Memiliki Atasan Ekspatriat

Memiliki Atasan Ekspatriat

  Senin, 24 Oktober 2016 09:30

Berita Terkait

Era globalisasi saat ini makin memungkinkan orang dari berbagai negara bekerja bersama dalam satu perusahaan. Adaptasi pun harus dilakukan. Apalagi jika memiliki pimpinan seorang ekspatriat dengan latar belakang bangsa, bahasa, dan budaya yang berbeda. 

Oleh: Marsita Riandini

Perbedaan kebudayaan di Asia, Eropa, Amerika, dan benua lainnya tentu berpengaruh pada pola pikir, rasa toleransi, dan ritme bekerja. Lantas, bagaimana jika Anda memiliki atasan seorang ekspatriat? Bagaimana cara Anda menghadapi kondisi tersebut?

Maria Nofaola, S.Psi., M.Psi., Cht., Psikolog mengatakan bahwa bekerja dengan siapa dan di mana pun mengharuskan seseorang untuk pandai beradaptasi.  Tak hanya pada atasan yang  beda negara, setiap karyawan juga harus mampu beradaptasi walaupun memiliki atasan dengan kewarganegaraan yang sama. 

“Jangankan beda negara, dengan atasan satu negara pun tetap saja harus pandai-pandai beradaptasi. Apalagi setiap orang memiliki karakter yang berbeda-beda,” ujar psikolog di Rumah Sakit Sultan Syarif Mohammad Alkadrie ini. 

Berhadapan dengan atasan yang berbeda negara memiliki kesan tersendiri. Hal ini biasa dialami oleh mereka yang bekerja di  perusahaan multinasional. Mereka harus terbiasa menghadapi berbagai macam tipe bos. 

Latar belakang budaya seseorang biasanya akan mempengaruhi kinerjanya. Perbedaan budaya berpotensi menimbulkan culture shock. Jika tak cekatan, perbedaan kecil pun bisa menjadi masalah. Jika culture shock tak bisa dihindari, ada baiknya karyawan mempelajari budaya, kebiasaan, selera humor, dan gaya komunikasi sang atasan. 

Memiliki atasan ekspatriat juga bisa memberikan berbagai keuntungan. Misalnya,  kesempatan untuk belajar budaya lain, pola kerja budaya asing, hingga kemungkinan peningkatan karir bisa lebih pesat.

 “Wawasan seseorang akan menjadi bertambah. Jika kita memahami cara kerja orang, kepribadiannya, tentu kita juga akan merasa nyaman. Komunikasi yang dilakukan juga lancar sebab sudah lebih siap,” jelas Maria.

Mempelajari budaya atasan tak lantas membuat seseorang menjadi berlebihan, sehingga apapun yang menjadi kebiasaan atasan diikuti. Sebaiknya lebih banyak mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan. Seperti kedisiplinan atasan, semangat kerjanya, serta hal-hal lain yang mempengaruhi penilaian kualitas kerja di hadapan atasan. 

 “Tidak juga harus berlebihan. Artinya mempelajari budayanya boleh saja, tetapi jika dia terbiasa makan dengan sumpit, sementara Anda tidak, maka tidak harus mengikuti atasan makan dengan sumpit juga,” paparnya. 

Intinya, lanjut Maria, Anda harus bisa menempatkan posisi dalam menghadapi atasan yang berbeda negara dan budaya.  Bahkan bukan tidak mungkin, atasan yang malah belajar banyak tentang budaya Indonesia kepada Anda. 

“Kuncinya adalah kemampuan untuk beradaptasi dengan baik, fokus pada kualitas pekerjaan yang  baik,” pungkasnya. **

Berita Terkait