Membuat Sains Jadi Seru & Mudah

Membuat Sains Jadi Seru & Mudah

  Selasa, 13 September 2016 10:11

Sui Kiun kerap melakukan percobaan sains sejak duduk dibangku SMP dan SMA. Ketika lulus kuliah di Fakultas Kehutanan, ia memilih menjadi guru. Berbagai percobaan sains yang mudah dipahami dengan metode sederhana pun menjadi salah satu bahan dalam mengajar. Kecintaannya terhadap sains pun membuahkan prestasi. Sui Kiun berhasil menjadi guru berprestasi tingkat nasional tahun 2016.

 
 

Oleh: Marsita Riandini

 

Sui Kiun mengawali karirnya sebagai guru ketika masih duduk di bangku kuliah. Namun, tak mengajar di sekolah formal, melainkan di tempat les atau bimbingan belajar (bimbel). Ia pun mulai mempraktikkan ilmu pengetahuan yang diperolehnya kepada anak-anak di tempatnya mengajar maupun yang ikut les privat dengannya.

“Untuk memahami pembelajaran sains anak-anak harus praktik, terutama percobaan sederhana yang bahan-bahan ada di sekitar kita. Itu pula yang menjadi tantangan guru bagaimana mendata bahan-bahan pengganti tersebut meskipun memang dari kemurnian tidak semurni bahan pabrikan. Tetapi untuk percobaan anak SMA tidak terlalu masalah,” ungkapnya.

Sui Kiun juga kerap mengajak siswa belajar sambil bermain. Contohnya ketika belajar tentang molekul. Ada alat peraga yang bisa dijadikan game seperti lomba cepat membuat bentuk molekul. Anak-anak pun menjadi senang dan tertarik untuk belajar.

Ketertarikan Sui Kiun pada sains muncul sejak kecil. “Saya awalnya menyenangi fisika, tetapi pada 1994 belum ada FKIP jurusan fisika,” kata Sui Kiun.

Akhirnya ketika lulus SMA, ia memilih melanjutkan kuliah di Fakultas Kehutanan. Pilihan ini bukan tanpa alasan. Saat itu kondisi ekonomi keluarganya tergolong kurang. Sang guru pun menyarankan agar Sui Kiun tak memilih menjadi guru.

“Akhirnya saya memilih di Fakultas Kehutanan,” jelasnya.

Ketika kuliah, Sui Kiun pun berpisah dengan orangtuanya. Ia di Pontianak dan orangtuanya di Pontianak. Hidup jauh dari orangtua membuatnya harus pandai mencari tambahan biaya hidup. Ia pun mencari penghasilan dari mengajar les privat dan di tempat bimbingan belajar.

“Lama-lama saya merasa cocok di dunia mengajar. Bahkan sempat mengajar di bimbel ternama di Pontianak. Akhirnya selelsai S1, saya ambil akta IV jurusan kimia. Karena dari Fakultas Kehutanan bisanya memilih biologi atau kimia. Saya memilih kimia,” tuturnya.

Ketika itu Akta IV masih diperbolehkan untuk mengikuti seleksi CPNS. Sui Kiun menyelesaikan pendidikan aktanya pada 2002 dan tahun berikutnya lolos seleksi CPNS guru.

Guru merupakan profesi yang mulia, tetapi tak mudah. Selain harus mendidik banyak siswa, guru juga harus terus mengembangkan kemampuannya, baik untuk kebutuhan mengajar maupun dalam berkompetisi. 

Sebagai guru bidang studi kimia, Sui Kiun terus belajar dan membuat metode-metode sederhana agar siswanya paham dan bisa mempraktikkan semua yang diajarkannya. Kebiasaannya mencoba metode baru dan menulis seputar mata pelajaran ternyata membawa keberuntungan dengan beragam prestasi yang ia raih.

“Awalnya karena kebutuhan, sebab seorang guru itu punya tantangan bagaimana siswanya menyenangi dulu pelajarannya. Kalau sudah senang pasti akan tertarik untuk belajar. Lalu, timbul keinginan untuk banyak membaca, menulis, dan  membuat metode yang inovasi, manarik dan mudah bagi siswa,” ujar guru di SMA Negeri 9 Pontianak ini.

Pada 2014, pria berusia 41 tahun ini mengikuti olimpiade guru sains. Walau pertama kali ikut, Sui Kiun langsung terpilih sebagai juara satu dalam olimpiade guru se Kota Pontianak. Ia pun langsung menjadi finalis di tingkat provinsi yang menggunakan sistem passing grade. Kemudian, ia berhasil masuk 14 besar tingkat nasional.

“Tahun 2015 masih sampai nasional, juga pada olimpiade guru tersebut,” ucap alumni Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura ini.

Prestasi bergengsi lain pun berhasil diraihnya. Sui Kiun terpilih menjadi juara 3 Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2016 dalam kategori guru SMA.

“Saya tidak boleh ikut olimpiade guru sebab penyelenggaranya sama.  Jadi saya ikut seleksi guru berprestasi. Tetapi tantangannya lebih besar, sebab ada empat poin penting yang menjadi acuan,” paparnya.

Empat poin tersebut yakni tes psikologi, profesional mata pelajaran, dan portofolio, dan wawancara. Wawancara dilakukan juri bergelar profesor, yang ingin tahu tentang wawasan guru dalam menguasai bidang, kurikulum dan sebagainya.

Ada pula presentasi karya ilmiah. Sebagai guru biasanya karya ilmiah berangkat dari persoalan-persoalan yang dialami siswa. Sui Kiun pun memilih penelitian tindakan kelas dan karya ilmiahnya tentang peningkatan motivasi. Ia mengambil bahan dari  problem-problem yang dialami siswa. Lulusan Magister Manajemen Untan ini juga menggunakan metode praktikum berbasis lingkungan sehari-hari.

“Misalnya mengganti bahan-bahan yang sulit dicari dengan bahan-bahan yang ada di sekitar siswa,” kata Sui Kiun yang telah membuat daftar bahan-bahan pengganti kandungan senyawa kimia yang bisa ditemukan di lingkungan sekitar ini.

Sui Kiun juga pernah menjadi penulis artikel rutin di Pontianak Post tentang percobaan-percobaan sains yang mudah dan diterbitkan setiap minggu. Hasil karya tersebut  pun dibukukan olehnya  dengan judul Bim Salabim, Seru & Mudah Mengungkap Misteri Sains. Ia bekerja sama dengan ilustrator Trisno yang akrab disapa Tris.

“Kalau ini kan saya diburu dengan deadline. Jadi setiap malam saya terpacu untuk membaca dan menuliskannya kembali menjadi lebih sederhana dan menarik  agar anak-anak bisa mencobanya di rumah,” ungkapnya. **