Memberi, Pangkal Kebahagiaan

Memberi, Pangkal Kebahagiaan

  Kamis, 12 May 2016 09:43   604

Oleh : Khoiril Arif Ya'qub 

KELAS  takhasus merupakan tempat saya kemudian menimba ilmu, sebuah kelas yang ada di pondok pesantren dan tidak jauh dari tempat tinggal saya. Konon, sebelumnya di pondok pesantren inilah saya belajar, mengaji dan sekolah sejak dini, karena sarana yang diberikan kedua orang tua, sebagai pilihan tempat mencari ilmu, hingga akhirnya saya selesai secara formal—meskipun dalam progam tersebut saya tidak bersungguh-sungguh. Ini tak perlu ditiru!   

Singkat cerita, dalam tulisan ini saya tidak akan mengupas tentang riwayat pendidikan, namun lebih kepada aspek lain yang akan saya coba paparkan pada paragraf selanjutnya. Mohon kepada pembaca kemudian berkenan menilai dan memberikan komentar di akhir-akhir tulisan. 

Menjadi sebuah renungan yang cukup dalam bagi saya adalah saat beliau (abah yai) mengajar santri senior di kelas takhasus setiap hari, mulai pukul 22:00-23:30 WIB kecuali malam Jumat dan Selasa. 

Yang mengharukan, beliau hanya mengajar sekitar belasan orang (putra-putri), dan rata-rata dari mereka tidur di sela-sela pengajian (termasuk saya juga). Tidak ada niat sama sekali untuk tidur di jam mengaji. Mungkin hal demikian terjadi karena padatnya aktivitas santri di waktu pagi, termasuk saya, menjalankan aktivitas kuliah. 

Kajian kitab dalam kelas ini, memang cukup tinggi seperti Insan Kamil, Jami’ Shoghir, dan Ihya’ Ulumuddin, sebuah kitab tasauf karangan Imam Ghozali yang namanya amat tersohor seantero jagat. Oleh karenanya kelas ini tidak banyak yang mengikuti. 

Saat kegiatan mengajar kitab ringan semisal Taqrib, yakni kitab yang menjelaskan soal fikih, kelas ini lumayan ramai karena kenyataannya semakin tinggi kelas, semakin minim orangnya. 

Lebih mengharukan lagi, beliau lakoni hal tersebut selama bertahun-bertahun tanpa gaji dan hal itu sama sekali tidak menghilangkan ‘passion’ beliau sebagai seorang kiai yang alim. Kendati demikian, semangat dakwah yang saya yakin beliau miliki ini, menjadikan santri tetap mengaji meskipun dalam keadaan tidur. 

Beliau pernah mengatakan dan saya sangat mengingatnya: “Kita tidak berani mengatakan mencintai Nabi Muhammad, dan lebih tidak berani lagi kalau mengatakan tidak mencintai Nabi Muhammad, kita adalah nuansa cinta Muhammad. Jika memakai bahasa nuansa, insya Allah yang tidur-tidur ini juga akan termasuk dalam nuansa-Nya.” 

Dengan bahasa nuansa inilah, kemudian berimbas kepada nama pondok pesantren tersebut, yakni Darul Hidayah: Nuansa Cinta Muhammad. 

Entah kenapa seorang kiai mau mendedikasikan waktunya hanya untuk mengajar santri yang sedikit dan rata-rata tidur saat mengaji. Hal ini sangat kontras saat saya kuliah selama 6 semester ini. Saya kira ada yang mendorong seorang guru atau kiai yang mengajar tanpa pamrih tersebut. 

Jika pamrih adalah satu-satunya hal yang menggerakkan manusia untuk melakukan sesuatu, saya kira kiai atau guru tersebut akan berhenti mengajar. Mengingat di era modern yang snobistis ini, saya kira cukup banyak kiai yang hidup bermewah-mewahan, mengejar santri sebanyak-banyaknya dengan bangunan megah pondok yang dimilikinya. 

Meski begitu, saya tetap berbaik sangka bahwa jelas masih banyak lagi kiai yang amat membanggakan, mengabdi demi agama, tanpa pamrih meski risiko kemiskinan yang menghadang. Dedikasi yang seperti ini hanya bisa dijelaskan dengan dua hal saja. 

Yang paling utama dan harus disebut terlebih dahulu ialah kecintaan terhadap ilmu. Beliau mencintai ilmu dengan cara yang mungkin hanya bisa digambarkan oleh puisi Sapardi Djoko Damono, seperti “kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.” Kecintaan yang sederhana, namun begitu mendalam. 

Yang lebih penting lagi ialah kebahagiaan dalam memberi. Beliau memberikan ilmu tanpa memikirkan keuntungan moneter yang didapat. Bagi beliau memberi ilmu  merupakan sumber dari kebahagiaan. 

Gus Mus pernah berkata, “Jangan banyak mencari banyak, banyak bisa didapat dengan hanya meminta, tapi dengan memberi akan mendatangkan berkah.” Memang kita kerap mendapatkan kebahagiaan setelah memberi, baik itu yang kasat mata seperti harta, hak milik, atau yang tak kasat mata seperti memberi pengetahuan. 

Memberi merupakan cermin dari kebergantungan kita kepada Allah. Dengan memberi, kita menyatakan bahwa kita bergantung kepada Allah untuk semua kebutuhan kita. Bagi mereka yang hidup bergantung kepada Allah, Allah memberikan janji pemeliharaan. Dengan memberi, kita belajar melepaskan ketergantungan kepada materi & kepada diri sendiri, serta membuat kita belajar bergantung kepada Allah. 

Mungkin itu juga menjadi alasan para pendakwah Islam terdahulu mengapa mereka selalu memberi hingga hijrah ke beberapa daerah, meninggalkan keluarga, menempuh jalan kiloan meter, demi menyebarkan Islam meski nyawa pun yang harus dipertaruhkan dan mengapa juga selalu melakukan tindakan yang bukan demi kepentingan pribadi. 

Saya pastikan hal tersebut karena memberi adalah sumber kebahagiaan. Karena itu, mari kita izinkan rahmat dari Allah turun atas kita dengan rajin memberi. 

Penulis mahasiswa IAIN Pontianak