Memburu Rangkong Membunuh Budaya

Memburu Rangkong Membunuh Budaya

  Selasa, 12 December 2017 09:04   75

Oleh: Muhamad Bibie Saputro

RANGKONG atau yang biasa kenal dengan Enggang adalah sejenis burung yang mempunyai paruh berbentuk tanduk sapi tetapi tanpa lingkaran. Biasanya paruhnya itu berwarna terang. Nama ilmiahnya "Buceros" merujuk pada bentuk paruh dan memiliki arti "tanduk sapi" dalam Bahasa Yunani. Burung Rangkong tergolong dalam familia Bucerotidae yang termasuk 57 spesies. Sembilan spesies dari padanya berasal endemik di bagian selatan Afrika. Makanannya terutama buah-buahan juga kadal, kelelawar, tikus, ular dan berbagai jenis serangga dan hidup di lubang pohon. Tercatat ada 13 jenis Rangkong yang ada di Indonesia. Sembilan jenis di Sumatera: Enggang Llihingan, Enggang Jambul, Julang Jambul-Hitam, Julang Emas, Kangkareng hitam, Kangkareng Perut-Putih, Rangkong Badak, Rangkong Gading, dan Rangkong Papan. Empat jenis lagi berada di Sumba (Julang Sumba), Sulawesi (Julang dan Kangkareng Sulawesi), serta Papua (Julang Papua). Kalimantan memiliki jenis Rangkong yang sama seperti Sumatera, kecuali Rangkong Papan. Ada yang unik dari kebiasaan burung rangkong pada pasangannya. 

Selama rangkong betina bersarang di lubang pohon yang ditutup dengan lumpur, rangkong jantan mencari dan memberi makanan ke rangkong betina lewat lubang yang disisakan separuh pada sarangnya. Lumpur akan dipecahkan oleh rangkong betina ketika sudah tiba saatnya telur yang dieraminya menetas. Selain itu ditemukan fakta pula bahwa burung rangkong ini termasuk burung yang setia terhadap pasangannya. Apabila salah satu pasangannya mati, burung tersebut akan tetap sendiri hingga akhir hidupnya tanpa mencari pendamping lagi.

Habitat Rangkong Indonesia terancam hilang akibat eksploitasi hutan yang membuat sumber pakannya menjadi berkurang dan juga para pemburu yang semakin banyak untuk memperdagangkan paruh yang merupakan ciri khas burung tersebut serta bulunya yang indah untuk dijadikan hiasan atau pajangan. Rangkong merupakan hidupan liar yang sangat berjasa pada regenerasi hutan. Tanpa Rangkong, diperkirakan hutan akan segera hancur dan potensi yang terkandung didalamnya ikut tergusur. Banyak jenis pohon yang kelanjutan hidupnya bergantung pada hewan pemakan buah dalam penyebaran bijinya. Berdasarkan data International Union for Conservation of Nature (IUCN), dari 13 jenis Rangkong yang ada di Indonesia, Julang Sumba dan Rangkong Gading merupakan jenis terancam punah yang masuk pada kategori rentan (Vulnerable/VU). Dalam budaya Kalimantan Barat burung Rangkong gading (tingan) merupakan simbol "Alam Atas" yaitu alam kedewataan yang bersifat "maskulin". Di Pulau Kalimantan, burung Rangkong gading dipakai sebagai lambang daerah atau simbol organisasi seperti di lambang negeri Sarawak, lambang provinsi Kalimantan Barat, satwa identitas provinsi Kalimantan Barat, dan sebagainya. Burung Rangkong Gading merupakan lambang persatuan orang Dayak yang sering diwujudkan dalam bentuk ukiran pada Budaya Dayak, 

Bentuk kebanggaan daerah terhadap rangkong gading terlihat dari berbagai simbol organisasi pemerintah dan lembaga seperti lambang Provinsi Kalimantan Barat yang menjadikan satwa ini sebagai identitas provinsi. Kasus perburuan dan perdagangan satwa ini kian marak terjadi sejatinya menjadi prioritas untuk diselesaikan, namun hingga saat ini kasus-kasus perdagangan dan penyeludupan kembali terjadi dan terulang, keperdulian kita terhadap lingkungan semakin diperlukan segera dan medesak meningkat keselarasan alam telah kian memudar dengan adanya nafsu-nafsu jahat dalam diri manusia. Kalu tidak melakukan keperdulian sekarang kapan lagi. Rumah bagi para burung dan hewan lainnya sudah berubah fungsi menjadi perkebunan sawit skala besar. Kemana para burung dan hewan lainnya akan berdiam dan tinggal di hutan, jika di luar mereka diburu. Maka dari itu perlu kesadaran dari kita agar menjaga burung rangkong ini agar tidak punah karena jika rangkong punah maka akan membunuh budaya yang ada di Kalimantan Barat. #SaveRangkongSaveBudaya. **

*Penulis: Mahasiswa Sosiologi Fisip Untan Asal Mempawah