Memilih Putus dari Pacar

Memilih Putus dari Pacar

  Sabtu, 20 February 2016 09:18

Berita Terkait

Berpacaran menjadi alasan bagi banyak orang untuk mengenal lebih jauh seseorang yang kelak akan menjadi suami atau istrinya. Tapi dalam prosesnya, banyak yang harus putus di tengah jalan, lantaran berbagai alasan, mulai dari perselingkuhan, tidak cocok hingga sifat sang pacar yang tak memberikan kepastian. Oleh : Marsita Riandini

Ketika seseorang ingin menjalin hubungan serius dengan pacarnya, tentu dia mendambakan sang pacar adalah sosok yang dicarinya. Tapi ada saja kendala yang membuat orang tak lagi bisa melanjutkan hubungan tersebut. Putus pun menjadi pilihan, daripada tetap bertahan tanpa kepastian.

Renita (24 th) terpaksa memilih putus dari sang pacar yang sudah menjalin hubungan tiga tahun lamanya. Dia merasa hubungannya tanpa ada kepastian yang jelas untuk lanjut ke jenjang pernikahan, sementara usianya terus bertambah. “Pacaran lama-lama tentunya ingin kepastian yang jelas. Apalagi sebagai perempuan, orang tua selalu mewanti-wanti agar hati-hati. Melihat usia saya yang sudah cukup untuk menikah juga sering membuat saya risih jika ditanya kapan, kapan. Sementara pacar juga belum memberikan kepastian,” ucap warga Jalan Gusti Hamzah ini.  Setiap orang tentu mendambakan kekasih yang setia dan memegang erat komitmen yang telah disepakati. Tetapi jika ternyata komitmen itu dilandasi dengan ketidak jujuran, bahkan terkhianati, tentu berujung pada rasa sakit hati.  

Tak mudah menerima kembali kekasih yang ketahuan mendua. Mengembalikan kepercayaan butuh waktu. Hubungan yang terjalin pun menjadi tidak sehat. Seperti yang diungkapkan oleh Shella (27 th) yang harus putus karena terkhianati. “Awalnya sih menaruh curiga karena perubahan sikapnya. Lama kelamaan kok ada yang beda. Tetapi kalau pacar selingkuh pasti ada saja jalan untuk ketahuan. Kadang ketahuan jalan berdua, masih suka SMS sembunyi-sembunyi,” tutur dia.

Mengetahui kekasih mendua, tak lantas langsung putus. Dia kemudian masih bertahan, tetapi tetap saja dilandasi rasa tidak percaya. Inipun menjadi trauma tersendiri baginya, terutama untuk menjalin hubungan dengan pria lain. “Pernah untuk coba bertahan, tapi tetap ada rasa curiga. Kalau sudah gini, hubungannya pasti tidak tahan lama. Memang orang bisa saja berbuat salah, tapi kalau masalah selingkuh ini sulit lagi percaya,” tutur warga Perum II ini.

Apalagi lanjutnya, jika ternyata sang kekasih masih terus mengingat mantannya. Bayang-bayang sang mantan akan menjadi prahara dalam hubungan keduanya. “Kalau pacar masih suka ingat mantan, itu bikin sakit hati. Pacaran dengan kita, tapi yang diingat mantannya. Kalau kayak gini mendingan putus saja. Toh dia belum bisa move on dari pacar lamanya,” tambahnya.

Tidak mendapat restu dari orang tua pacar juga menjadi pemicu putusnya sebuah hubungan. Apalagi jika sudah lama menanti, restu tak kunjung di dapatkan. Ini pula yang menjadi alasan Ika M (25 th) memilih putus dari pacar yang sudah cukup lama menjalin hubungan.  “Saya merasa orang tua mantan tidak suka sejak awal. Sebab itu saya memilih untuk putus. Andaikan orang tuanya ramah, tulus sayang sama saya, tidak menyindir kalau ketemu, pasti saya masih tetap bertahan,” papar warga Sungai Jawi ini.   

Tak hanya masalah orang tua, sifat sang pacar yang suka berbohong juga membuatnya enggan untuk melanjutkan hubungan ke arah yang lebih serius. “Dia tidak bisa menjaga kepercayaan saya, masih suka melirik cewek lain. Sudah di komunikasikan, tetap saja tidak mau berubah,” jelasnya yang sering kesal dengan sikap centil sang mantan itu.  Lebih mementingkan teman, daripada sang pacar juga menjadi alasan kenapa dia putus dengan sang pacar. “Bukannya ingin mengekang, tetapi dia lebih mementingkan kawannya daripada saya. Kalau ketemu saya jarang, tetapi kalau ketemu kawannya bisa sering bahkan setiap hari,” ungkapnya membeberkan alasan lainnya.

Sudah tidak cocok lagi dengan sang pacar, menjadi alasan yang sering membuat hubungan kandas.  Ketidakcocokan ini juga relatif, bergantung dari masing-masing individu. Ada yang merasa tidak cocok dalam komunikasi sehingga sering terjadi cekcok mulut. “Kalau alasan putus sih beragam ya. Salah satunya itu kalau tidak cocok lagi. Buat apa mempertahankan hubungan kalau kitanya tidak nyaman menjalaninya. Misalnya tiap ketemu malah lebih sering bertengkar. Khan jadi tidak asyik lagi!” seru Febriani (24 th).  **

Berita Terkait