Memilih Pemimpin

Memilih Pemimpin

  Rabu, 9 December 2015 08:52   686

Oleh: Aswandi

 

DUA hari lagi, tepatnya Rabu, 9 Desember 2015 diselenggarakan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak di Indonesia, memilih pemimpin yang mampu membuat perubahan dan menyelesaikan permasalahan. Para ahli kepemimpinan dan pakar perubahan sependapat bahwa, jika tidak ada perubahan, maka gantilah pemimpinnya. 

Blanchard and Miller (2005) dalam bukunya “The Secret” menyatakan bahwa segala sesuatu bangkit dan jatuh karena kepemimpinan dan kepemimpinan sejati sama sekali tidak ada hubungannya dengan jabatan seseorang dalam organisasi. Ada banyak orang di dunia ini yang tidak memegang kedudukan kepemimpinan atau menjadi pemimpin formal, namun mereka senantiasa memberikan kepemimpinan karena kekuatan pengaruh yang dimilikinya. Demikian sebaliknya, ada banyak orang memegang kedudukan atau menjadi pemimpin, namun mereka sama sekali tidak menjalankan fungsi kepemimpinan”.

Rhenald Kazali selaku pakar manajemen perubahan menyatakan hal yang sama, bahwa “untuk bisa menjalankan peran dan fungsinya sebagai pemimpin mesti memiliki kemampuan kepemimpinan atau kemampuan mempengaruhi untuk melakukan sesuatu demi tujuan tertentu, dikutip dari Koran Sindo, 19 November 2015. Jadi, hakikat dari kepemimpinan itu adalah pengaruh (influence), tidak lebih dan tidak kurang.

Bagi umat Islam kriteria pemimpin sudah jelas sebagaimana merujuk pada kepribadian Rasulullah Saw, yakni; benar dan melaksanakan risalah kebenaran dengan cara yang benar dan baik, amanah atau dapat dipercaya, fathonah atau cerdas dan tabliqh atau komunikator efektif.

Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling baik engkau tugaskan menjadi seorang pemimpin adalah yang kuat lagi terpercaya” demikian ucapan putri Nabi Syu’aib yang dibenarkan dan diabadikan dalam QS-Qashash : 26.

Kouzes dan Posner (1997) dalam bukunya “Credibility” menyatakan bahwa kepercayaan terhadap pemimpin dibangun atas dasar; kejujuran, visioner, inspiratif dan cakap”.

Di bagian lain Blanchard dan Miller (2005) menegaskan bahwa untuk menjadi pemimpin besar diperlukan kemampuan dan karakter, keduanya sama pentingnya. Namun apabila harus memilih antara keduanya kemampuan atau karakter, maka memilih karakter dan kemudian mengembangkan kemampuan mereka.

Pilkada yang dimaksudkan melahirkan pemimpin kuat dan kredibel, maka pesta demokrasi lima tahunan ini harus diselenggarakan secara berkualitas oleh KPU sesuai prinsip langsung, umum, bebas dan rahasia,  diawasi dengan penuh tanggung jawab oleh Panwaslu dan Konstituen memberikan suaranya sesuai hati nuraninya karena menyadari bahwa hanya pada saat pemilu dan pilkada ini saja, semua orang dihargai dan diperlakukan sama atau “one man one vote”. Meminjam istilah Gus Dur, “Bukan Demokrasi Seolah-olah”, karena faktanya selama ini masih sering terjadi kecurangan dan dusta diantara mereka dalam penyelenggaraan pemilu dan pilkada.

Lebih menyedihkan, seakan-akan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa tidak ada lagi atau sudah wafat. Petunjuk dan peringatanNya melalui para nabi, didakwahkan dan disampaikan berulang-ulang kali oleh para rohaniawan/i, ulama, ustaz dan guru tidak ditaati. Faktanya, Peringatan Rasulullah Saw, “Siapa yang mengangkat atau memilih seorang pemimpin untuk jabatan yang berkenaan urusan masyarakat sedangkan dia mengetahui ada yang lebih baik atau lebih tepat, Maka ia telah mengkhianati Allah SWT, Rasul, dan kaum Muslim”, dikutip dari M. Quraish Shihab (1994) dalam kitabnya “Lentera Hati”.

Sebuah survei Oktober 2005 menemukan bahwa 27,5% publik menerima uang dan memilih calon yang memberinya uang. Lima tahun kemudian (Oktober 2010), angka tersebut naik hingga 37,5%, dikutip dari Kompas, 30 November 2015. Bukan rahasia lagi, melainkan sudah menjadi pengetahuan publik bahwa serangan fajar seharga Rp. 20.000,- (dua puluh ribu rupiah) setiap suara mengalahkan kebaikan calon pemimpin yang telah dibangun puluhan tahun lamanya. Hukum kepemimpinan yang menyatakan bahwa “Sentuhlah dahulu, baru minta tolong” dan “Mengerti dahulu, baru dimengerti” tidak berlaku lagi di saat idealisme masyarakat telah dikalahkan oleh pragmatisme sebagai dampak dari hilangnya hidayah dariNya  dan faktor kemiskinan.  Akibat darah idealisme yang telah mengering itu, tidak jarang antara kandidat pemimpin, tim sukses dan pendukungnya saling memfitnah dan mencaci, mengobral aib kandidat pemimpin lainnya untuk mempertontonkan kepada masyarakat bahwa  ada “Maling Teriak Maling”.

Memilih pemimpin yang kuat lagi terpercaya tidaklah mudah karena semua calon pemimpin adalah manusia biasa; ada baik dan ada pula buruknya, tidak ada yang sempurna. Kehadiran mereka sebagai seorang pemimpin di tengah masyarakatnya dibangun atas dasar potensi baik yang dimilikinya, sekecil apapun potensi kebaikan itu, bukan potensi buruknya yang sering membuat keonaran di muka bumi ini.

Para pemilih harus proaktif mengetahui rekam jejak calon pemimpin yang akan dipilihnya. Tentu saja lebih mudah mengenal sosok calon pemimpin dari sumber incumbent atau patahana dibanding calon pemimpin baru, lebih sulit lagi jika calon pemimpin baru tersebut kehadirannya di tengah masyarakat menjelang pilkada dilaksanakan yang sebelumnya tidak diketahui keberadaannya oleh para pemilih. Akhirnya mereka para pemilih, memilih pemimpin yang diketahui rekam jejaknya dari pada mereka memilih pemimpin ibarat memilih kucing dalam karung.

Para pemilih pada pilkada serentak nanti jangan lupa hukum proses dalam kemimpinan, bahwa “Para pemimpin besar yang mampu membuat perubahan tidak lahir dalam waktu sekejap dan tidak muncul seketika, mereka menjadi pemimpin besar sehari demi sehari sepanjang hidupnya (kaya pengalaman), terus menerus mencari cara terbaik untuk melayani dan mencari solusi, baik masalah besar maupun masalah kecil”, bukan pemimpin anak manis yang selalu ingin digendong dan disusui oleh orang tuanya dan pemimpin dibawah kekuasaan tangan-tangan tersembunyi yang mengendalikan dan mengambil keuntungan dari jabatannya sebagai pemimpin.

Mengakhiri opini ini, penulis mengingatkan kita semua, terutama kepada pelaksana, pengawas dan pemilih pada pilkada serentak nanti agar mentaati asas pilkada yakni langsung, umum, bebas dan rahasia sesuai keyakinan dan hati nurani masing-masing agar pilkada serentak pertama kali ini mampu melahirkan pemimpin yang tulus dan ikhlas menjadi pelayan masyarakatnya. (Penulis, Dosen FKIP Untan).