Membuka Hati Setelah Bercerai

Membuka Hati Setelah Bercerai

  Sabtu, 13 Agustus 2016 10:23

Berita Terkait

Bercerai dengan pasangan merupakan hal menyakitkan. Memulai menata hidup baru pascaperceraian tidaklah mudah, tetapi bukan berarti tak bisa dilalui. Ada banyak orang yang bisa hidup bahagia dan berhasil membuka hati setelah berhasil move on dari kehidupan masa lalunya.

Oleh : Marsita Riandini

Tidak ada pasangan yang ingin mengakhiri pernikahan yang telah mereka bangun dengan cinta dan kasih. Namun, kenyataannya banyak yang harus memilih untuk berpisah. Masing-masing dari pasangan pun harus siap menjalani perubahan besar dalam hidup. Dari yang tadinya mengurus rumah tangga bersama pasangan, kini harus menjadi orangtua tunggal. Dari urusan pakaian, makan minum diurus oleh pasangan, kini harus bisa mengurus sendiri.

Seperti dialami Yuli, perempuan yang disamarkan namanya ini. Yuli terpaksa memutuskan bercerai dengan sang suami setelah menjalani bahtera rumah tangga selama 17 tahun.

“Ada alasan yang membuat saya bertahan selama 17 tahun bersama suami. Tapi ada juga hal-hal prinsip yang harus saya pegang sehingga terpaksa memutuskan bercerai,” kata Yuli.

Pegawai negeri di Kalimantan Barat ini menuturkan memulai hidup baru setelah bercerai bukan hal mudah. Ia harus meninggalkan rumah dan membawa serta anak-anaknya. Semua hal yang sebelumnya dilakukan bersama suami, kini dikerjakannya sendiri.

“Awalnya tak mudah, tapi saya berusaha menjalani. Beruntung memang selama ini kebanyakan persoalan anak dan rumah tangga saya mengerjakan sendiri,” tutur Yuli.

Yuli mengatakan kehidupannya setelah bercerai jauh lebih bahagia. “Tak tahu juga, saya merasa lebih enjoy, tenang, dan jauh lebih bahagia,” tutur Yuli.

Kini, Yuli lebih memilih membesarkan anak seorang diri. Ia pun masih enggan membuka hati untuk pria lainnya karena trauma dengan pernikahan sebelumnya.

“Tak tahu juga sampai kapan begini (sendiri). Tetapi saya belum berpikir untuk menikah lagi. Terpenting, menyekolahkan anak dulu setinggi-tingginya,” ungkap Yuli.

Meskipun perceraian menyisakan pengalaman pahit bagi Anda, tetapi tak ada salahnya kembali membuka hati kepada seseorang yang siap menerima kondisi Anda saat ini. Lantas, apa yang harus dilakukan?

Menanggapi For Her, Yulia Ekawati Tasbita, S. Psi, Psikolog mengatakan seseorang harus optimis menjalani kehidupan ke depannya setelah bercerai. Jangan sampai lengah dan larut dalam kegalauan. Terpenting, tetap merasa diri berharga dan siap memulai kehidupan selanjutnya.

Yulia menjelaskan pasangan yang mengalami perceraian sedang mengalami perubahan besar dalam hidup.

“Tentu ada positif dan negatifnya bagi dirinya maupun keluarga. Belajarlah dari masa lalu, bangun komitmen bersama calon pasangan untuk membangun kehidupan yang baru,” papar salah satu Pendiri Persona Consulting, Jalan DR Wahidin Sudirohusodo.

Mengembalikan semangat hidup dan rasa percaya diri tentu tidaklah mudah. Apalagi perceraian masih dianggap momok menakutkan.Perlu proses dan tentu saja harus ada dukungan dari keluarga.

“Belum lagi sanksi sosial yang didapat. Jika rasa percaya diri telah kembali, lambat laun dia akan mudah kembali membuka hati,” ujarnya.

Dukungan keluarga dan menyibukkan diri dengan aktivitas positif seolah menjadi hiburan tersendiri bagi seseorang untuk bangkit dari kesedihan. Mereka dapat mengalihkan perhatian dan energinya pada kegiatan positif. Dengan begitu sedikit demi sedikit mereka kembali merasa percaya diri dan mulai bersedia membuka hati untuk orang lain.

Anda harus memahami bahwa yang dihadapi bukanlah akhir dari segalanya. Setiap orang memiliki kebutuhan yang beragam. Salah satunya kebutuhan kasih sayang. Hal ini mungkin saja akan didapatkan dari pasangan baru Anda.

“Menurut teori Maslow, ada beberapa kebutuhan manusia, dari kebutuhan secara fisiologi, rasa aman, kasih sayang, penghargaan, hingga aktualisasi diri. Nah, hal ini bisa didapatkan seseorang dari pasangannya,” ulasnya.

Namun, ada pula orang yang merasa bahwa rasa cinta kasih dan sayang itu bisa didapat dari anak dan keluarganya, sehingga mereka merasa tak harus menikah lagi. Apalagi secara finansial, dia bisa memenuhi dan memilih fokus pada karir.

“Dia lebih fokus mengembangkan karirnya, apalagi interaksinya dengan lawan jenis selama ini benar-benar hanya untuk urusan pekerjaan,” ungkap Yulia.

Tidak menyamaratakan semua orang juga menjadi hal penting. Banyak orang yang sulit membuka hati kepada orang lain, lantaran dia masih dendam dengan pasangan lamanya. “Contohnya ketika suaminya selingkuh, kemudian dia bercerita pada orang lain yang kebetulan juga mengalami nasib yang sama. Lalu dia kemudian menganggap semua lelaki itu sama saja. Padahal tidak seperti itu,” pungkas dia. **

------------------------------

Mengapa Susah Membuka Hati?

Tak bisa dipungkiri, cepat lambatnya seseorang move on setelah bercerai bergantung dari beberapa faktor. Berikut beberapa penjelasan dari Psikolog Yulia Ekawati Tasbita kepada For Her:

*Karakter seseorang

Karakter seseorang yang berbeda-beda membuat cara mengahadapi persoalan berbeda-beda. Umumnya orang menganggap pria lebih mudah membuka hati untuk menikah lagi dibanding wanita. Sebenarnya membuka hati untuk menikah lagi bukan tergantung dia pria atau wanita. Hanya saja, kenapa pria lebih cepat menikah lagi setelah bercerai? Karena pria cenderung mengutamakan logika dibanding perasaan. Sebaliknya perempuan cenderung mengutamakan perasaan.

*Masalah yang melatarbelakangi

Sulitnya orang membuka diri untuk menerima kehadiran orang lain dalam hidupnya, karena dia mengalami traumatis ketika proses perceraian. Sebab masalah dalam rumah tangga tentu beragam. Ada yang bercerai karena orang ketiga, kekerasan dalam rumah tangga, ataupun kebutuhan finansial yang tak terpenuh, hingga masalah prinsip lainnya. Dia pun takut hal tersebut kembali terulang.

*Masih menyayangi mantan

Masih mencintai mantan, bayangannya selalu hadir membuat seseorang sulit untuk menerima kehadiran orang baru. Apalagi jika perpisahan terjadi bukan karena ada masalah orang ketiga.

*Anak

Pasca bercerai, anak tentu menjadi perhatian serius bagi seseorang ketika akan menikah lagi, terutama bagi dia yang mendapatkan hak asuh anak. Salah satu yang menjadi pertimbangan adalah apakah pasangan nantinya anak dan calon pasangannya bisa saling menerima.(mrd)

Berita Terkait