Membeli Kucing dalam Karung

Membeli Kucing dalam Karung

Senin, 30 November 2015 09:10   1

Oleh: Aswandi
 
SEBUAH peribahasa lama mengingatkan agar berhati-hati dalam memilih. Jangan seperti membeli kucing dalam karung. Peribahasa tersebut sangat beralasan karena apa yang terbungkus di dalam karung banyak diantara kita tidak mengetahui secara jelas isinya sehingga sering kali mengalami kerugian akibat ketidakhatian tersebut. Faktanya, terkadang kualitas barang di dalam karung sangat rendah, bahkan busuk tetapi karung yang digunakan untuk membungkus barang tersebut sangat bagus, harganya murah dan terjangkau, disertai bermacam ragam hadiah yang dijanjikan sehingga membuat banyak pembeli tergiur karena kemasan dengan menggunakan karung yang bagus itu.

Sebaliknya, ada barang tersimpan di dalam karung berkualitas tinggi, namun sayangnya karung yang digunakan untuk membungkusnya kurang bagus atau biasa-biasa saja, sehingga tidak banyak orang meliriknya. Celakanya, asumsi tersebut diperkuat atau dibenarkan oleh ahli pemasaran bahwa harga sebuah barang sangat ditentukan dimana ia ditempatkan. Jika berada ditempat yang lux, harganya mahal, sebaliknya jika ditempatkan dan dijual di emperan, harga barang yang sama kualitasnya itu murah.
Sepertinya, nasehat yang terkandung dalam peribahasa lama tersebut masih dapat digunakan pada masa kini, lebih khusus pada saat bangsa ini menyelenggarakan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak, 9 Desember 2015 mendatang.
Karung yang digunakan oleh para calon kepala daerah tersebut bermacam ragam jenis, bentuk, dan cara kemasannya. Misalnya, perilaku calon kepala daerah mendadak berubah: sebelumnya acuh tak acuh, sekarang sangat ramah dan senang bersilaturrahmi, selalu setia dan sedia menghadiri undangan, terutama di kantong-kantong suara. Dulunya kikir atau pelit, sekarang sangat dermawan, peduli terhadap rakyat kecil atau wong cilik, dan sok akrab seperti sudah lama bersahabat, memburu penghargaan itu dan ini yang seakan-akan calon pemimpin memiliki segudang prestasi. Dulunya, rasional dan teliti, sekarang irrasional, mudah dibohongi dan kurang waspada. Dan tidak jarang sentimen agama, kesukuan dan kedaerahan dimanfaatkan secara tidak bertanggung jawab oleh calon pemimpin yang haus kekuasaan untuk mencapai kemenangannya, ayat-ayat suci dijual dan digunakan tidak pada tempatnya, seakan-akan Allah SWT pun bisa mereka suap. Padahal, beriman tidaknya suatu umat manusia tidak menambah kemuliaan Allah SWT, karena ia maha mulia atas segala sesuatu.
Calon pemimpin dan tim suksesnya memasarkan barang jualannya tanpa uang muka (DP). Mereka habiskan uang jutaan bahkan miliaran rupiah untuk membayar pencitraan diri melalui media massa yang disiarkan hampir setiap hari sehingga pemirsa pun muak melihat dan mendengar janji-janji muluk dan gombalnya.
Nabi bersabda, “Demi Allah, kami tidak mengangkat sebagai pejabat (pemimpin) yang (kasak-kusuk) memintanya”. Beliau juga berpesan, “Jangan kasak-kusuk mencari jabatan karena bila engkau memperolehnya tanpa kasak-kusuk, engkau akan dibantu Tuhan. Allah SWT menurunkan malaikat mendukung langkahmu”, dikutip dari M. Quraish Shihab (1994) dalam kitabnya “Lentera Hati”.
Mereka lupa bahwa citra diri itu dibangun dari dalam, bukan dari luar. Demikian pula, hukum kepemimpinan menegaskan bahwa, menjadi pemimpin itu adalah sebuah proses panjang atau tidak dadakan, Sri Bintang Pamungkas bercanda, suksesi kepemimpinan Orde Baru di Era bapak Suharto berkuasa selama 23 tahun karena sebuah persyaratan yang mengharuskan calon seorang presiden adalah memiliki pengalaman menjadi presiden. Kepercayaan terbangun mulai dari lingkungan sekitarnya, pemilih percaya dulu kepada calon pemimpinnya baru percaya kepada visi, misi dan program kerja yang ditawarkannya, sentuhlah dulu baru minta tolong, bukan sebaliknya minta tolong dipilih padahal belum pernah menyentuh atau berbuat kebaikan dengan tulus ikhlas kepada mereka. Dipandang ramah wajahmu, ditepuk bahumu, dicium pipi kanan dan kirimu, serta dipeluk punggungmu. Belum tentu, itu teman baik dan pendukungmu.
Mengantisipasi, agar pemilih cerdas tidak memilih pemimpinnya ibarat memilih kucing dalam karung, maka pihak penyelenggara pemilu (KPU) dan pihak pengawas pemilu (Panwaslu) telah membuat aturan dan mekanisme penyelenggaraan pilkada bermutu agar melahirkan kepala daerah yang kuat lagi terpercaya sebagaimana diisyaratkan Allah SWT dalam firmanNya, “Sesungguhnya orang yang paling baik engkau tugaskan menjadi pemimpin adalah yang kuat lagi terpercaya” (QS. Al-Qashash:26)
Kepada para pemilih, Rasulullah Saw menasehati melalui sabdanya; “Siapa yang mengangkat seorang untuk satu jabatan yang berkaitan dengan urusan masyarakat, sedangkan dia mengetahui ada calon pemimpin lain yang lebih tepat dari yang dipilihnya, sesungguhnya ia telah mengkhianati Allah, Rasul, dan kaum Muslim”. Dan pemimpin adalah cermin masyarakatnya atau pemilihnya, Sabda Rasul, “Bagaimana keadaan kalian, demikian pula ditetapkan pemimpin atas kalian”, M. Quraish Shihab (1994).
 Apapun hasil pilkada nantinya, menang atau kalah, bersikaplah secara cerdas dan arif bijaksana. Ingatlah firman Allah SWT dalam Al-Qur’an, “Katakanlah (Muhammad). Wahai Tuhan pemilik kekuasaan. Engkau berikan kekuasaan kepada siapapun yang engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapapun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapapun yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan siapapun yang Engkau kehendaki. Ditangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”, QS. Al-Imran:26.
Dilain ayat Allah SWT mengingatkan “Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui, (QS. Al-Baqarah:216) (Penulis, Dosen FKIP Untan).

 

Aswandi

Penghobi membaca dan menulis ini lahir di Tebas Sungai pada 13 Mei 1958 dan memiliki motto hidup "Mencapai Muttaqiiin melalui Iman, ilmu dan amal". Pria yang menikahi Rusnawaty ini dikaruniai tiga anak.

Aswandi lahir dari pasangan Asy’ari (almarhum) dan Fatimah (almarhumah). Dosen FKIP Universitas Tanjungpura (PNS) itu tinggal di Jalan Danau Sentarum, Gang Pak Madjid 3/18 Pontianak.

Jenjang pendidikan dilalui Aswandi dengan menamatkan Madrasah Ibtidaiyah di Tebas Sungai (1971), MTs Gerpemi di Tebas (1974), SPG Negeri di Singkawang (1977), S1 FKIP Untan Pontianak (1984), S2 IKIP Malang (1993) dan S3 Universitas Negeri Malang (2001).

Karier pekerjaan Aswandi diawali dengan menjadi Guru SDN di Pontianak 1978-1986. Kemudian guru SMP-PGRI, Dosen FKIP UNTAN, Dosen Universitas Muhammadiyah Pontianak, Dosen STKIP PGRI Pontianak, Dekan FAI Universitas Muhammadiyah Pontianak, Pembantu Dekan I FKIP UNTAN, Dekan FKIP UNTAN kini Wakil Rektor Bidang Akademik Untan 2015-2019