Membuka Jendela Ilmu di Tapal Batas

Membuka Jendela Ilmu di Tapal Batas

  Rabu, 26 Oktober 2016 09:30
MELAYANI: Eka Murnianingsih (kiri) melayani anak-anak yang ditemani orangtuanya saat mengunjungi Taman Bacaan Kemala Cinta Indonesia. SUTAMI ANWAR/PONTIANAK POST

Berita Terkait

Relawan Baca Kalbar; Sosok Inspirasi Menuju Indonesia Membaca 2019

 

Sosok Relawan Baca Kalbar kali ini nun jauh di sana. Dia bermukim di Ketungai Hulu, Kabupaten Sintang, yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Tak mudah menjangkau kawasan itu. Perlu melintasi medan yang cukup berat. Ketertinggalan ini pula menjadi tantangan Eka Murniangsih. Masalah ini harus diatasi dengan mempersiapkan generasi muda berkualitas dengan cara banyak membaca. 

SUTAMI ANWAR, Sintang

MOTIVASI ingin memperluas wawasan masyarakat perbatasan menjadi alasan Eka Murnianingsih membangun minat baca. Dia sungguh-sungguh mengelola taman bacaan. Secara perlahan, perempuan kelahiran 30 Mei 1984 ini, dedikasinya mulai menunjukkan hasil. Satu minggu kini sudah mencatatkan 70 peminjaman buku. Jumlah itu  dicapai tidak mudah.  Beragam inovasi dijalankan kurang lebih dua tahun ini.

Murnianingsih menyadari tidak gampang mendorong semangat  baca dapat tumbuh ditengah masyarakat. Apalagi di perbatasan. Masyarakat belum terbiasa dengan pola meminjam buku maupun mengunjungi taman bacaan. Dengan koleksi 3.565 judul buku, taman bacaan yang dikelola Murnianingsih kini mulai mendapat tempat. 

Murnianingsih bercerita kalau taman bacaan dibawah pengelolaannya dibangun atas bantuan Ibu Kapolda era Brigjen Pol Arief Sulistyanto. Kemala Cinta Indonesia taman bacaan itu dinamai. Didirikan  22 Oktober 2014. Sebagai istri bhayangkara, Murnianingsih ditugasi mengelola. Tanggung jawab yang mulanya dirasakan berat, kini kebalikannya. Justru bersemangat. 

Sepi. Sebuah kenyataan harus dihadapi saat taman bacaan mulai beroperasi. Kunjungan pembaca tidak signifikan. Murnianingsih kemudian mencari cara, supaya masyarakat bersedia mengunjungi taman bacaan. Berdasarkan pengamatannya, masyarakat hanya belum terbiasa. Masyarakat akan lebih menerima kalau suasana taman bacaan lebih santai. 

Ia akhirnya nekat. Buku di taman bacaan sebagian diboyong keluar dengan dipajang di kantin Polsek Ketungau Hulu. Perkiraan Murnianingsih tidak meleset. Masyarakat bisa diakrabkan dengan buku melalui cara tidak formal. Kunjungan perlahan menunjukkan peningkatan. Peminjam buku juga demikian. 

Bukan semata warga setempat pengunjung taman bacaan. Membanggakan Murnianingsih adalah tidak sedikit mahasiswa asal Ketungau Hulu saat libur atau kebetulan balik kampung singgah ke taman bacaan yang dikelola. Buku koleksi taman bacaan juga ikut dipinjam. Yakni sebagai bahan pustaka keperluan perkuliahan. “Biasa mahasiswa juga ada pinjam buku,” kata perempuan kelahiran Nanga Jetak ini.

Murnianingsih turut bersyukur koleksi buku juga terus bertambah di taman bacaannya. Awal 2016, Perpustakaan Provinsi Kalimantan Barat  mengirim 1.000 buku. Sebelumnya, sudah membantu 996 buku. 

Kick Andy Foundation juga memberikan 232 buku. Begitu pula dengan dr Niken, istri Kapolda Kalbar saat masih dijabat Brigjen Pol Arief Sulistyanto. Hanya dari perpustakaan Sintang belum ada merespon permintaan Murnianingsih. Ajuan bantuan maupun tukar buku.

Murnianingsih kini masih tetap berupaya memperluas akses taman bacaan bagi masyarakat perbatasan. Sandungan terberatnya masalah akses. Medan infrastruktur di perbatasan berat untuk dijangkau. Jarak antar desa saling berjauhan. Padahal niat Murnianingsih, taman bacaannya bisa keliling desa. “Kendala kita medan perbatasan yang berat,” katanya.

Tapi keterbatasan tidak membuatnya patah semangat. Kampanye minat baca justru digencarkan dengan menggalang kerjasama ke berbagai pihak. Komunitas masyarakat dan aktivitas sosial kemasyarakatan didekati. 

Ia tidak ragu berkampanye membaca sekaligus memperkenalkan taman bacaan kepada ibu-ibu pengajian di BKMT Ketungau Hulu. Kemudian meminta secara khusus ke Puskesmas saat turun penyuluhan ke masyarakat supaya mensisipkan informasi keberadaan taman bacaan. Begitu pula dengan Polsek. “Saya minta bantu juga dengan anggota kepolisian. Semua pihak saya harapkan bantuannya,” kata Murnianingsih.

Guna menyasar anak-anak, Murnianingsih mengambil pola tersendiri. Ia mengadakan lomba menggambar dan mewarnai tingkat Taman Kanak-Kanak (TK) dan sekolah dasar (SD). Lomba bukan sebatas lomba. Tapi sebenarnya adalah memperkenalkan taman bacaan sekaligus mendorong budaya baca supaya tumbuh sejak dini. “Dalam waktu dekat kita juga akan kembali mengadakan lomba (menggambar dan mewarnai),” katanya. 

Perawat gigi di Puskesmas Senaning ini tidak punya tujuan lain. Cakrawala masyarakat di perbatasan harus bertambah. Buku pembuka jendelanya. Keterbatasan sarana prasarana bukan berarti juga membatasi untuk mendapatkan pengetahuan. 

Murnianingsih kini terus bermimpi. Dia berharap tiap bulan taman bacaannya bisa berkeliling ke desa-desa di Ketungau Hulu secara bergantian. Ada 32 desa dengan medan yang begitu berat. Semoga mimpi itu jadi kenyataan. (*)

Berita Terkait