pangdam pun mengapresiasi penanganan dari pemerintah daerah dalam kasus tersebut.

“Pemerintah Kabupaten Mempawah berhasil dalam menangani permasalahan konflik sosial Gafatar. Pemerintah daerah berhasil melakukan penanganan secara beradab. Dan penanganan seperti ini patut menjadi referensi dalam penanganan konflik diwilayah lainnya,” pendapat Pangdam, Agung Risdhianto di Aula Kantor Bupati Mempawah.

Pangdam pun tak segan mengungkapkan data intelejen terkait keberadaan Gafatar di Kabupaten Mempawah.

Menurut dia, Gafatar memiliki misi besar yakni menjadikan Kota Mempawah sebagai markas atau basis kelompok yang telah divonis sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu.

“Mereka (Gafatar) ingin menjadikan Kabupaten Mempawah sebagai basis. Dengan bermoduskan pertanian, Gafatar datang secara bertahap untuk menghimpun kekuatan. Lihat saja, jumlah anggota nya yang mencapai ribuan orang bermigrasi ke Mempawah dan wilayah lain di Kalbar,” paparnya.

Di mata Gafatar, ungkap Agung, profil daerah Kota Mempawah sangat menarik dan strategis dalam mensukseskan misi besarnya. Apalagi, Mempawah  memiliki lahan-lahan kosong yang luas hingga sangat tepat dengan isu pengembangan sektor pertanian.

“Yang kita khawatirkan nantinya, akan banyak warga Mempawah yang bergabung dengan Gafatar hingga menambah kekuatan dan kekuasaannya. Untungnya masyarakat Mempawah cukup waspada dan mengantisipasi dini,” ucapnya.

Bukan itu saja, timpal Agung, yang lebih mengagumkan lagi pada akhirnya masyarakat lah yang justru membantu proses evakuasi warga Gafatar tersebut. Sehingga memudahkan pemerintah daerah dan aparat dalam melakukan penanganan.

“Makanya, tindakan masyarakat dan pemerintah daerah Kabupaten Mempawah dalam menyikapi permasalahan Gafatar sudah sangat tepat. Warga melapor dan pemda langsung responsif hingga menggagalkan tumbuhnya Gafatar di Kota Mempawah,” ujarnya.

Masih terkait kasus Gafatar, Agung mengaku pihaknya menerima tidak sedikit pertanyaan kritis dari sejumlah lembaga hak asasi manusia. Salah satunya dari lembaga Amnesty International. Mereka menduga telah terjadi evakuasi paksa terhadap warga Gafatar oleh aparat keamanan setempat. “Tapi pada akhirnya mereka sendiri tidak bisa membuktikan tudingan tersebut,” tuturnya.

Mendapat pujian Pangdam, Bupati Ria Norsan pun melayangkan pujian yang sama atas bantuan Kodam Tanjungpura Pontianak. Menurut Norsan, keberhasilan jajarannya mengatasi persoalan Gafatar termasuk proses evakuasi, tidak terlepas dari peran besar pihak TNI.

“Alhamdulillah, forkopimda di Mempawah sangat kompak saat menghadapi permasalahan Gafatar beberapa waktu lalu. Namun, tanpa bantuan Kodam Tanjungpura, masalah tersebut tidak akan selesai. Makanya kami sangat berterima kasih kepada Pangdam yang telah memberi tempat penampungan bagi warga Gafatar. Sebab, saat evakuasi dilakukan sejujurnya kita belum tahu mau dibawa ke mana,” ungkap Norsan.

Usai berdialog dengan Bupati dan jajaran Forkopimda Kabupaten Mempawah, Pangdam beserta jajarannya dijamu makan siang bersama.(wah)

Berita Terkait